Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengamat UMM: Konflik AS Israel Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Pengamat UMM: Konflik AS Israel Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Indonesia
Pengamat UMM: Konflik AS Israel Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Indonesia, Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara.

Rivalitas Eksistensial Israel–Iran

Pakar hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int., Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa hubungan Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental.

Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap sebagai ancaman utama terhadap eksistensi negara.

“Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya pada 2 Maret kepada Tim Humas UMM.

Dion menilai, konflik ini bersifat struktural dan tidak mudah diselesaikan hanya melalui kesepakatan jangka pendek.

Kebuntuan Nuklir dan Peran Donald Trump

Eskalasi terbaru, lanjut Dion, dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi.

Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan.

“Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya.

Namun demikian, Dion mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada Perang Dunia Ketiga.

“Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya.

Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Global

Situasi dinilai semakin berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan ditutup. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia.

Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga negara berkembang, termasuk Indonesia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion.

Ia menjelaskan, terganggunya arus distribusi energi internasional dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan bakar dan kebutuhan pokok di Indonesia.

“Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Kritik terhadap Tawaran Mediasi Indonesia

Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung.

“Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya.

Ia juga menyoroti posisi diplomatik Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Dion menilai kredibilitas forum perdamaian harus diukur dari konsistensi tindakan para anggotanya.

“Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional.

“Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.

Dampak Nyata bagi Indonesia

Konflik di Timur Tengah bukan hanya isu regional, tetapi berpotensi membawa implikasi langsung bagi perekonomian nasional. Lonjakan harga energi, inflasi, hingga tekanan terhadap kebijakan luar negeri Indonesia menjadi risiko yang perlu diantisipasi sejak dini.

Pengamat menilai, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi ekonomi serta strategi diplomasi yang terukur agar dampak konflik global tidak semakin membebani masyarakat.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu