Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perbanyak Zikir di Waktu Lapang agar Ditolong Allah Saat Susah

Iklan Landscape Smamda
Perbanyak Zikir di Waktu Lapang agar Ditolong Allah Saat Susah
Foto: Freepik
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari berbangkit.” (QS. As-Saffat: 143–144)

Ayat ini mengingatkan kita pada kisah agung Nabi Yunus as. Saat itu beliau berada dalam keadaan yang sangat sulit: di dalam perut ikan besar, di tengah lautan yang gelap, di malam yang pekat. Tiga lapis kegelapan menyelimuti beliau—gelapnya malam, gelapnya lautan, dan gelapnya perut ikan.

Namun Allah menolong Nabi Yunus as. Mengapa? Karena beliau termasuk hamba yang banyak berzikir. Sejak dahulu, saat hidup dalam kelapangan dan kebahagiaan, Nabi Yunus selalu mengingat Allah. Beliau terbiasa memuji-Nya, bertasbih kepada-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Maka ketika musibah datang, doa beliau cepat sampai kepada Allah. Zikir yang dahulu beliau lakukan di waktu lapang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah di waktu sempit.

Kehidupan kita pun sering memberi pelajaran serupa. Ada orang yang ketika hidupnya nyaman—pekerjaan lancar, usaha berkembang, keluarga sehat—ia jarang mengingat Allah. Salat sering ditunda, Al-Qur’an jarang dibaca, zikir hampir tidak terdengar dari lisannya. Namun ketika ujian datang, barulah ia tersadar dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Padahal, kedekatan dengan Allah tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibangun dari kebiasaan yang terus menerus. Mengingat Allah dengan memperbanyak zikir di waktu lapang maupun susah.

Bayangkan seorang petani yang ingin panen. Ia tidak bisa menanam benih hari ini lalu berharap panen esok hari. Ia harus menanam, menyiram, merawat, dan bersabar.

Begitulah zikir kepada Allah. Ia adalah “benih spiritual” yang kita tanam setiap hari. Kelak, ketika badai kehidupan datang, benih itulah yang menjadi pohon tempat kita berteduh.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering melihat contoh yang sederhana. Ada seseorang yang setiap pagi membiasakan diri membaca Al-Qur’an walau hanya beberapa ayat.

Ia juga meluangkan waktu untuk salat malam meskipun hanya dua rakaat. Mungkin bagi orang lain itu terlihat kecil. Namun kebiasaan kecil itu membangun hubungan yang kuat dengan Allah.

Ketika suatu hari ia menghadapi ujian berat—misalnya kehilangan pekerjaan, sakit, atau kesulitan ekonomi—hatinya tidak mudah goyah. Ia tetap tenang karena hatinya sudah terbiasa dekat dengan Allah.

Sebaliknya, orang yang jarang berzikir sering merasa gelisah saat menghadapi masalah. Hatinya mudah panik karena sebelumnya ia tidak membangun “jalur kedekatan” dengan Allah. Untuk itu, bukan hanya saat sempit, zikir di waktu lapang juga sangat dianjurkan.

Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam segala keadaan. Zikir tidak harus selalu dalam majelis besar. Ia bisa dilakukan di mana saja—di perjalanan, di sela pekerjaan, atau saat menunggu sesuatu. Zikir di waktu lapang dan sempit bisa dilakukan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Lisan yang terbiasa mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan Astaghfirullah akan membuat hati menjadi lembut dan dekat dengan Allah.

Dalam kisah Nabi Yunus as, Allah juga mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat agung. Doa itu adalah tasbih Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan:

La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minaz-zhalimin.

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini bukan sekadar permohonan, tetapi juga pengakuan. Nabi Yunus mengakui kebesaran Allah dan mengakui kelemahan dirinya. Inilah salah satu rahasia terkabulnya doa: kerendahan hati di hadapan Allah.

Mari kita jadikan sisa hari-hari di bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk memperbanyak zikir. Bukan hanya memperbanyak ibadah saat susah, tetapi juga saat lapang. Jangan menunggu datangnya ujian untuk mendekat kepada Allah.

Biasakan hati kita hidup dengan zikir. Zikir di waktu lapang sangat dianjurkan. Biasakan lisan kita memuji Allah. Biasakan diri kita membaca Al-Qur’an dan bangun di malam hari untuk bermunajat kepada-Nya.

Dengan demikian, ketika suatu saat kita menghadapi kesulitan hidup, kita sudah memiliki “tabungan spiritual” yang akan menguatkan hati dan membuka pintu pertolongan Allah.

Di pekan-pekan terakhir Ramadan ini, mari kita berdoa semoga kita dan seluruh keluarga kita tetap berada dalam keimanan yang benar, dalam ketakwaan kepada Allah, serta tidak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan beragama Islam dan dalam hati yang selalu takut kepada-Nya. Perbanyak zikir di waktu lapang.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang banyak berzikir, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu