
Oleh Liset Ayuni – Sekretaris Umum PW IPM Jawa Timur
PWMU.CO – Salah satu peran penting Sekolah Muhammadiyah adalah membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter dan sekaligus siap menjadi kader Persyarikatan Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai organisasi kesiswaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Lembaga Pendidikan Muhammadiyah harus memposisikan dan diposisikan sebagai mitra strategis dalam penguatan pendidikan karakter dan kepemimpinan pelajar.
IPM bukanlah organisasi pelajar biasa, utamanya di sekolah Muhammadiyah. IPM yang merupakan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, sebagaimana dalam Anggaran Dasar IPM Pasal 3, adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar di kalangan pelajar. Karena itu, jika IPM dapat tumbuh sehat di sekolah, maka pengakaran gerakan kaderisasi dan dakwah di kalangan pelajar Muhammadiyah sedang berjalan dengan lancar.
Patut kita apresiasi dengan adanya sejumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah yang sadar dan peduli dengan keberadaan IPM tersebut. Para pengampuh sekolah yang sadar dan paham aan arti penting keberadaan IPM di lembaga yang di pimpinnya, secara sadar melibatkan dan mendukung IPM dalam berbagai kegiatan di sekolah tersebut. Tidak mengherankan jika IPM pun dinamis dengan berbagai kegiatan, misalnya: seminar, pelatihan, bahkan sampai dilakukan pengukuhan dan pengakuan IPM sebagai branding sekolah.
Di sekolah ini, suasana kehidupan IPM mampu membuat siswa bergerak dinamis, sekolah pun tampak aktif dalam berbagai kegiatan. Dan semangat berMuhammadiyah sangat bisa dirasakan.
Namun tidak terpungkiri pula, bahwa sampai saat ini juga masih cukup banyak sekolah Muhammadiyah yang masih belum memahami arti penting keberadaan IPM di sekolah tersebut. Mereka tidak saja tidak memahami arti penting IPM sebagai mitra strategis, namun IPM justru diposisikan sebagai beban bagi sekolah. Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus IPM justru diperlakukan sebagai pihak luar. Aktivitas IPM yang hendak memanfaatkan fasilitas ruang pertemuan (aula) sekolah harus membayar uang sewa, peminjaman peralatan sekolah untuk kegiatan IPM harus melalui prosedur yang berbelit dan ribet. Mereka ini memahami bahwa IPM merupakan organisasi nirlaba karena tidak berorientasi pada provit material. Tapi lebih fokus pada kaderisasi dan dakwah di kalangan pelajar.
Akibat dari kurangnya kesadaran dalam memahami dan menerima kehadiran IPM di sekolah, terasa sekali keberadaan kader IPM bagai “orang asing” di rumahnya sendiri. Mereka menghadapi kesulitan dalam berproses menjadi kader, kehilangan semangat dan motivasi, hingga pada akhirnya berubah menjadi pelajar pasif. Padahal jika di renungi sebenarnya di balik berbagai kegiatan IPM yang sederhana itu, terkandung pelatihan kepemimpinan yang serius. Kader IPM lebih terbentuk akan menampakkan kualitas diri. Kader-kader IPM itu akan terlihat potensi inisiatif, tanggung jawab, kerjasama, etiket, attitude, etika hingga public speaking-nya.
Lahirnya kader-kader potensial dari IPM, secara tidak langsung justru mengharumkan nama sekolah itu sendiri. Sebaliknya, ketika IPM tidak tumbuh sehat juga akan berdampak pada menurunnya dinamika kehidupan pelajar di sekolah tersebut. Sekolah tidak memiliki karakter pelajar yang bisa menjadi role model. Tidak ada lagi gerakan kolektif positif yang biasa mengisi ruang sosial siswa. Bahkan, dalam jangka panjang sekolah pun tidak memiliki alumni yang militan untuk mendukung dakwah Muhammadiyah dan mensupport kemajuan sekolah.
Khususnya pada sekolah yang kurang peduli dengan keberadaan IPM perlu menjadi perhatian khusus. Melihat potensi besar sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur yang berdasarkan Dapodikmu per Agustus 2023, total jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai SD hingga SMA/SMK mencapai 1.034 lembaga. Lembaga yang masih tampak apatis dengan keberadaan IPM, harus menyadari bahwa IPM merupakan bagian integral dari sistem pendidikan karakter.
Visi Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PWM Jawa Timur sangat jelas: “Terwujudnya sistem pendidikan Muhammadiyah yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing nasional dan internasional.” Dan salah satu misinya adalah penguatan organisasi pelajar seperti IPM. Jadi, tidak berlebihan jika sinergitas IPM dan sekolah harus diperkuat dan ditingkatkan, bukan justru dipisahkan.
Harus di pahami, IPM memang belum mewujud menjadi organisasi yang sempurna tanpa kekurangan. Bisa di maklumi, sebagai pelajar yang masih terus berproses dalam belajar, ada kalanya program kerjanya belum matang. Kader-kader remaja ini masih belajar tentang makna tanggung jawab.
Di sinilah peran sekolah menjadi sangat dibutuhkan. Sekolah harus hadir sebagai pendamping, pelindung, dan pemberi ruang tumbuh. Ketika sekolah bersedia menjadi rumah pendidikan dan pengembangan kader, yakinlah IPM pasti akan menjadi kebun subur yang menumbuhkan kader-kader terbaik untuk Muhammadiyah dan Indonesia.
Setiap sekolah Muhammadiyah harus menjadikan IPM sebagai bagian dari misi persyarikatan. Sebagai bagian dari strategi pendidikan karakter dan kaderisasi yang berkelanjutan, sekolah harus bergandeng tangan dengan IPM. Bersama IPM, akan terwujud pelajar yang bertumbuh dengan baik, dan bermanfaat untuk masa depan Persyarikatan. (*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments