Sahabatku, jangan pernah melemah dalam beramal kebaikan, meskipun terasa kecil dan sederhana.
Jangan menunggu mampu berbuat besar, karena sering kali Allah menilai keikhlasan, bukan ukuran perbuatan. Justru amal-amal kecil yang dilakukan terus-menerus itulah yang kelak menyelamatkan kita.
Bayangkan seorang ayah yang setiap pagi berangkat bekerja. Di tengah kelelahan, ia tetap memilih mencari nafkah dengan cara halal, menolak jalan pintas yang curang meski peluang terbuka lebar.
Mungkin tak ada yang memujinya, bahkan keluarganya belum tentu mengetahui pergulatan batinnya.
Namun di sisi Allah, setiap tetes keringat itu tercatat sebagai amal kebaikan yang memperberat timbangan.
Sesungguhnya setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, akan menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk (dosa) yang pernah kita lakukan. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Ilustrasi lain dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu yang dengan sabar merawat orang tuanya yang renta—membersihkan, menyuapi, dan menemani di kala sakit—mungkin merasa lelah dan tak jarang air mata jatuh tanpa disadari.
Namun kesabaran itu bukanlah hal sepele. Setiap helaan napasnya adalah amal, setiap kesabarannya adalah pahala.
Rasulullah saw bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa bahkan ekspresi wajah yang menenangkan, kata yang lembut kepada pasangan, atau sapaan ramah kepada tetangga, semuanya bernilai ibadah. Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dicatat oleh Allah.
Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, seringan apa pun, akan memperberat timbangan pada Yaumul Mizan, hari penimbangan amal.
Hari itu digambarkan sebagai hari yang sangat menentukan, ketika seseorang menyesal bukan karena kurang harta, tetapi karena menyia-nyiakan waktu dan kesempatan berbuat baik.
Allah Wa Ta‘ala berfirman: “Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri.” (QS. Al-A‘raf: 8–9)
Ilustrasi lainnya, seorang pemuda yang di tengah godaan gawai dan hiburan, memilih bangun lebih awal untuk shalat Subuh berjamaah. Tidak ada kamera, tidak ada sorotan. Namun langkah kakinya menuju masjid adalah bukti iman yang kelak menjadi pemberat timbangan.
Rasulullah saw bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selagi Allah Subhanahu Wa Ta‘ala masih memberi kita umur, kesehatan, dan kesempatan, jangan tunda amal kebaikan. Dunia ini hanyalah tempat bekerja, sementara akhirat adalah tempat menerima hasilnya.
Allah SWT mengingatkan: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Mari kita isi kehidupan ini dengan amal nyata: jujur dalam bekerja, amanah dalam tugas, sabar dalam ujian, serta ringan tangan membantu sesama. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik, karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta‘ala mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, menguatkan hati kita untuk istiqamah dalam kebaikan, dan memperberat timbangan amal kita kelak di Yaumul Mizan, sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments