Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

People Pleaser

Iklan Landscape Smamda
People Pleaser
pwmu.co -
Oleh Asri Dyah SPengajar di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Tulangan dan Pimpinan Ranting Aisyiyah Kemantren-Tulangan

PWMU.CO – Terinspirasi dari salah satu topik pada akun Instagram Psikologi Indonesia, saya menemukan tema yang sangat relate (terkait) dengan kehidupan sehari-hari, yaitu People Pleaser. Beberapa hari sebelum melihat topik tersebut, saya mengalami peristiwa yang cukup menyadarkan. Situasi itu membuat saya terdorong untuk menggali lebih jauh tentang istilah ini. Terutama tentang siapa yang disebut sebagai pelaku dari perilaku pleasing

People pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki kecenderungan kuat untuk menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan kebutuhan dan keinginannya sendiri. Dalam pikirannya, seolah ada dorongan terus-menerus untuk berkata “ya”, untuk membantu, mengiyakan, dan membuat orang lain merasa puas — walaupun hatinya sendiri sebenarnya keberatan atau bahkan menolak.

Pada dasarnya, membantu sesama merupakan hal yang sangat baik. Bahkan tentu saja tidak ada yang salah ketika kita menolong orang lain, terutama dalam situasi darurat atau ketika memang kita punya kapasitas. Namun, hal ini berbeda dalam konteks seorang people pleaser. Mereka cenderung tidak membedakan mana situasi yang darurat atau tidak. Apapun keadaannya, jika ada yang meminta tolong, mereka akan mengusahakan sebisanya — bahkan kalau harus mengorbankan waktu, tenaga, hingga kesehatan mental sendiri.

Salah satu dorongan terbesar seorang people pleaser adalah ketakutan untuk ditolak atau dikritik. Mereka sangat takut dicap sebagai orang yang tidak baik, egois, atau tidak peduli. Ketakutan inilah yang membuat mereka sulit mengatakan “tidak”, dan selalu berusaha menjaga hubungan sosialnya tetap ‘baik’ — meski harus memendam rasa terpaksa atau kelelahan yang berlebih.

Selain itu, banyak people pleaser tumbuh dengan rasa rendah diri. Mereka merasa tidak cukup berharga jika tidak mendapat validasi dari orang lain. Dalam kondisi seperti ini, mereka sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh orang lain — baik di lingkungan pertemanan, pekerjaan, maupun keluarga. Mereka menjadi umpan empati. Selalu siap siaga menyenangkan siapa pun yang membutuhkan, meskipun tak pernah benar-benar dihargai.

Dampak dari people pleaser

Kecenderungan ini berdampak pada berbagai sisi kehidupan. Misalnya, dalam relasi sosial, hubungan yang terjalin cenderung tidak sehat karena si pleaser tidak mampu menetapkan batasan. Mereka menghindari konflik, tidak ingin menyakiti perasaan siapapun dan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain — bahkan jika itu berarti mengabaikan kebahagiaannya sendiri.

Dampak lebih lanjut, perilaku people pleaser dapat menyebabkan stres, kecemasan, burnout, depresi, bahkan krisis harga diri. Dalam dunia kerja, mereka sering dimanfaatkan tanpa mendapat apresiasi sepadan. Beban kerja menumpuk karena selalu mengiyakan permintaan rekan atau atasan. Akibatnya, urusan pribadi terbengkalai dan kesehatan mental terganggu.

Padahal menjadi pribadi yang membantu orang lain bukan hal yang buruk, selama melakukannya dengan cara yang sehat. Kita harus mampu menetapkan batas: sejauh mana kita bisa membantu, dan kapan saatnya mengatakan “tidak”. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengurus urusan orang lain sampai melupakan kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri. Kita pun berhak untuk bahagia, dihargai, dan merasa cukup — tanpa harus selalu menyenangkan semua orang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Cara mengatasi kecenderungan people pleasing

Pertama, pentingnya untuk mengenali diri sendiri. Sediakan waktu untuk memahami kebutuhan dan keinginan pribadi. Momen sebelum tidur bisa digunakan untuk refleksi — menanyakan pada diri sendiri: “Apakah hari ini aku melakukan sesuatu karena keinginanku, atau hanya untuk menyenangkan orang lain?”

Kedua, belajar berkata “tidak” dengan tegas dan sopan. Ini bukan hal mudah, terutama jika sudah terbiasa mengiyakan semua permintaan. Namun dengan latihan dan keberanian, hal ini akan terasa lebih ringan seiring waktu. Reaksi orang mungkin tak selalu positif, tetapi kita tidak bertanggung jawab atas perasaan orang lain sepanjang kita menyampaikannya dengan cara yang baik.

Ketiga, membangun batasan yang sehat. Tetapkan mana yang menjadi prioritas dan mana yang bukan. Komunikasikan batasan ini secara asertif (bukan agresif), sehingga orang lain memahami dan menghargai posisi kita. Asertif berarti menyampaikan dengan jelas, tanpa menyakiti, namun juga tanpa mengorbankan diri sendiri.

Meski pun menjadi pribadi yang ramah, ringan tangan, dan peduli tetaplah sesuatu yang mulia. Namun itu semua tidak boleh membuat kita lupa bahwa diri kita juga penting. Jika kita ingin menjadi orang yang bermanfaat, maka kita harus menjadi seseorang yang sehat secara utuh — baik fisik, psikis, maupun emosional.

Jangan biarkan keinginan menyenangkan orang lain menjadi jebakan yang justru menjauhkan kita dari kebahagiaan sejati. Mulailah belajar mengatakan “ya” untuk diri sendiri.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu