Gejolak yang kini mendidih di Iran tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai letupan amarah publik terhadap pemerintahannya sendiri. Narasi yang beredar di permukaan memang melukiskan ketidakpuasan rakyat terhadap rezim, namun jika kita menyelam lebih dalam ke struktur ekonomi dan geopolitik, terlihat jelas adanya “tangan tak terlihat” yang sedang memainkan bidak caturnya.
Apa yang terjadi di Teheran hari ini adalah buah dari desain sistematis pelumpuhan ekonomi yang dirancang oleh Amerika Serikat, sebuah pola perang modern yang tak lagi membutuhkan mesiu, melainkan manipulasi perbankan dan blokade dagang.
Kita harus mengakui fakta dasar bahwa ekonomi Iran memang rapuh. Nilai tukar mata uang Rial terhadap Dolar jatuh ke titik nadir, bahkan jika dikonversikan, 1 Rial Iran kini nilainya tak lebih dari serpihan kecil Rupiah (Rp. 0,016). Inflasi meroket, daya beli hancur, dan kelas menengah Iran terperosok menjadi kelas miskin baru. Namun, pertanyaan kritisnya adalah: apakah kerapuhan ini terjadi secara alamiah? Jawabannya adalah tidak.
Krisis ini adalah luka yang sengaja ditorehkan sejak tahun 2018, ketika Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir dan menerapkan kampanye “tekanan maksimum”.
Sebelum sanksi dijatuhkan, Iran adalah raksasa energi yang mampu mengekspor hingga 1,5 juta barel minyak per hari ke negara-negara besar seperti India, Jepang, hingga Korea Selatan. Namun, sanksi sekunder Amerika yang mengancam akan menghukum pihak ketiga mana pun yang berani bertransaksi dengan Teheran, telah memaksa para pelanggan ini mundur teratur.
Akibatnya, ekspor minyak Iran terjun bebas hingga hanya menyisakan sekitar 500.000 barel per hari, itu pun harus dijual melalui jalur tikus atau pasar gelap. Ketika pendapatan negara dipangkas paksa hingga lebih dari separuh, negara mana pun di dunia ini pasti akan mengalami guncangan hebat. Inilah yang diinginkan Washington: membuat rakyat lapar agar mereka memakan pemimpinnya sendiri.
Pola ini bukanlah hal baru. Kita melihat pola serupa diterapkan di Venezuela. Kedua negara ini memiliki kesamaan fundamental, yaitu: mereka kaya minyak, menolak tunduk pada sistem perbankan internasional yang dikendalikan Barat dan bersikeras pada kedaulatan nasional. AS menggunakan instrumen perbankan global sebagai senjata pemusnah massal ekonomi. Dengan menutup akses Iran dan Venezuela dari sistem keuangan dunia, AS secara efektif memiskinkan jutaan orang demi ambisi hegemoninya.
Di sisi lain, situasi kacau ini menjadi peluang emas bagi Israel. Tel Aviv, yang juga sedang didera krisis internal parah, mulai dari kasus korupsi, perpecahan politik hingga penolakan wajib militer oleh kaum Yahudi Ortodoks (Haredim) membutuhkan pengalihan isu. Dengan memanaskan situasi di Iran, baik melalui operasi intelijen Mossad yang sudah lama menyusup maupun dukungan narasi global, Israel berusaha mengalihkan perhatian dunia dari borok domestiknya sendiri.
Tuntutan demonstran di Iran yang awalnya murni soal perut dan ekonomi, kini mulai ditunggangi oleh agenda asing yang menginginkan pergantian rezim total, bukan sekadar perbaikan kebijakan.
Tentu saja, kita tidak bisa menafikan faktor internal. Pemerintah Iran juga memiliki andil dalam ketidakpuasan ini. Keputusan Teheran untuk menggelontorkan miliaran dolar demi membiayai proksi di Suriah, Lebanon, dan Yaman di saat rakyatnya sendiri tercekik inflasi, adalah kebijakan yang sulit diterima akal sehat publik. Namun, menyalahkan faktor internal semata adalah bentuk kenaifan geopolitik. Tanpa sanksi brutal dari AS, Iran mungkin masih memiliki ruang fiskal untuk bernapas dan menyejahterakan rakyatnya.
Pada akhirnya, demonstrasi besar di Iran adalah peringatan bagi dunia, termasuk Indonesia. Di era ini, kedaulatan bukan hanya soal batas wilayah, tetapi juga ketahanan ekonomi. Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa mereka tidak perlu mengirim marinir untuk menghancurkan sebuah negara, cukup dengan mematikan akses perbankan dan memblokir jalur dagang, sebuah bangsa bisa dibuat berlutut. Apa yang terjadi di Iran adalah sebuah “permainan” kejam di mana rakyat sipil menjadi pion yang dikorbankan demi melanggengkan dominasi sang adidaya.






0 Tanggapan
Empty Comments