Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penjual Bakso di Serambi Masjid, Sambil Jualan Bisa Tetap Shalat Berjamaah

Iklan Landscape Smamda
Penjual Bakso di Serambi Masjid, Sambil Jualan Bisa Tetap Shalat Berjamaah
pwmu.co -
Fathurrahim Syuhadi

PWMU.CO – Siang itu matahari begitu terik, seakan menyengat kulit dengan panasnya yang menyala. Waktu dhuhur telah tiba saat saya sedang melakukan perjalanan dakwah. Di tengah perjalanan, saya memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat dan menunaikan shalat dhuhur di sebuah masjid pinggiran jalan. Masjid itu tampak teduh dan bersih, dengan halaman yang luas dan rindang di beberapa sisinya.

Selepas shalat, saya duduk di serambi masjid. Angin siang bertiup pelan, membawa aroma khas siang hari dan suara kendaraan yang melintas dari kejauhan. Beberapa musafir lain juga tampak singgah, menunaikan shalat lalu beristirahat sejenak.

Masjid ini seolah menjadi oase di tengah perjalanan panjang. Ramai namun tenang. Semua orang tampak membawa lelah masing-masing, dan masjid ini menyambut dengan teduhnya.

Tak berselang lama, datanglah seorang penjual bakso memakai sepeda motor butunya. Namanya Ahmad, pria berperawakan kurus, berkeringat, namun wajahnya tampak ceria. Ia berasal dari Malang, dan ternyata ia sudah biasa berjualan di masjid-masjid seperti ini. Saat ia berhenti, sontak beberapa orang yang baru saja selesai shalat langsung menghampiri. Dalam sekejap, antrean pembeli pun terbentuk.

Saya memperhatikan mangkuk-mangkuk bakso yang disajikan. Isinya sederhana namun menggoda selera : bakso kenyal, gorengan renyah, mie kuning, sawi, dan kecambah. Aroma kuah kaldu mengepul naik, memikat siapa saja yang menghirupnya. Inilah bakso khas Malang yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga menghadirkan rasa hangat di tengah perjalanan.

Setelah antrean agak longgar, saya ikut memesan. Harganya pun sangat terjangkau—sepuluh ribu rupiah per mangkuk. Sambil menunggu pesanan diracik, saya ajak Ahmad berbincang. Ia bercerita dengan ramah, tampak senang diajak ngobrol.

Rupanya, Ahmad memiliki strategi unik dalam berdagang. Ia menjajakan bakso dengan mengikuti waktu shalat. Sejak pagi hingga malam, ia berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Sebelum waktu dhuhur, ia sudah tiba di masjid A. Usai dhuhur, ia pindah ke masjid B, lalu ke masjid C menjelang ashar, dan seterusnya hingga malam hari. Ahmad menyebut pola ini sebagai “berdagang mengikuti azan”.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Ada rasa tenang kalau jualan dekat masjid, Mas,” ujarnya. “Sambil jualan, bisa tetap shalat berjamaah. Rezekinya juga alhamdulillah cukup.”

Saya terdiam sejenak mendengar ceritanya. Di balik kesederhanaan hidupnya, ada kebijaksanaan yang jarang saya temui. Ia tidak hanya berjualan, tapi juga menjaga ibadah dan menghadirkan kebermanfaatan di tempat suci.

Bakso Ahmad bukan sekadar makanan. Ia menjadi jembatan pertemuan antar musafir, tempat berbagi rasa lapar dan lelah, sekaligus pengingat bahwa kerja keras dan ibadah bisa berjalan seiring. Siang itu, saya tak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga hati saya penuh—dengan pelajaran dari serambi masjid dan sepiring bakso hangat.

Penulis Fathurrahim Syuhadi Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu