Amal saleh bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter seorang santri.
Di lingkungan pesantren, kegiatan seperti kerja bakti, gotong royong membersihkan lingkungan, membangun fasilitas, hingga membantu sesama dikenal sebagai amal saleh.
Aktivitas ini tidak hanya melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kehidupan nyata—tentang bagaimana hidup bermasyarakat dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Setiap santri tentu memiliki pengalaman tersendiri dalam kegiatan amal saleh di pondok. Di balik keringat yang menetes, tersimpan nilai-nilai luhur: keikhlasan, kesabaran, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Inilah inti pendidikan pesantren—bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga mengasah ketangguhan mental dan kekuatan moral.
Musibah yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo menjadi cerminan nyata dari makna tersebut. Bangunan mushalla yang roboh mungkin bisa disebut sebagai kegagalan konstruksi, namun ketegaran para santri adalah keberhasilan besar dalam pendidikan karakter.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak para santri seperti Yusuf, Haikal, Ahmad, dan Rosi tetap tegar menghadapi ujian berat itu.
Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan menerima takdir dengan lapang dada—sebuah sikap yang tidak mungkin lahir tanpa tempaan spiritual yang mendalam.
Seorang simpatisan yang hadir di lokasi berkata dengan penuh haru: “Jika pondok ini dibuka lagi, insya Allah anak saya akan saya pindahkan ke sini, karena saya salut dengan ketabahan santrinya. Mungkin kiai bisa dibilang gagal membangun gedung musholla, tapi beliau berhasil membangun karakter yang kuat bagi santrinya.”
Pernyataan sederhana itu menyiratkan makna mendalam: bangunan fisik bisa runtuh, tetapi bangunan jiwa tidak akan roboh bila dibangun dengan amal shalih dan keikhlasan.
Islam sendiri menegaskan bahwa amal shalih adalah fondasi kehidupan yang bernilai di sisi Allah. Dalam Al-Qur’an, AllahSWT berfirman:
“Barang siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl: 97)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)
Kekuatan yang dimaksud bukan semata kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan iman, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian.
Peristiwa di Al Khoziny Buduran menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: pendidikan sejati bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun manusia.
Amal saleh yang diajarkan di pesantren telah melahirkan generasi yang tidak mudah goyah oleh musibah. Generasi tangguh yang siap bangkit kembali dari keterpurukan.
Bangunan bisa dibangun ulang. Tetapi keteguhan jiwa, itulah hasil pendidikan yang tak dapat runtuh.
Allahu a‘lam bish-shawab. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments