SD Muhammadiyah 1 Driyorejo (SD Mudri) memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah dengan cara berbeda dan penuh kreativitas. Kegiatan yang digelar di Masjid Nur Hidayah, kompleks sekolah, pada Jumat (16/1/2026) ini menghadirkan dongeng edukatif yang dibawakan oleh Kak Fatin bersama tokoh pendampingnya, Fatan.
Melalui pendekatan cerita, peringatan Isra’ Mi’raj kali ini terasa lebih hidup, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh para siswa. Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas 1 dan 2, guru, serta tenaga kependidikan SD Muhammadiyah 1 Driyorejo.
Sejak awal acara, suasana masjid tampak semarak. Dengan mengenakan dresscode Arabian style, anak-anak terlihat antusias menyimak kisah yang disampaikan Kak Fatin. Cerita sejarah Isra’ Mi’raj dikemas dengan bahasa sederhana, ekspresif, dan interaktif. Kehadiran tokoh Fatan semakin menambah daya tarik sehingga siswa lebih fokus dan terlibat dalam alur cerita.
Kak Fatin, yang memiliki nama lengkap Min Nuthfatin Nadilifah, mulai mendongeng pada pukul 08.30–10.00 WIB. Boneka Fatan yang telah menemaninya bercerita ke berbagai tempat sejak 2023 sukses mencuri perhatian siswa. Kepiawaian Kak Fatin dalam mengubah intonasi dan warna suara membuat anak-anak terkesima.
Dalam dongeng tersebut, Kak Fatin menyampaikan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, mulai dari makna peristiwa, hikmah yang dapat diambil, hingga pentingnya melaksanakan salat lima waktu. Pesan-pesan keislaman disampaikan secara ringan tanpa mengurangi nilai keteladanan sehingga mudah diterima oleh siswa sekolah dasar.
“Nabi Muhammad SAW yang sedang mengalami kesedihan didatangi Malaikat Jibril yang diutus Allah SWT untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Sebelumnya, Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW ke dekat Al-Hijr untuk membersihkan dan menyucikan hatinya dengan air zamzam. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang disebut Isra’. Di sana beliau melaksanakan salat dua rakaat, kemudian naik ke Sidratul Muntaha atau Mi’raj hingga langit ketujuh dan bertemu para nabi di setiap tingkatan langit,” tuturnya dengan gaya suara yang khas.
Dalam dialog imajiner antara Kak Fatin dan Fatan, ia juga menjelaskan perintah Allah SWT tentang salat. “Dari perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu yang sebelumnya berjumlah 50 kali dan kemudian diringankan menjadi lima waktu. Anjuran bersedekah disampaikan oleh Nabi Adam di langit pertama, sedangkan ajaran berbuat baik ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Allah SWT juga memperlihatkan surga dan neraka,” jelasnya.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Driyorejo, Teguh Abdillah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Menurutnya, metode dongeng menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai agama dan sejarah Islam sejak dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mendengar ceramah, tetapi juga merasakan dan memahami kisah Isra’ Mi’raj dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.
Para guru pun mengapresiasi kegiatan tersebut karena mampu meningkatkan minat siswa dalam memahami sejarah Islam. Ketua Panitia Peringatan Isra’ Mi’raj SD Mudri, Annisah Puspita Sari, S.Pd., menyampaikan bahwa metode bercerita membuat siswa lebih aktif dan tidak mudah bosan.
“Tema kegiatan kali ini adalah Through Prayer We Grow Strong, Through Sharing We Become Helpful,” imbuhnya.
Antusiasme siswa terlihat ketika mereka berani menjawab pertanyaan dan berinteraksi langsung dengan Kak Fatin dan Fatan. “Anak-anak yang masih gemar bermain ternyata mampu memahami materi yang disampaikan. Hal itu terlihat dari kuis yang diberikan, mereka berebut dan sangat antusias untuk menjawab,” ujar Kak Fatin saat dihubungi PWMU.CO, Rabu (21/1/2026).
Melalui peringatan Isra’ Mi’raj 1447 H ini, SD Muhammadiyah 1 Driyorejo berharap dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap sejarah Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan dongeng ini menjadi bukti bahwa pembelajaran agama dapat dikemas secara kreatif, edukatif, dan tetap sarat makna. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments