Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perjalanan Ojan, Mahasiswa UMS yang Menjadi Pebisnis Tangguh

Iklan Landscape Smamda
Perjalanan Ojan, Mahasiswa UMS yang Menjadi Pebisnis Tangguh
Ahmad Fauzan Tirmidzi, alias Ojan, di showcase miliknya. Foto: UMS
pwmu.co -

Di sudut kos sederhana di Laweyan, Surakarta, terdengar suara mesin sablon berpadu dengan tawa anak muda yang sibuk melipat pakaian.

Dari ruang kerja kecil itu, lahirlah ratusan kaos, kemeja flanel, dan celana dengan label Kubik Society—brand fesyen lokal yang mulai dikenal anak muda Indonesia, bahkan menembus pasar luar negeri.

Pemiliknya, Ahmad Fauzan Tirmidzi, atau akrab disapa Ojan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berbelok sejauh ini.

Sejak kecil, dia tumbuh sebagai atlet bulutangkis. Piala demi piala berjejer rapi di rumahnya di Madiun, menjadi bukti bahwa masa remaja Ojan dipenuhi keringat di lapangan. Namun pandemi COVID-19 2020 mengubah jalan hidupnya.

“Olahraga berhenti total, uang saku juga seret. Waktu itu saya benar-benar bingung harus apa,” kenang mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Dalam situasi itulah, Ojan mencoba peruntungan di dunia bisnis. Bermodalkan Rp900 ribu, ia mulai berjualan sebagai reseller produk fesyen di marketplace seperti Shopee. Awalnya hanya sekadar coba-coba, tapi sedikit demi sedikit keuntungan terkumpul.

“Awalnya cuma jualin produk orang lain. Tapi setelah merasakan hasil, saya berpikir kenapa tidak bikin produk sendiri?” ujarnya beberaa waktu lalu.

Dari ide itulah, pada 2021 lahir Kubik Society. Nama ini ia pilih bukan sembarangan: Kubik adalah lambang pertumbuhan pangkat tiga dalam matematika.

Sedangkan Society merepresentasikan komunitas anak muda yang ia tuju. Filosofi itu menjadi visi: fesyen tidak sekadar barang pakai, tapi ruang identitas generasi muda.

***

Produk-produk awal Kubik Society lahir dari kreativitas Ojan mengikuti tren streetwear. Ia memproduksi kaus, tas, hingga kemeja flanel yang kini menjadi ciri khas brand-nya.

Media sosial, terutama TikTok, menjadi senjata ampuh. Beberapa konten menembus FYP, mendatangkan pesanan dari berbagai kota.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Latar belakang keluarganya jauh dari dunia bisnis. Ayahnya seorang PNS, ibunya ibu rumah tangga.

Sejak kecil, Ojan dididik disiplin dan diarahkan untuk bercita-cita menjadi tentara. Maka ketika ia memilih berjualan, keputusan itu dianggap nekat.

“Setahun pertama orang tua sama sekali tidak mendukung. Saya jualan diam-diam. Baru setelah ada hasil, mereka mulai percaya,” kata Ojan lirih.

Selain restu orang tua, ujian lain menimpa Ojan saat ia terjerat masalah bisnis. Ia pernah ditipu rekan kerja lewat sistem PayLater hingga menanggung utang Rp 35 juta.

Perjalanan Ojan, Mahasiswa UMS yang Menjadi Pebisnis Tangguh

“Waktu itu saya benar-benar kelimpungan. Akhirnya saya cicil sedikit demi sedikit dari hasil usaha, ditambah bantuan kakak ipar,” kisahnya.

Masalah sumber daya manusia juga kerap datang. Beberapa kali ia harus memutus kerja sama dengan karyawan karena persoalan kepercayaan.

“Dulu saya terlalu sungkan menegur. Sekarang belajar lebih tegas. Alhamdulillah sekarang aman,” ujarnya.

***

Kini, Kubik Society sudah lebih stabil dengan tiga karyawan tetap: bagian sablon, afiliasi, dan desainer grafis profesional.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Pada Agustus 2025, Kubik Society mencatat omzet Rp92 juta. Setiap Ramadan, penjualan bahkan mencapai puncak hingga Rp24 juta sebulan.

Kubik Society juga mulai menembus pasar internasional lewat program ekspor Shopee. Produknya sudah dibeli konsumen dari Malaysia, Thailand, hingga Jepang.

“Pernah ada orang Jepang beli, padahal ongkir lebih mahal dari harga produk. Itu jadi kebanggaan tersendiri,” ungkapnya.

Selain marketplace, Ojan aktif menggarap media sosial. TikTok dengan 17 ribu pengikut jadi kanal utama, disusul Instagram. Meski sempat kehilangan akun dengan 12 ribu pengikut karena masalah teknis autentifikasi dua faktor, ia tidak menyerah membangun ulang.

Strategi pemasarannya juga kreatif. Ia berkolaborasi dengan brand lain, beriklan, hingga membuka pop-up store di kafe-kafe. Salah satu yang sukses adalah acara tiga hari di Swanirwana Coffee & Grilled Chicken Madiun, yang mendatangkan omzet Rp 3 juta.

Inovasi menjadi kunci keberlanjutan. Berkat dana Rp 20 juta dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), Ojan bersama timnya mengembangkan kaos berbahan aloe vera yang antibakteri dan antibau. Produk ini sudah teruji di laboratorium.

“Saya coba tiga hari dipakai, tetap tidak bau,” ujarnya.

Produk itu mengantarkannya ke berbagai ajang kompetisi. Ojan meraih Juara 3 stand terbaik di Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) 2024 di Kendari, Juara 3 inovasi produk dan Harapan 1 stand terunik di Dahlan Muda Expo, UAD Yogyakarta, Mahasiswa berprestasi UMS bidang wirausaha dengan omzet terbanyak tahun 2024.

Tak hanya berkompetisi, Ojan kini sering diundang sebagai narasumber di kampus-kampus, termasuk Politeknik Elektronika Surabaya dan Universitas Brawijaya.

Dia berbagi pengalaman membangun usaha sejak nol. Menurutnya, tantangan terbesar anak muda dalam berbisnis bukan pada modal, melainkan pada manajemen waktu dan konsistensi.

“Banyak teman gagal bukan karena dana, tapi karena kalah oleh rasa malas,” tegasnya.

Keresahan itu ia tuangkan ke dalam tulisan. Bersama dosennya, Candra Kusuma Wardana, S.E., M.B.A., Ojan kini menyiapkan buku “9 Langkah Sukses Bisnis di Usia Muda” sebagai panduan bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha.

Bagi Ojan, bisnis bukan sekadar mengejar omzet. Lebih dari itu, bisnis adalah sarana berkarya dan memberi manfaat.

“Target saya sederhana, Kubik Society bisa jadi brand fesyen yang dikenal luas. Dari situ, semoga bisa membuka lapangan kerja bagi orang-orang di sekitar saya,” pungkasnya.Penulis: Genis Dwi Gustati. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu