Keterbatasan jumlah tenaga pengajar di kawasan Bukit Jambul, Pulau Pinang, Malaysia, tidak memadamkan semangat belajar anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Situasi tersebut mendapat respons nyata dari empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan anak bangsa di luar negeri.
Sejak 21 Januari hingga penghujung Februari 2026, tim KKN mengabdikan diri di sebuah Sanggar Belajar yang menjadi pusat pendidikan alternatif bagi anak-anak Indonesia di Penang.
Sanggar ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan biaya pendidikan formal serta kendala bahasa Melayu dan Inggris yang kerap dihadapi para siswa.
Kehadiran mahasiswa tidak hanya memperkuat proses pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa percaya diri anak-anak untuk mengejar cita-cita mereka.
Aina Zuzaila, salah satu peserta KKN Internasional, mengaku terharu melihat kondisi di lapangan. Minimnya jumlah pengajar berbanding terbalik dengan banyaknya siswa yang ingin belajar.
Namun, antusiasme anak-anak dan harapan besar para orang tua membuat para mahasiswa merasa kehadiran mereka benar-benar membawa manfaat.
Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Materi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung dipadukan dengan pendekatan kreatif melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, serta media visual.
Strategi ini diterapkan agar proses belajar tetap menyenangkan meskipun berlangsung di luar sistem sekolah formal.
Tak hanya mengajar, mahasiswa juga memperkaya pengalaman internasional melalui kerja sama dengan Permai Pineng dan keterlibatan akademik di Universiti Sains Malaysia (USM).
Mereka mengikuti seminar serta diskusi bersama sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat untuk membahas dinamika pendidikan tinggi, isu migrasi, dan realitas sosial masyarakat lintas negara.
Aina menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuka wawasan baru, terutama dalam memahami perbedaan budaya, pola komunikasi, dan cara berinteraksi di lingkungan internasional yang tidak mereka temui di Indonesia.
Meski dihadapkan pada tantangan adaptasi bahasa, budaya, dan sistem pendidikan, dukungan masyarakat setempat menjadi faktor penting keberhasilan program.
Kedekatan yang terjalin terlihat dari partisipasi warga dalam berbagai kegiatan, bahkan para orang tua siswa turut merayakan ulang tahun salah satu mahasiswa sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka.
Dosen pembimbing KKN Internasional, Dr. Arina Restian, M.Pd., memberikan apresiasi atas komitmen mahasiswa.
Ia menilai program ini tidak hanya menjadi bentuk pengabdian, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual yang mengasah kepedulian sosial dan kapasitas global mahasiswa.
Menurutnya, keterlibatan langsung di komunitas PMI membantu mahasiswa memahami persoalan pendidikan secara lebih komprehensif, mulai dari aspek akses dan kebijakan hingga dinamika sosial budaya yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak migran.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak sekadar berperan sebagai pengajar, melainkan juga belajar tentang empati, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional—bekal penting untuk dunia profesional maupun peran mereka sebagai agen perubahan.
Ke depan, ia berharap program KKN Internasional dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke berbagai komunitas PMI di negara lain, sehingga kontribusi perguruan tinggi Indonesia semakin signifikan dalam menjawab tantangan pendidikan global.
Melalui pengabdian ini, mahasiswa UMM menunjukkan bahwa komitmen terhadap pendidikan mampu melampaui batas geografis demi masa depan generasi muda Indonesia, di mana pun mereka berada.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments