Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perlu Sinergitas Menyemai Kader di Akar Rumput

Iklan Landscape Smamda
Perlu Sinergitas Menyemai Kader di Akar Rumput
pwmu.co -

Sinergitas struktural dan kultural

Inovasi dalam perkaderan di akar rumput perlu adanya sinergi antara pendekatan struktural dan kultural. Bahwa struktur organisasi penting untuk memastikan arah dan keberlanjutan, tetapi pendekatan kultural tidak kalah efektifnya dalam menjangkau hati kader. PCM dan atau PRM harus mampu menjadi cultural broker (perantara budaya) — sebagai penghubung antara nilai-nilai Muhammadiyah dengan realitas sosial kultural kader muda.

Selama ini kita hanya mengulang-ngulang nilai Muhammadiyah atau menghayati pengalaman sejarah tentang Muhammadiyah. Padahal yang lebih penting dari itu adalah merekonstruksi pengalaman sosial dan kritis Kiai Haji Ahmad Dahlan dalam kehidupan kader atau pimpinan sendiri. Berbagai permasalahan keumatan membutuhkan campur-tangan langsung dari kader. Karena itu, forum-forum yang relevan dan korelatif perlu di massifkan dalam perkaderan Muhammadiyah.

Penting pula adanya kolaborasi yang lebih erat dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam proses perkaderan. Lembaga pendidikan Muhammadiyah, misalnya, tidak bisa hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, karena merupakan ladang subur untuk pembinaan kader sejak dini. Pendek kata, AUM dan Persyarikatan harus menjadi ruang ramah kader muda untuk beraktivitas, berekspresi, dan bertumbuh.

AUM harus bersungguh-sungguh—bukan sekadar formalitas—dalam mendorong proses perkaderan di lembaganya. Jangan sampai muncul “alasan” yang berlindung di balik istilah “profesionalisme”, lalu menjadikan hal itu sebagai pembenaran untuk mengabaikan tanggung jawab pembinaan kader di AUM. Pendekatan terbaik tentu adalah dengan mengintegrasikan proses pembinaan kader ke dalam proses bisnis utama lembaga. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya akan lebih efisien, dan kedua tujuan utama—yakni pembinaan kader dan penguatan kelembagaan—dapat tercapai secara selaras.

Di sinilah letak pentingnya kehadiran Majelis Pendidikan Kader (MPK) dan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah untuk membangun sinergi yang kuat dan solid. Bukan berjalan sendiri-sendiri. Persyarikatan, Ortom, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus bergandengan tangan, saling mendukung dalam mewujudkan lingkungan perkaderan yang hangat dan kondusif . Kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjaga dan membentengi kader Muhammadiyah dari pengaruh dan ajakan kelompok lain di luar Muhammadiyah. Jangan sampai Persyarikatan ini justru menjadi tempat yang kaku, tidak nyaman, serta tertinggal karena birokrasi yang tidak adaptif terhadap dinamika zaman. Muhammadiyah harus menjadi rumah yang ramah, terbuka, dan responsif bagi generasi penerusnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pentingnya kreasi dalam perkaderan

Muhammadiyah lahir dari gerakan ijtihad, yang keberanian melampaui batas zamannya. Maka, jika kita masih berharap Muhammadiyah selalu relevan dengan zaman, pengurus Muhammadiyah harus memiliki mental inklusif (terbuka) terhadap inovasi pada banyak hal, salah satunya inovasi dalam sistem dan pendekatan perkaderan. Pada lapisan yang paling bawah (cabang dan ranting), perkaderan tidak boleh stagnan apalagi hanya formalitas administratif.

Perkaderan Muhammadiyah harus berlangsung secara dinamis, kreatif, inspiratif, dan membebaskan. Ideologi gerakan Muhammadiyah harus menjadi ideologi yang mampu memberikan solusi bagi kaderisasi. Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) tidak cukup hanya menjadi hafalan lisan yang melekat dalam ingatan, tapi tidak diterjemahkan dalam tindakan. Kader ideologis Muhammadiyah bukanlah mereka yang hanya bangga memakai jas almamater kader. Kehadiran dalam lingkup masyarakat sebagai pemecah masalah (problem solver), changemaker, dan agent of transformation adalah ciri kader ideologis Muhammadiyah yang sejati.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu