Dalam upaya memperkuat sinergi antar-Kantor Layanan Lazismu (KLL) serta meningkatkan kapasitas para amil di tingkat cabang dan daerah, Lazismu Daerah Jember menggelar kegiatan Anjangsana KLL sekaligus Pembinaan Pengelolaan Manajemen Zakat, Ahad (9/11/25). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Lazismu Jember, Jalan Bondoyudo No. 11, ini diikuti oleh 13 Kantor Layanan Lazismu se-Kabupaten Jember.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari program pembinaan dan penguatan kelembagaan yang secara rutin dilakukan oleh Lazismu Daerah Jember. Tujuannya untuk memastikan seluruh Kantor Layanan mampu menjalankan tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara profesional, akuntabel, dan sesuai syariat Islam.
Direktur Lazismu Daerah Jember, Asbit Iman Sampurna, dalam sambutannya menjelaskan bahwa anjangsana kali ini sengaja dilaksanakan di Kantor Daerah karena memiliki tujuan khusus, yakni memperkuat koordinasi dan persiapan menuju tahun 2026.
“Kegiatan ini bukan sekadar pembinaan, tetapi juga menjadi momen evaluasi dan penyusunan arah kerja ke depan. Tahun 2026 akan menjadi momentum penguatan sistem kerja, digitalisasi layanan, serta peningkatan kapasitas amil agar Lazismu Jember semakin berdaya dan berdampak luas,” ujarnya.
Sesi utama kegiatan menghadirkan Ustadz Dhofir Catur Bashori, M.H.I., dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jember yang juga pengampu mata kuliah Manajemen Zakat dan Wakaf.
Materi pembinaan kali ini berfokus pada pengelolaan zakat pertanian, mengingat sebagian besar KLL Lazismu Jember berada di wilayah dengan karakteristik masyarakat agraris. Pembahasan meliputi ketentuan zakat hasil panen, nisab, sistem distribusi, hingga strategi edukasi muzaki di sektor pertanian.
“Zakat pertanian merupakan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap optimal. Jika dikelola dengan baik, zakat ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi umat,” terang Ustadz Dhofir.
Ia menekankan pentingnya pemahaman teknis dan spiritual dalam pengelolaan zakat pertanian. Menurutnya, amil di wilayah agraris perlu memiliki wawasan mendalam tentang komoditas lokal, sistem irigasi, serta waktu panen agar penyaluran zakat dapat dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.
Selain materi pembinaan, kegiatan anjangsana juga diisi dengan diskusi terbuka antar-KLL, berbagi pengalaman, serta penyusunan langkah strategis menghadapi tantangan sosial ekonomi masyarakat pedesaan. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi dan berharap ke depan ada pendampingan lebih intensif dari Lazismu Daerah, khususnya dalam pelatihan penghimpunan zakat berbasis potensi lokal.
Acara ditutup dengan refleksi bersama mengenai peran amil sebagai pelayan umat. Para peserta diingatkan bahwa mengelola zakat bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan bagian dari ibadah dan perjuangan sosial untuk menegakkan keadilan ekonomi.
Dengan semangat “Sinergi dan Profesionalisme Amil Menuju Lazismu Jember Berkemajuan,” kegiatan anjangsana ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi, memperluas potensi penghimpunan zakat pertanian, dan menjadikan Lazismu Jember sebagai lembaga amil zakat yang semakin terpercaya dan berdaya guna bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments