Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perjuangan Guru 3T di Tengah Keterbatasan

Iklan Landscape Smamda
Perjuangan Guru 3T di Tengah Keterbatasan
Perjuangan Guru 3T di Tengah Keterbatasan, Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Tantangan dan perjuangan guru yang mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menuntut ketangguhan serta kreativitas guru dalam menyiasati keterbatasan sarana, akses internet, hingga listrik yang belum stabil.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, para pendidik tetap menghadirkan pembelajaran bermakna bagi peserta didik.

Seiring dengan dukungan pemerintah melalui penguatan sarana dan teknologi pembelajaran, proses belajar mengajar di daerah terpencil pun mulai menunjukkan perkembangan positif.

Pemerintah Perkuat Pendidikan di Wilayah 3T

Upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan di wilayah 3T terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Melalui kebijakan strategis serta fasilitasi pembelajaran, pemerintah memastikan para guru tetap memiliki ruang untuk berinovasi meskipun berada dalam kondisi terbatas.

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional menempatkan guru sebagai aktor utama pembangunan sumber daya manusia.

“Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemerataan akses, tetapi juga pada penguatan kapasitas profesional guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang responsif terhadap tantangan zaman,” ujar Dirjen Nunuk.

Pengabdian Lima Tahun di Wilayah 3T

Semangat tersebut tercermin dari pengalaman Muhammad Fathul Arifin yang selama lima tahun mengajar di wilayah 3T.

Sejak 2020, ia mengabdikan diri di SMA Swasta Bina Ilmu, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Pada Januari 2026, Fathul dipindahtugaskan ke SMK Negeri 2 Buntok setelah resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Saya sudah mengajar lima tahun sejak 2020 di sekolah wilayah 3T. Januari 2026 saya dipindah karena diangkat menjadi PPPK,” ungkapnya dalam keterangan yang disampaikan Kamis (19/2/2026).

Keterbatasan Sarana dan Listrik

Selama bertugas, Fathul menghadapi berbagai kendala, mulai dari sarana prasarana yang terbatas hingga akses internet dan listrik yang belum stabil.

“Sarana dan prasarana kurang memadai serta keterbatasan internet dan listrik menjadi tantangan utama,” tuturnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berinovasi dalam pembelajaran.

“Saya mengajar menggunakan PowerPoint atau gim edukasi dengan proyektor yang dinyalakan memakai mesin penghasil tenaga listrik,” jelasnya.

Pendekatan Humanis dan Kreatif

Dalam praktiknya, Fathul menerapkan pendekatan humanis agar suasana kelas tetap nyaman dan interaktif.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Gunakan pendekatan dengan murid senyaman mungkin dan tetap kreatif walau sarana terbatas,” katanya.

Beberapa inovasi yang ia terapkan antara lain gim edukasi berbasis laptop, kegiatan ice breaking, diskusi santai, serta ruang tanya jawab yang lebih terbuka.

“Inovasi dilakukan melalui gim edukasi, ice breaking yang menyenangkan, serta diskusi agar kelas tetap hidup,” ujarnya.

Tak hanya menyampaikan materi, Fathul juga membangun pola pikir dan motivasi siswa melalui contoh nyata serta pengalaman pribadi.

“Saya menggunakan contoh riil dan pengalaman pribadi untuk membangun pola pikir siswa ke depan,” tuturnya.

Dukungan Teknologi dari Pemerintah

Perubahan signifikan mulai dirasakan ketika dukungan teknologi pembelajaran hadir di sekolahnya.

Bantuan Papan Interaktif Digital (PID), akses internet berbasis satelit, serta tenaga surya dari pemerintah membawa dampak positif terhadap proses belajar mengajar.

“Sejak ada Papan Interaktif Digital, internet satelit, dan tenaga surya, pembelajaran menjadi jauh lebih lancar, termasuk untuk asesmen, ulangan sumatif, dan praktik,” ungkap Fathul.

Penguatan infrastruktur tersebut dinilai mampu mempercepat transformasi pendidikan di wilayah 3T agar tidak tertinggal dibandingkan sekolah di perkotaan.

Harapan untuk Sekolah Terpencil

Kini, dengan penugasan barunya di SMKN 2 Buntok, Fathul membawa pengalaman berharga menghadapi tantangan di wilayah 3T sebagai bekal untuk terus berkontribusi meningkatkan mutu pendidikan.

Ia berharap perhatian terhadap sekolah-sekolah terpencil terus diperkuat agar kesenjangan pendidikan dapat ditekan.

“Harapan saya pemerintah terus memperhatikan sekolah di daerah terpencil dengan bantuan sarana yang memadai agar tidak tertinggal dari kota besar,” pungkasnya.

Melalui penguatan kebijakan dan dukungan nyata di lapangan, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa, termasuk di wilayah 3T.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu