Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perempuan Muhammadiyah Menjadi Pilar Peradaban

Iklan Landscape Smamda
Perempuan Muhammadiyah Menjadi Pilar Peradaban
Oleh : Nur Inayati Sekretaris Pimpinan Cabang 'Aisyiyah Laren Lamongan
pwmu.co -

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, memiliki rekam jejak sejarah yang panjang dalam mengartikulasikan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Dalam perspektif Muhammadiyah, perempuan tidak sekadar dipandang sebagai pelengkap atau pendamping pria, melainkan sebagai pilar utama—subjek otonom—yang memiliki tanggung jawab setara dalam membangun dan menggerakkan roda organisasi demi kemaslahatan umat.

Sejak awal berdirinya, Kiai Haji Ahmad Dahlan melalui pembentukan ‘Aisyiyah pada tahun 1917, telah meletakkan fondasi bahwa perempuan harus terdidik dan memiliki ruang publik.

Jika kita menilik sejarah, peran perempuan Muhammadiyah telah melampaui batas-batas domestik.

Mereka merambah sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial dengan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan misi Muhammadiyah.

Mereka bukan hanya saksi sejarah, melainkan aktor intelektual yang menjadi guru di madrasah, tenaga medis di balai kesehatan, hingga aktivis yang vokal menyuarakan hak-hak kaum marjinal.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa misi tajdid (pembaruan) Muhammadiyah tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan aktif kaum perempuan.

Kemandirian dan Hak Individu

Dalam konteks modern, penting untuk menegaskan kembali bahwa perempuan Muhammadiyah adalah individu yang memiliki hak dan kewajiban moral yang mandiri.

Kemandirian ini bukan berarti melepaskan kodrat, melainkan mengoptimalkan potensi akal dan spiritualitas.

Mereka adalah representasi dari sosok yang berdaya, mampu mengambil keputusan strategis, dan berpartisipasi aktif dalam diskursus pembangunan nasional.

Transformasi sosial yang diusung Muhammadiyah sangat bergantung pada sejauh mana perempuan diberikan akses untuk memimpin dan berinovasi.

Saat ini, spektrum kegiatan perempuan Muhammadiyah semakin meluas dan berdampak nyata.

Mobilitas sosial mereka tercermin dalam berbagai lini kehidupan, antara lain:

  1. Transformasi Intelektual: Menjadi akademisi, dosen, dan peneliti di berbagai universitas yang mencetak generasi emas bangsa.
  2. Filantropi dan Sosial: Terjun langsung dalam pemberdayaan masyarakat bawah melalui program ekonomi produktif dan advokasi sosial.
  3. Kemanusiaan: Menjadi garda terdepan sebagai relawan dalam penanggulangan bencana alam, menunjukkan sisi ketangguhan dan empati yang luar biasa.
  4. Pengembangan Kapasitas: Aktif dalam seminar dan pelatihan internasional untuk memperluas cakrawala berpikir dan jaringan global.
  5. Kemandirian Ekonomi: Menjadi wirausaha yang tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi sesama.
Landasan Teologis: Kesetaraan di Hadapan Allah

Prinsip kesetaraan ini berakar kuat pada nilai-nilai profetik.

Laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, benar, sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan, dan banyak mengingat Allah, semuanya dijanjikan ampunan serta pahala yang besar tanpa pembedaan gender.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ahzab [33]:35:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنْتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصّٰئِمِيْنَ وَالصّٰئِمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالْذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Ayat ini adalah hujjah (argumentasi) kuat bahwa dalam timbangan ketakwaan, yang dinilai adalah kualitas amal saleh dan integritas pribadi, bukan jenis kelamin.

Inspirasi perempuan Muhammadiyah juga bersumber pada figur Siti Khadijah r.a.

Beliau adalah prototipe perempuan tangguh: seorang pebisnis sukses, pendukung moral utama perjuangan Nabi, serta simbol kecerdasan dan kekuatan mental.

Semangat inilah yang diserap oleh perempuan Muhammadiyah untuk tetap teguh menghadapi tantangan zaman, berani mengambil risiko, dan menjadi teladan bagi generasi muda (milenial dan Gen Z) bahwa sukses adalah hak setiap individu yang bekerja keras dengan tekad baja.

Sinergi untuk Masa Depan

Membangun masyarakat yang adil dan sejahtera memerlukan keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan Muhammadiyah adalah energi penggerak yang memastikan nilai-nilai Islam berkemajuan tetap relevan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita terus mendukung, menghargai, dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk terus berkarya.

Dengan sinergi yang harmonis, kita dapat mewujudkan tatanan sosial yang berkeadilan, bermartabat, dan penuh berkah bagi seluruh alam.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu