Sebanyak 29 siswa SMP Muhammadiyah 5 Surabaya (Spemma) mengikuti program studi overseas ke Tiongkok sebagai bagian dari penguatan pembelajaran internasional, Jumat (12/12/2025).
Program ini mencakup kegiatan pertukaran budaya, pengenalan teknologi luar negeri, serta pembelajaran mengenai diplomasi internasional yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan Farbig Education.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan siswa Spemma didampingi oleh guru pendamping, Miftakul Khoir, S.Pd., dan Syafiur Rohman, S.T.
Dalam kegiatan ini, rombongan siswa dan siswi Spemma bersiap berangkat dari hotel menuju salah satu universitas di Beijing untuk mengikuti agenda pembelajaran.
Sebelumnya, para siswa telah mempelajari budaya Tiongkok melalui kunjungan ke dua sekolah pada hari sebelumnya.
Setelah mengikuti kegiatan di universitas dan melaksanakan makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. Dalam perjalanan tersebut, salju mulai turun dan menambah suasana dingin di Kota Beijing.
Rombongan tiba di KBRI Beijing sekitar pukul 14.30 waktu setempat dan diterima oleh Atase Perdagangan KBRI Beijing, Budi Hansyah. Pada saat itu, Atase Pendidikan tidak berada di tempat sehingga penerimaan rombongan diwakili oleh Atase Perdagangan.
Setibanya di KBRI Beijing, kegiatan pertemuan dilanjutkan di ruang rapat. Budi Hansyah menyampaikan pengalamannya sebagai Atase Perdagangan KBRI serta menjelaskan perkembangan negara Tiongkok dari masa ke masa.
Ia kemudian memberikan motivasi kepada siswa dan siswi Spemma agar tetap semangat belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Dalam penyampaiannya, Budi Hansyah menekankan bahwa setiap siswa memiliki bakat dan kelebihan masing-masing yang dapat dikembangkan.
“Lakukan apa yang kalian punya, baik itu bakat atau kelebihan, supaya bisa menjadi yang terbaik. Apa pun yang terjadi, pasti ada jalannya,” ujarnya.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat masih menempuh pendidikan.
Budi Hansyah mengaku kurang unggul dalam pelajaran matematika, namun memiliki kemampuan yang baik dalam bidang bahasa. Atas saran ayahnya, ia memilih jurusan sastra yang tidak banyak diminati.
“Papa saya menyarankan saya mengambil jurusan sastra yang tidak banyak diminati. Akhirnya, pada tahun 1994 saya memilih program studi Sastra China,” tuturnya.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Budi Hansyah berpesan agar para siswa tidak merasa minder jika kurang menguasai satu bidang pelajaran.
Menurutnya, setiap orang memiliki keunggulan di bidang masing-masing. Ia juga menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negara Tiongkok telah mengarahkan siswa sejak dini untuk fokus pada bidang yang diminati.
Selain itu, ia mengingatkan para siswa agar memanfaatkan teknologi secara bijak. Menurutnya, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat apabila digunakan secara positif.
Melalui motivasi tersebut, Budi Hansyah berharap siswa dan siswi Spemma semakin percaya diri, rajin belajar, serta berani bermimpi demi meraih masa depan yang cerah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments