
PWMU.CO – Pada ujung ayat 10 Qur’an Surat Al-Hujurat [49], yang menyebut tentang persaudaraan, setelah perintah takwa, Allah subḥānahū wa ta‘ālā memberikan informasi berupa harapan. Yaitu bahwa dalam persaudaraan yang berdasarkan pada ketakwaan akan menyebabkan turunnya rahmat Allah Swt.
Apa makna dari persaudaraan yang dapat berimplikasi pada hadirnya rahmat? Di dalam konsep tersebut juga terkandung perintah untuk bertakwa. Jika takwa merupakan bekal terbaik dalam berhaji—sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an—dan dalam ibadah haji umat Islam dari berbagai latar belakang berkumpul, bagaimana relevansi isi kandungan QS. Al-Hujurat [49]: 10 tentang konsep persaudaraan dalam konteks ini?
Konsep persaudaraan
Dalam bahasa Arab, saudara laki-laki disebut dengan akhun, sedangkan saudara perempuan dipanggil dengan ukhtun. Sedangkan persaudaraan dengan makna terjemah ikhwah dan ukhuwah.
Dalam tradisi al-Qur’an, bersandar pada QS. Al-Hujurat [49]: 10, kesejatian orang-orang beriman itu terikat dalam persaudaraan yang kuat.
Jadi, apabila ada yang bertikai, maka harus ada yang mendamaikan. Diingatkan pada inti keimanan dan keislaman: terikat kuat dalam persaudaraan iman-islam, saling menguatkan, saling mengalah untuk sesuatu yang lebih besar. Yaitu terciptanya kemaslahatan itu sendiri, saling memahami dan mengerti, serta saling memberikan kebermanfaatan.
Konsep persaudaraan dalam al-Qur’an dapat berkaitan dengan kebangsaan (qabilah, syu’ub, mawathin), kemanusiaan pada aspek dhahirnya (basyariyah), kemanusiaan pada aspek batin spiritualnya (insaniyah), dan keagamaan (islamiyah). Secara istilah ada konsep ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah islamiyah.
Sekumpulan orang bisa disatukan dalam wilayah kebangsaan, kesukuan, dan kenegaraan. Dalam aspek ini, seseorang menisbahkan diri pada ikatan kewarganegaraan. Persaudaraan yang hadir karena sama-sama berasal dari kebangsaan dan kenegaraan yang sama disebut ukhuwah wathaniyah.
Sejumlah orang bisa bersatu karena kepentingan kemanusiaan yang sama, perlindungan yang didasarkan pada warna kulit, dan aspek kemanusiaan yang bersifat dhahir. Persaudaraan pada level ini hadir karena manusia adalah makhluk unik yang memiliki kepentingan didasarkan pada bidang ekonomi, politik, organisasi, dan lain semacamnya. Kepentingan itu perlu diajukan untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan, dan perlindungan. Inilah yang dimaksud ukhuwah basyariyah.
Sedangkan, jika sekelompok manusia mampu menyatu dalam wujud kemanusiaan yang abadi—yang tercermin melalui nilai, adab, kesantunan, dan sisi paling hakiki dari eksistensi manusia—maka mereka akan menjadi makhluk paling sempurna. Dengan akal dan hati, mereka saling menghormati, melindungi, mengakui, dan menghargai satu sama lain. Persaudaraan semacam ini hadir bukan semata untuk membela kepentingan manusia, melainkan karena manusia memang layak dilindungi, dihormati, dihargai, dan diakui sebagai makhluk mulia ciptaan Allah Swt. Mereka dimuliakan karena memuliakan sesamanya. Inilah yang disebut dengan ukhuwah insaniyah.
Dalam mengimplementasikan konsep-konsep ukhuwah, manusia harus terikat pada nilai-nilai ideologis yang menjadi dasar tata nilai dan perilaku. Ikatan ini lahir dari kesadaran sebagai manusia yang memahami kewajiban hakikinya dalam menghormati sesama. Kesadaran tersebut mendorong mereka untuk mengimplementasikan nilai-nilai penghormatan secara nyata, karena nilai-nilai ideologis itu sendiri telah membentuk dan mendidik mereka. Inilah esensi dari ukhuwah islamiyah.
Haji sebagai miniatur semua ukhuwah
Dalam haji, penerapan seluruh “konsep ukhuwah” merupakan fakta sosial historis. Haji sendiri bahkan merupakan miniatur dari seluruh konsep ukhuwah itu.
Orang-orang yang menunaikan ibadah haji berasal dari berbagai bangsa dan negara, dengan latar belakang warna kulit, kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang beragam. Mereka membawa realitas peradaban, kesantunan, dan nilai-nilai insaniyah yang berbeda. Namun yang menarik, semuanya dipersatukan dalam satu nafas persaudaraan—yaitu persaudaraan atas dasar keyakinan universal untuk beribadah dan berbuat kebaikan bagi siapa pun.
Oleh karena itu, komitmen persaudaraan mereka terikat kuat dalam satu kesatuan ibadah haji—ibadah yang berlandaskan pada kesadaran bahwa mereka hadir dengan latar belakang wathaniyah (kebangsaan), basyariyah (kemanusiaan), dan insaniyah (kepribadian yang berbeda). Namun, mereka dipersatukan dalam ukhuwah islamiyah, dalam satu tekad untuk mengabdi kepada Allah Swt. melalui jejak pengorbanan Ibrahim dan Ismail As.
Dalam konteks ini, haji merupakan miniatur ukhuwah, dan menjadi pintu masuk menyatunya harapan memperoleh rahmat dari Allah Swt. Jika mengacu kepada prosesi haji, harapan perolehan rahmat itu ada pada ketundukan dan ketaatan sebagai buah dari ketakwaan.
Rahmat kebaikan universal
Bagaimana dapat memperoleh rahmat kebaikan dan menjadi kebaikan universal? Harapan memperoleh rahmat kebaikan dari Allah Swt., dapat melalui ketundukan dan ketaatan sebagai buah dari ketakwaan.
Saat sedang melaksanakan ibadah haji, seseorang terlarang untuk melakukan rafats, fusuq dan jidal. Karena ketiga hal itu dapat menghancurkan bangunan ukhuwah, baik dalam aspek keluarga, kebangsaan, kenegaraan, maupun kemanusiaan itu sendiri.
Pelanggaran terhadap ketundukan dan ketaatan dalam prosesi haji dapat berpotensi menyebabkan ketidakabsahan ibadah haji serta mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap nilai-nilai syari’at. Dalam kondisi seperti ini, haji gagal menjadi wasilah untuk mempererat ukhuwah secara maksimal.
Rahmat sebagai wujud kebaikan universal tidak dapat terwujud sepenuhnya, karena realitas pelaksanaan haji—yang seharusnya menjadi miniatur ukhuwah—belum mampu membangkitkan kesadaran setiap individu akan makna ukhuwah itu sendiri. Padahal, pada diri seorang mukmin yang mengalir rahmat kebaikan universal, akan tampak laku hidup yang mencerminkan saling memahami (tafahum), saling mencintai dalam kebaikan (mahabah), dan saling menghargai (takarum).
Akhirnya, semoga ibadah haji ini menjadi jalan turunnya rahmat dan kebaikan universal, seiring tumbuhnya pemahaman dan pengamalan nilai ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Wallaahu a’lam.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments