Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penguasa, Lihat Akhir Tragis Al-Hajjaj!

Iklan Landscape Smamda
Penguasa, Lihat Akhir Tragis Al-Hajjaj!
pwmu.co -
Penguasa, Lihat Akhir Tragis Al-Hajjaj!

Penguasa, Lihat Akhir Tragis Al-Hajjaj! Oleh M. Anwar Djaelani, peminat masalah sosial-kemasyarakatan

PWMU.CO – Penguasa tak amanah, terlebih yang zalim, hidupnya selalu berakhir tragis. Cara meninggal mereka banyak yang mengenaskan dan jejaknya menjadi rasan-rasan sepanjang masa. Contoh tentang ini sangat banyak, termasuk Fir’aun. Sementara, Hajjaj–yang biografinya diungkap di buku ini—adalah contoh yang lain.

Setelah mukadimah, buku menyajikan 15 bab. Cukup menyeluruh membahas Hajjaj, Sang Penguasa Otoriter. Dimulai dari Bab 1 “Bani Tsaqif: Antara Pendusta dan Pembantai” sampai Bab 15 “Akhir Hayat Al-Hajjaj dan Keluarganya”.

Sepak terjang Hajjaj merupakan salah satu bagian dari jejak Daulah Umawiyah. Daulah yang beribukota di Damaskus ini dimulai bersamaan dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin. Pendirinya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Sistim pemerintahannya monarki, kerajaaan (h.23).

Keputusan menerapkan monarki ditolak oleh banyak kalangan. Sistem itu dianggap bid’ah karena menetapkan penerus kekhalifahan berdasarkan warisan. Di antara yang menolak adalah Husein bin Ali (cucu Rasulullah SAW) dan Abdullah bin Zubair (cucu Abu Bakar RA). Keduanya berpendapat agar melanjutkan sistim pemerintahan sebelumnya, yaitu berdasarkan pemilihan dan baiat dari kaum Muslimin.

Dalam perkembangannya, Husein bin Ali gugur demi mempertahankan sistem syura dalam pemerintahan Islam (h.57). Sementara, setelah syahidnya Husein, Abdullah bin Zubair mengumumkan pemberontakannya kepada Yazid (pelanjut Muawiyah).

Abdullah bin Zubair menyebut dirinya sebagai khalifah umat Islam yang berkedudukan di Mekkah dan telah dibaiat oleh mayoritas wilayah Islam (h.75). Siapa Abdullah bin Zubair? Ayah dia adalah Zubair bin Awwam RA, sahabat dekat Nabi SAW. Sementara, ibunya adalah Asma binti Abu Bakar.

Waktu berjalan, Daulah Umawiyah kemudian dipimpin Abdul Malik bin Marwan. Sebagai khalifah, di antara masalah yang dihadapinya adalah meredakan banyak situasi politik yang panas termasuk yang terkait dengan posisi Abdullah bin Zubair.

Abdul Malik bin Marwan kemudian mengajak Hajjaj untuk bergabung dalam pasukannya. Hajjaj diangkat sebagai salah satu komandan senior militer. Dia diberi berbagai peran, termasuk untuk merebut kembali wilayah Irak dari Abdullah bin Zubair.

Tersebab Sadis

Siapa Hajjaj? Nama asli al-Hajjaj bin Yusuf adalah Kulaib. Dia lahir pada tahun 41 H. Gelar al-Hajjaj didapatnya karena dia banyak mematahkan tulang-tulang (h.2-3). Selanjutnya, nama yang justru populer adalah al-Hajjaj itu. Tentu, dari predikat yang lalu menjadi nama beken seseoarang, kita sudah bisa membayangkan seperti apa sosoknya.

Hajjaj berasal dari kabilah Tsaqif, yang lalu dinisbahkan kepada namanya. Jadilah, al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Adapun kabilah Tsaqif tinggal di Thaif, sebuah kota di wilayah Hijaz yang mempunyai posisi strategis yang berkaitan dengan Islam dan Rasulullah Saw (h.5).

Hajjaj itu kontroversial. Sisi positifnya, Hajjaj dikenal pandai berbahasa dan jago berpidato. Dia hafal Al-Qur’an dan sering mengulang-ulang bacaannya, terutama di malam hari. Sementara, sisi buruknya, dia kejam. Pernah dia berpidato, “Demi Allah, jika aku menyuruh manusia keluar dari pintu masjid kemudian mereka keluar dari pintu lain maka bagiku darah dan harta mereka telah halal”.

Hajjaj dan Abdullah bin Zubair

Dipimpin Hajjaj, dikepunglah Kota Mekkah selama enam bulan dengan dalih menstabilkan keamanan di wilayah Daulah Umawiyah (h.25). Praktis, terjadi blokade yang lama terhadap Abdullah bin Zubair di Ka’bah (h.92).

Di tengah suasana itu, Hajjaj menyerang dengan menggunakan manjaniq (bola api) secara bertubi-tubi. Pada puncaknya, Abdullah bin Zubair–yang saat itu sudah berusia 73 tahun—ditimpa batu bata tepat di kepalanya. Darah melumuri wajahnya. Abdullah bin Zubair pingsan dan itu dimanfaatkan pasukan Hajjaj untuk membunuhnya.

Jasad Abdullah bin Zubair diserahkan kepada Hajjaj, sang komandan. Atas hal itu, Hajjaj bersukacita dan bersujud karenanya (h.105).

Sebagai penghargaan untuk keberhasilannya, khalifah melimpahkan kekuasaan di Mekkah dan Madinah kepada Hajjaj. Belakangan, Hajjaj diangkat menjadi gubernur Irak (h.123-125).

Judul buku: Hajjaj bin Yusuf; Algojo Bani Umayyah
Penulis: Manshur Abdul Hakim
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta
Tebal: xii + 463 halaman
Cetakan: Agustus 2021

Hajjaj dan Al-Asy’ats

Atas performanya yang buruk, perlawanan bukan tidak ada. Salah satunya, dilancarkan oleh Ibnu Asy’ats. Beliau, awalnya adalah salah seorang komandan terkemuka Hajjaj. Ibnu Asy’ats didukung oleh sejumlah ulama-seperti Sa’id bin Jubair dan Asy-Sya’bi-serta orang-orang baik karena mereka melihat kezaliman dan kesewenang-wenangan Hajjaj (h.242).

Hajjaj tak mudah mengalahkan Al-Asy’ats. Perlu waktu lama (yaitu tiga tahun), prosesnya berliku (kalah dan menang silih berganti), bahkan Hajjaj sendiri pernah hampir terbunuh (h.254).

Pada akhirnya, Al-Asy’ats ditangkap bersama 30 kerabatnya. Mereka diborgol di Al-Ashfad dan dikirimkan kepada Hajjaj. Di perjalanan, di Ar-Rajh, terjadi insiden dan Al-Asy’ats meninggal.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kepala Al-Asy’ats dipotong dan dikirim ke Hajjaj. Atas hal tersebut, Hajjaj lalu perintahkan agar kepala itu diarak di Irak. Selesai itu, kepala tersebut dikirim kepada Khalifah Abdul Malik di Syam dan di sana pun diarak. Kemudian, dikirim Mesir. “Sungguh jauhlah tempat antara kepala dengan jasadnya/ Kepala di Mesir dan jasadnya di Ar-Rajh”/, tulis seorang penyair (h.273).

Hajjaj dan Sa’id bin Jubair

Sa’id bin Jubair seorang ulama Tabi’in. Dia berjumpa dengan banyak Sahabat Rasulullah Saw dan meriwayatkan hadits dari mereka. Abdullah bin Abbas Ra adalah salah satu sahabatnya. Sa’id salah seorang pakar tafsir dan fiqih (h.287). Seperti yang telah disebut sebelumnya, Sa’id bin Jubair ada di pihak Al-Asy’ats yang melawan Hajjaj.

Singkat kisah, setelah diwarnai proses yang tak mudah, Hajjaj akhirnya bisa menangkap Sa’id bin Jubair. Terjadilah dialog dramatis.

“Celakalah kamu,” kata Hajjaj.

“Celakalah orang yang dijauhkan dari surga dan dimasukkan ke dalam neraka,” tukas Sa’id.

“Tebaslah batang lehernya,” seru Hajjaj (h.288).

Sa’id bin Jubair pun wafat, setelah sebelumnya sempat berdoa. “Yaa Allah, janganlah Engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorangpun setelah aku,” pinta Sa’id (h.447). Benar, Sa’id memohon agar Allah tidak membiarkan Hajjaj membunuh seorangpun setelah dirinya (h.450).

Kejadian pembantaian tersebut didengar oleh Hasan Bashri. Beliau seorang ulama Tabi’in terkemuka. “Yaa Allah, wahai Dzat Yang Maha Membinasakan orang-orang yang sewenang-wenang, hancurkanlah Hajjaj,” demikian doa Hasan Bashri.

Tidak lebih dari tiga hari setelah peristiwa sadis itu, lambung Hajjaj dipenuhi belatung hingga menimbulkan aroma yang tidak sedap dan Hajjaj pun meninggal. Demikian, kata Ibnu Katsir (h.288).

Riwayat lain menyebut, bahwa setelah pembantaian Sa’id itu, sebelum meninggal Hajjaj mengalami gangguan jiwa. Hajjaj berkata, “Borgol kami, borgol kami!” Atas hal itu, orang-orang berkeyakinan bahwa itu pengaruh (psikis) dari apa yang Hajjaj perbuat sebelumnya. Perbuatan sadisnya kepada Sa’id, dilakukan saat Sa’id terikat dengan borgol (h.297).

Hal yang pasti, siapapun bisa ingat, bahwa Hajjaj meninggal tak lama setelah membunuh Sa’id. Artinya, sebagaimana doa Sa’id, Hajjaj tercatat memang tak punya kesempatan membunuh orang lagi.

Siapa Belajar

Jejak kehidupan Hajjaj yang dominan kelam, disesali banyak orang. Umar bin Abdul Aziz, salah satunya. Khalifah Rasyidah dari Bani Umayyah itu sangat membenci perbuatan Hajjaj yang sangat zalim dan meninggal pada 95 H (ada yang berpendapat pada 94 H).

Tentang hal di atas, Umar bin Abdul Aziz mengatakan, bahwa “Seandainya kejahatan yang dilakukan orang-orang dari umat ini dikumpulkan lalu dibandingkan dengan kejahatan Hajjaj, maka dosa Hajjaj tentu lebih berat daripada dosa mereka” (h.456).

Kematian Hajjaj ditunggu-tunggu orang. Lihatlah doa Hasan Bashri yang telah disebut di atas, yang berharap agar Hajjaj segera hancur dan binasa.

Ketika kematian Hajjaj benar-benar terjadi, hal itu melegakan bahkan menggembirakan banyak orang. Orang-orang senang mendengar kabar kematian Hajjaj. Umar bin Abdul Aziz bersujud syukur. Sementara, Hasan Basri dan Ibrahim An-Nakha’i sampai menangis karena bahagia (h.450).

Sejarah selalu berulang. Semoga kisah Hajjaj bisa menjadi cermin bagi siapapun, terutama bagi yang berposisi sebagai penguasa. Jangan menjadi Hajjaj-Hajjaj baru yang zalim, yang kematiannya diharapkan masyarakat. Adapun saat benar-benar meninggal, hal itu disyukuri banyak orang.

Alhasil, meski di buku ini terdapat sedikit kekurangan, kehadirannya tetap bermanfaat sebagai sumber pembelajaran bagi siapapun. Adapun sejumput kekurangan itu, misalnya, terdapat sejumlah pengulangan informasi yang bisa melelahkan saat membacanya. Salah satunya, soal akhir hidup Sa’id bin Jubair. Potongan kisahnya ada di h.288 dan ada di h.297. Pun, ada di h.447 dan h.450.

Terakhir, juga tak ada indeks. Andai ada, buku ini akan makin bagus. Semoga, semua kekurangan bisa diperbaiki di edisi cetak ulang, insyaallah! (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu