Di balik sorot mata teduh dan senyum lembutnya, tersimpan kisah perjuangan yang sarat makna. Nurul Abida Fauzia, mahasiswi baru Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), bukan hanya sekadar mahasiswa biasa.
Di usianya yang masih belia, Abida telah menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an—sebuah pencapaian luar biasa yang mengantarkannya meraih beasiswa penuh hingga bisa menempuh pendidikan tinggi secara gratis.
Abida lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Mochammad Safii, dulu bekerja membantu memandikan jenazah di rumah sakit.
Namun, sebuah kecelakaan pada Mei lalu membuat sang ayah tak lagi mampu melanjutkan pekerjaan itu. Sejak saat itu, roda kehidupan keluarga berubah. Bersama istrinya, Surati, sang ayah berusaha menghidupi keluarga dengan berjualan bumbu pecel di rumah.
“Beasiswa ini benar-benar meringankan keluarga saya. Saya punya dua adik yang masih sekolah, jadi saya sangat bersyukur bisa kuliah gratis di UMSurabaya,” ucap Abida dengan mata berkaca-kaca.
Keterbatasan ekonomi tak pernah menyurutkan langkahnya. Justru, dari kesederhanaan itulah lahir tekad yang begitu kuat untuk terus berprestasi, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam menjaga kalam Allah di hatinya.
Menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang singkat bagi Abida. Semuanya berawal sejak ia duduk di bangku kelas 4 SD.
Awalnya, dia hanya mengikuti kegiatan pesantren tanpa beban. Namun, titik balik terjadi saat ia berada di kelas 3 SMP. Saat itu, ia melihat salah seorang kakak kelas berhasil menyelesaikan hafalan. Pemandangan tersebut menyalakan bara semangat di dalam dirinya.
“Sejak saat itu, tekad saya bulat. Saya ingin membuat orang tua bangga, dan yang lebih penting, bisa menghadiahkan mahkota di akhirat untuk mereka,” kenang Abida.
Namun, jalan itu penuh liku. Tantangan terbesar bukan hanya soal ayat-ayat yang sulit menempel di kepala, tetapi juga rasa futur—perasaan lemah semangat yang kerap datang menghampiri. Apalagi, saat itu ia harus menjalani proses menghafal jauh dari kedua orang tua.
“Rasanya benar-benar berat. Saya tipe yang sulit menghafal, jadi butuh usaha berulang-ulang. Tapi saya terus berusaha sabar dan istiqomah,” katanya.
Tujuh tahun penuh perjuangan akhirnya berbuah manis. Hafalan 30 juz Al-Qur’an pun tuntas, meninggalkan jejak kesabaran, air mata, dan doa panjang dalam setiap langkahnya.
Kini, Abida melangkah ke babak baru: menjadi mahasiswi Psikologi di UMSurabaya. Keputusannya memilih kampus ini bukan semata karena kualitas akademik dan basis nilai Islam yang kuat, tetapi juga lantaran restu dari kedua orang tuanya.
Meski perkuliahan baru dimulai, Abida sudah memikirkan bagaimana menjaga hafalan di tengah padatnya aktivitas kuliah. Baginya, kunci ada pada komitmen untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari.
“Saya selalu ingat kata-kata, ‘luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, jangan menunggu waktu luang’. Quotenya sederhana, tapi ngena banget buat saya,” ujar Abida sambil tersenyum.
Abida bercita-cita menjadi seorang psikolog profesional yang mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. Namun, ia menegaskan, profesi apapun yang kelak dijalaninya tidak boleh menjauhkan dirinya dari Al-Qur’an.
“Ilmu yang saya pelajari nanti harus bermanfaat, tapi saya juga ingin terus menjaga hafalan ini. Karena itu amanah besar,” katanya mantap.
Kepada anak-anak muda lain yang bercita-cita menjadi hafidz dan hafidzah, Abida menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna.
“Nikmati saja prosesnya. Menghafal itu memang tidak mudah, karena hadiahnya surga. Jangan terburu-buru. Bukan soal siapa paling cepat banyak hafalan, tapi siapa yang paling kuat menjaganya,” tandasnya.
Kisah Nurul Abida Fauzia adalah potret nyata bagaimana kesungguhan, doa, dan keteguhan hati bisa mengubah jalan hidup seseorang.
Dari keluarga sederhana, ia menembus keterbatasan dengan hafalan Al-Qur’an, hingga meraih kesempatan kuliah gratis di UM Surabaya.
Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, Abida menghadirkan teladan: bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dijaga, diamalkan, dan menjadi cahaya yang menerangi langkah-langkah kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments