PWMU.CO – Materi pertama dalam kegiatan Kemah Tamu Penghela Hizbul Wathan Dewan Kerabat KH Ahmad Dahlan Qabilah SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng Banyuwangi pada Jumat (1/8/2025) merupakan materi yang cukup menegangkan, terutama bagi para murid yang baru mengenalnya.
Materi tersebut meliputi rappelling, yaitu teknik menuruni ketinggian menggunakan tali kernmantle (sering disebut karmantel), serta teknik menaklukkan ular ketika berada dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk menghindar.
Kegiatan Kemah Tamu Penghela sebagai bentuk pengkaderan dari siswa SMP ke jenjang SMA ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Jumat-Sabtu (1-2/8/2025), bertempat di halaman sekolah. Pada hari pertama, kegiatan dimulai setelah upacara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Kepala SMA Muha Genteng, Drs Suharyono.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar berjamaah. Sambil menunggu waktu shalat, diisi dengan kegiatan Kuliah Tujuh Menit (kultum) yang disampaikan oleh peserta Kemah Tamu Penghela dari kelas X. Para peserta yang menyampaikan kultum telah dipersiapkan sejak jauh hari sebelum kegiatan, dan dipanggil secara acak oleh kakak kelas XI dan XII selaku panitia yunior.
Usai melaksanakan shalat Ashar berjamaah, peserta Kemah Tamu Penghela dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menuju lapangan basket, sementara kelompok kedua diarahkan ke halaman utama sekolah, lalu bergantian mengikuti kegiatan.
Di lapangan basket, kegiatan dipandu langsung oleh Guru seni SMP Muhi Genteng yang juga dikenal sebagai pecinta reptil, Imam Taufik SSn. Dalam sesi tersebut, Imam Taufik, yang akrab disapa Oklek, membawa dua jenis reptil, yaitu ular dan iguana, untuk diperkenalkan kepada para peserta.
“Pada dasarnya, setiap hewan memiliki naluri untuk disayangi. Jika disakiti, tentu saja ia akan memberontak. Salah satu ular yang saya bawa ini, jika kalian sentuh dengan kasih sayang, dia tidak akan memberontak,” ujar Oklek sambil menyodorkan ular kepada peserta kemah.
Beberapa peserta tampak histeris, bahkan ada yang berlari sambil berteriak karena merasa geli.
Ia juga menjelaskan bahwa saat berada di alam liar dan bertemu dengan ular, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghindar atau menghalau dengan tenang. Namun, jika berada dalam posisi terpojok, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan. Hal itu disampaikan Oklek sambil mempraktikkan cara-cara penanganannya di hadapan para peserta.
Di tempat terpisah, salah satu guru dari SMK Muhammadiyah 8 (SMK Models) Siliragung, Banyuwangi, Dadang memberikan materi tentang teknik memasang dan menggunakan tali saat menuruni ketinggian.
“Setelah ini, kita akan praktik turun satu per satu dari gedung lantai tiga,” jelas Dadang. Pernyataan tersebut disambut dengan teriakan para peserta kemah, yang tampak ragu dan cemas menghadapi tantangan tersebut.

Setelah mendapatkan penjelasan lengkap mengenai trik dan teknik rappelling, para peserta akhirnya mempraktikkannya secara langsung dengan bimbingan dari tim pendamping yang telah disiapkan.
Meski sempat diliputi rasa gugup dan keringat dingin, para peserta berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Keberhasilan ini turut mengurangi ketegangan bagi peserta berikutnya.
Dua jam berlalu, rangkaian kegiatan pengenalan reptil dan rappelling pun berakhir. Raut wajah para peserta tampak riang dan puas setelah mendapat pengalaman baru yang belum pernah mereka praktikkan sebelumnya. Selanjutnya, seluruh peserta kembali ke tenda masing-masing untuk bersiap mandi dan melaksanakan shalat Magrib. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments