Di sudut kota Ponorogo, setiap pagi, deru motor tua berwarna hijau pudar selalu terdengar meninggalkan sebuah rumah sederhana. Motor itu dikendarai Mohamad Arief Fatkhurrohman, seorang pengemudi ojek online (ojol).
Dengan jaket lusuh yang mulai memudar warnanya, dia mengarungi jalan demi jalan, dari pasar tradisional hingga perumahan baru. Dari motor inilah, keluarga kecilnya bertahan hidup sekaligus menggenggam mimpi besar.
Motor itu bukan sekadar kendaraan. Ia menjadi saksi bisu perjalanan Arief dalam mencari nafkah, mengantar anak-anak sekolah, hingga pulang larut malam membawa rezeki yang terkadang tak seberapa.
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan keyakinan yang tak pernah padam: bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik.
Dan keyakinan itu kini berbuah manis. Putri kedua Arief, Afani Naura Fatkhurrohman, baru saja dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Dokter Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Bagi keluarga sederhana ini, kabar itu seperti cahaya terang yang menembus awan gelap — hadiah terbesar dari doa-doa yang tak pernah putus.
“Yang jelas ini doa kami yang tembus di langit. Sangat membanggakan sekali, tidak pernah menyangka anak kami bisa sampai di titik ini,” ujar Arief dengan mata berbinar saat ditemui pada agenda Silaturahmi Orangtua/Wali Mahasiswa Baru UMY, Sabtu (20/9/2025).
Arief dan istrinya, Debby Humaira Permatasari, sadar benar bahwa hidup mereka serba terbatas. Penghasilan dari ojek online kadang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun ada satu hal yang tak pernah mereka kompromikan: pendidikan anak-anak.
Kami selalu bilang ke anak-anak, prioritas mereka saat ini adalah belajar. Karena ilmu itu kemuliaannya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat,” tutur Arief seperti dilansir laman resmi UMY.
Bagi pasangan ini, perjuangan mencari nafkah dan perjuangan menuntut ilmu adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Arief dan Debby berjuang keras di ranah ekonomi, sementara anak-anak mereka bertempur di medan pendidikan.
Afani, sejak kecil, menunjukkan kedisiplinan yang berbeda dari teman-teman sebayanya. Ia terbiasa belajar sebelum bermain, mengerjakan tugas rumah tanpa diminta, dan membatasi diri dari kecanduan gawai. Sikap mandiri ini kian meneguhkan cita-citanya: menjadi seorang dokter.
Ketika pengumuman diterima, suasana rumah keluarga Arief berubah menjadi lautan syukur. Mereka tahu betul betapa mahalnya biaya pendidikan kedokteran.
Kerabat dan tetangga pun ikut terkejut sekaligus bangga, menyaksikan gadis dari keluarga sederhana bisa menembus Fakultas Kedokteran UMY lewat jalur beasiswa.
“Kalau tidak panen sekarang, nanti pasti akan panen. Ilmu itu tidak pernah sia-sia. Mau dipakai bekerja atau tidak, akan membuat kita lebih mampu menghadapi persoalan hidup,” ujar Arief, seolah ingin menguatkan anak-anaknya agar terus berjalan di jalan panjang pendidikan.
Debby, sang ibu, tak kalah terharu. Ia mengingat kembali masa-masa sulit mendampingi anak-anak belajar dengan fasilitas seadanya. Baginya, keberhasilan Afani adalah hadiah atas kesabaran dan kerja keras bersama. “Kami hanya bisa bersyukur. Allah memberi jalan di waktu yang tepat,” ucapnya lirih.
Meski rasa syukur tak henti mengalir, Arief tetap menyelipkan pesan serius kepada putrinya. Ia berharap Afani menjaga semangat, belajar dengan tekun, dan kelak lulus tepat waktu.
Baginya, lebih dari sekadar gelar dokter, yang terpenting adalah menjadi pribadi berintegritas dan bermanfaat bagi orang lain.
“Kalau belajar itu, mahalnya dapat, ilmunya juga dapat. Jadi jangan pernah berhenti. Yang paling penting, apa pun profesinya nanti, anak-anak harus tetap berpegang pada nilai kejujuran dan kebermanfaatan,” pesannya.
Di balik suara knalpot motor tua yang setiap hari membelah jalanan Ponorogo, tersimpan kisah besar tentang mimpi, doa, dan kerja keras.
Kisah seorang ayah pengemudi ojek online yang tak pernah lelah mengantarkan anaknya menuju gerbang masa depan.
Kini, motor tua itu seakan punya cerita baru. Bukan lagi sekadar saksi perjuangan mencari nafkah, melainkan saksi perjalanan menuju terwujudnya cita-cita seorang dokter muda dari keluarga sederhana.





0 Tanggapan
Empty Comments