Kegiatan Darul Arqam yang digelar SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) bagi siswa kelas XII tidak hanya menjadi sarana penguatan spiritual, tetapi juga momentum peneguhan karakter dan visi hidup. Kegiatan tersebut berlangsung di Hall Smamita lantai 2 pada Senin (23/2/2026).
Dalam kesempatan itu, Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, M.I.Kom., menyampaikan pesan tegas agar para peserta tidak tumbuh menjadi generasi yang lemah, baik secara mental, spiritual, maupun intelektual.
Mengusung tema “Membentuk Generasi Islam Berkarakter dan Berkemajuan di Era Digitalisasi serta Mengabdi untuk Masyarakat”, Edwin mengajak seluruh peserta merenungi firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan tujuan utama ibadah puasa, yakni membentuk ketakwaan. Ketakwaan, menurutnya, dapat dipahami melalui tiga tahapan: input, proses, dan output.
Setiap kali Allah memanggil dengan kalimat “wahai orang-orang yang beriman”, lanjutnya, itu merupakan panggilan kehormatan kepada pribadi yang telah memiliki modal kebaikan dalam dirinya.
Edwin memaknai puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan kemampuan menahan diri dari segala hal yang disenangi maupun dibenci. Puasa melatih pengendalian keinginan, emosi, dan hawa nafsu.
“Inilah esensi puasa sebagai ibadah jiwa. Tidak hanya fisik yang dilatih, tetapi juga jiwa dan mental agar semakin taat kepada Allah Swt. Setiap pengakuan iman akan selalu diuji. Puasa menjadi bukti sejauh mana keimanan itu benar-benar hidup dalam diri kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika puasa dijalani dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan, hal itu menjadi tanda bahwa iman sedang bertumbuh dan meningkat.
Selanjutnya, ia juga mengutip firman Allah Swt. dalam Surah An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh menjadi bagian dari generasi yang lemah, apalagi mewariskan kelemahan kepada generasi berikutnya. Generasi lemah, tegasnya, adalah generasi yang lemah akal, lemah daya nalar, serta tidak memiliki kemampuan berpikir kritis.
Ia menegaskan bahwa aktivitas belajar di sekolah, sejak pagi hingga sore, merupakan ikhtiar besar untuk menguatkan akal dan kecerdasan agar siswa tidak menjadi generasi yang lemah secara intelektual. Secara potensi kognitif, para siswa dinilai memiliki peluang besar untuk sukses.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kepintaran tanpa akhlak dan karakter tidak akan menjadikan hidup bermakna. Mental yang kuat dan karakter yang kokoh terbentuk melalui proses panjang, yakni disiplin, latihan, keteladanan, serta pembiasaan nilai-nilai kebaikan.
“Harapan kita bersama, jangan sampai kalian menjadi generasi yang lemah. Kalian harus pintar dan cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan berkarakter kuat,” pesannya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Generasi muda, menurutnya, tidak boleh lemah secara finansial. Kesejahteraan dapat dibangun melalui ilmu, kerja keras, serta jaringan pertemanan yang sehat dan produktif.
Di era digitalisasi yang penuh tantangan, Edwin mengajak para siswa menjadi generasi Islam yang berkemajuan: cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, kuat secara mental, serta bermanfaat bagi masyarakat. Itulah hakikat pengabdian sejati, menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata demi kebaikan umat dan bangsa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments