Ki Bagus Hadikusumo dikenal sebagai sosok yang membantu mengubah sila pertama Pancasila menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Keputusan ini bukan sekadar kompromi tetapi juga merupakan strategi kebangsaan untuk menjaga persatuan Indonesia yang beragam.
Ketua Umum PP Muhammadiyah pada masa awal, KH Mas Mansur, juga aktif terlibat dalam beragam kegiatan kebangsaan dan pemerintahan di awal republik. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Muhammadiyah tidak hanya menekankan penyebaran agama tetapi juga berkontribusi dalam membangun dasar negara.
Pancasila dan Negara sebagai “Darul Ahdi wa Syahadah”
Salah satu ide penting yang dikemukakan oleh Muhammadiyah untuk Indonesia adalah konsep mengenai Indonesia sebagai “Darul Ahdi wa Syahadah” (negara yang dibentuk dari perjanjian dan kesaksian). Ide ini menegaskan bahwa Indonesia adalah hasil kesepakatan semua kelompok dalam bangsa dan harus dijaga bersama-sama.
Ahmad Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa pancasila berfungsi sebagai kesepakatan yang ideal bagi masyarakat Indonesia yang beraneka ragam.
Ia tidak bertentangan dengan Islam, malah berperan sebagai saluran untuk menerapkan nilai tauhid dalam aspek kenegaraan.
Din Syamsuddin menyatakan, “Muhammadiyah tidak berambisi untuk berkuasa, tetapi mengawasi agar kekuasaan tetap sesuai dengan konstitusi dan keadilan.”
Pernyataan ini menunjukkan dengan jelas posisi ideologis Muhammadiyah: setia pada Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sikap Netral Aktif di Tengah Arena Politik
Di zaman demokrasi setelah reformasi, ketika politik semakin terbuka dan penuh tantangan, Muhammadiyah tetap memelihara sikap netral aktif.
Netral berarti tidak terlibat dalam dukungan untuk pilihan politik tertentu. Aktif berarti menunjukkan kehadiran dengan memberikan pendapat, kritik, dan saran terhadap kebijakan pemerintah.
Di tengah meningkatnya korupsi, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi masyarakat yang terus mendukung penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi. Saat demokrasi mengalami kemunduran akibat regulasi yang kontroversial, Muhammadiyah juga mengeluarkan kritik.
Ketika ancaman radikalisme muncul dan dapat merusak persatuan negara, Muhammadiyah tampil dengan sangat jelas dalam mempertahankan Islam yang tidak ekstrem. Keteguhan ini menjadikan Muhammadiyah sebagai panduan moral dalam kehidupan berbangsa.





0 Tanggapan
Empty Comments