
PWMU.CO – SMP Muhammadiyah 1 Babat (Mutuba) mendadak menjadi saksi momen penuh haru dan nostalgia pada pertemuan wali murid yang digelar Jum’at pagi. Suasana hangat berubah menjadi emosional ketika seorang guru senior, Faosa, tanpa diduga kembali dipertemukan dengan salah satu anak didik yang pernah dia bimbing 25 tahun silam — NA Itauzzakah.
Tak ada yang menyangka, bahwa salah satu wali murid dari siswa baru tahun ini adalah murid yang dulu pernah duduk di bangku kelas, mendengarkan arahan penuh cinta dari seorang guru bernama Faosa. Pertemuan ini bukan sekadar temu biasa, tapi sebuah potongan sejarah hidup yang melingkar utuh, menandai kuatnya jejak pendidikan dan cinta seorang guru kepada muridnya.
Faosa: Sosok Guru dan Ibu Sekaligus
Nama Faosa mungkin tak asing di telinga warga Mutuba. Sosoknya dikenal sebagai guru yang tak hanya mengajar, tapi juga membesarkan jiwa. Ia hadir di tengah murid-muridnya bukan sekadar membawa materi pelajaran, tapi juga nilai-nilai kehidupan. Sikapnya yang lembut namun tegas, caranya memeluk setiap perbedaan dengan kasih sayang, menjadikannya sosok ibu kedua di lingkungan sekolah.
Meski usia kini tak muda lagi, penampilannya tetap memancarkan semangat. Kerutan tak mengikis cahaya wajahnya. Tatapannya tetap tajam, namun penuh kehangatan. Tidak berlebihan jika banyak yang menyebut beliau sebagai guru yang tidak lekang oleh zaman.
Itauzzakah: Murid yang Kembali Sebagai Wali
NA Itauzzakah, kini telah menjadi orang tua. Namun di hadapan Faosa, ia kembali menjadi anak. Saat kepala sekolah menyebutkan nama Ibu Faosa, Ita langsung kegirangan. Pelukan hangat saat guru dan murid bertemu.
Keduanya larut dalam suasana yang menyentuh hati. Tidak ada kata yang lebih tepat menggambarkan momen itu selain “magis” — karena seperti takdir yang mempertemukan kembali dua jiwa dalam ruang pendidikan, namun dengan peran yang berbeda.
Jejak Abadi Seorang Guru
Pertemuan ini menyadarkan kita akan satu hal penting: bahwa seorang guru sejati tak pernah benar-benar meninggalkan muridnya. Apa yang ditanam dalam ruang kelas akan tumbuh sepanjang usia, menjelma nilai, karakter, dan kenangan abadi.
Faosa bukan sekadar pengajar, ia ibu bagi generasi. Dan hari itu, di SMP Mutuba, sejarah kecil ditulis ulang — dengan tinta air mata haru dan cinta yang tak mengenal jarak waktu. Mereka telah berpisah lebih dari 3 Dekade. Tapi ikatan cinta tak pernah lepas. (*)
Penulis Alexs Mac Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments