Komika Pandji Pragiwaksono kembali menjadi perbincangan publik setelah mengunggah stand up comedy show terbarunya berjudul Mens Rea. Sejumlah potongan video dari pertunjukan tersebut viral di media sosial karena menyinggung isu-isu sensitif, terutama politik dan figur publik.
Cuplikan singkat yang tersebar luas itu menuai beragam respons. Ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang mengkritik dan mempertanyakan isi materi yang disampaikan.
Pengamat media Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nur Maghfirah Aesthetika MMedKom, menilai viralnya Mens Rea tidak bisa dilepaskan dari karakter pertunjukan stand up comedy itu sendiri.
Pertunjukan dengan Skenario Matang
“Pandji itu membuat sebuah show. Artinya, ada skenario dan alur yang sudah dirancang sejak awal dengan berbagai topik,” jelasnya.
Dosen yang akrab disapa Fira itu menegaskan bahwa Mens Rea adalah sebuah pertunjukan, bukan pernyataan spontan tanpa perencanaan. Dalam dunia seni pertunjukan, materi yang disampaikan di atas panggung telah melalui proses kurasi dan penyusunan narasi.
“Kalau kita bicara soal show, itu pasti direncanakan. Ada alurnya, ada skenarionya. Jadi apa yang disampaikan di panggung belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” terangnya.
Ia mengingatkan publik agar berhati-hati menyikapi potongan video yang beredar di media sosial tanpa memahami konteks utuh pertunjukan. Menurutnya, cuplikan berdurasi singkat tidak cukup untuk menangkap pesan keseluruhan.
“Ketika dipotong-potong, kita tidak tahu konteksnya apa. Padahal dari awal sampai akhir itu satu rangkaian cerita,” ujarnya.
Viral dan Pembentukan Opini Publik
Dalam stand up comedy, lanjut Fira, teknik roasting merupakan strategi yang lazim digunakan. Tema politik dan isu sensitif pun kerap dipilih karena efektif memancing reaksi audiens.
Ia menilai kekuatan Pandji terletak pada kemampuan public speaking dan penguasaan panggung, sehingga materi yang dibawakan mampu menggiring emosi penonton dan memunculkan beragam interpretasi.
Potongan Mens Rea yang beredar di media sosial, menurutnya, berpotensi membentuk opini publik yang liar. Format audio-visual membuat pesan lebih mudah diterima, tetapi juga rentan disalahartikan.
“Opini itu bebas. Tapi ketika opini dibangun dari potongan yang tidak utuh, maka arah pemahamannya juga bisa keliru,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konten semacam ini sangat mudah menguatkan bias audiens. Terlebih bagi mereka yang sejak awal sudah memiliki kecenderungan tertentu terhadap isu atau tokoh yang dibahas.
“Kalau dari awal sudah tidak suka, lalu melihat konten yang menguatkan, orang akan semakin yakin. Tapi bagi yang memahami cara kerja media, tidak akan mudah terbawa arus,” jelas dosen lulusan S2 Unair itu.
Dalam konteks tersebut, Fira menyebut stand up comedy kerap menjadi “jalan aman” untuk menyampaikan kritik karena berlindung pada label hiburan dan opini personal.
Penggunaan frasa seperti “menurut keyakinan saya” yang kerap diucapkan Pandji, dinilainya sebagai bentuk pengamanan agar materi sulit disentuh secara hukum.
Antara Ekspresi Seni dan Bisnis Konten
Selain sebagai ekspresi seni, Fira melihat Mens Rea juga tidak bisa dilepaskan dari logika bisnis konten. Isu yang sedang hangat di masyarakat kerap dimanfaatkan untuk menarik perhatian publik.
“Konten yang ramai pasti menghasilkan cuan. Tiket mahal tetap laku, media sosial ramai, dan efeknya berlipat,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa konten pertunjukan tidak selalu dapat dijadikan dasar pelaporan hukum karena bersifat skenario dan opini. Hal ini berbeda dengan pernyataan langsung dalam konteks wawancara atau percakapan tanpa naskah.
Menghadapi derasnya potongan video di media sosial, Fira menekankan pentingnya menjadi netizen cerdas. Ia mendorong masyarakat untuk melakukan cross-check dan tidak menelan informasi mentah-mentah.
“Kalau melihat potongan, cari versi panjangnya. Bandingkan dari berbagai sumber. Jangan langsung percaya hanya karena kontennya viral,” pesan Kaprodi S2 Ilmu Komunikasi Umsida itu.
Ia juga mengingatkan bahwa teknik editing, musik, hingga efek visual dapat memengaruhi makna sebuah pesan.
“Tidak semua yang kita lihat di layar itu kebenaran. Itu yang harus disadari pengguna media sosial hari ini,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments