
Oleh: Moh. Helman Sueb – Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan
PWMU.CO – Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Hal ini perlu disadari oleh setiap orang yang mengaku beriman, sehingga dalam kehidupannya tidak tampak egois dan sombong.
Orang yang sadar dan mengerti bahwa dirinya adalah makhluk sosial akan memandang orang lain memiliki harga diri dan sebagai saudara dalam pergaulan.
Islam menegaskan bahwa sesama mukmin itu bersaudara. Kewajibannya adalah mendamaikan bila ada perselisihan yang didasari dengan takwa (QS Al-Hujurat: 10). Ayat ini memberikan sinyal bahwa hanya dengan landasan takwa, persaudaraan itu akan tulus dan kekal. Sebab, harapan yang diinginkan semata-mata adalah mencari rida Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Perumpamaan persaudaraan antara sesama mukmin itu seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan ikut merasakan sakitnya,”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Dalam hadis tersebut, diajarkan kesetiakawanan (solidaritas), empati, dan kepedulian terhadap sesama mukmin. Hal ini merupakan pelajaran yang sangat penting, sebab Islam mengajarkan bahwa sesama mukmin itu bersaudara.
Oleh karena itu, diperintahkan agar berpegang teguh kepada ajaran agama dan dilarang bercerai-berai (baca: QS Ali Imran: 103). Persaudaraan yang kokoh merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri dengan merapatkan barisan bagaikan benteng yang kokoh.
Jauhi Empat Hal Perusak Persaudaraan
Agar persaudaraan yang kokoh tidak mudah dipecah belah oleh pihak luar ataupun dari keluarga sendiri, maka perlu diperhatikan hal-hal yang dapat merusak persaudaraan, yang secara kasatmata dapat kita lihat dalam beberapa penyakit hati berikut yang harus dihindari:
Pertama, menjauhi kedengkian, yang disebabkan oleh ketidakrelaan seseorang terhadap apa yang diperoleh orang lain. Hal ini merupakan kesalahan besar, karena apa yang diberikan Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Selain itu, kedengkian dapat mengendorkan ukhuwah Islamiyah.
Kedua, perilaku munafik, yaitu sifat antara hati dan ucapan yang tidak sama. Perilaku munafik merupakan bentuk pembohongan terhadap diri sendiri dan orang lain. Sifat ini sangat berbahaya dan dapat merusak persaudaraan, bahkan mengadu domba sesama teman. Oleh karena itu, sifat ini wajib dijauhi oleh seorang mukmin. Di samping itu, mereka menampakkan iman namun menyembunyikan kekufuran.
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar.”
(QS Al-Baqarah: 9)

Ketiga, kebencian. Kebencian merupakan sumber dari akhlak tercela seperti dengki, iri hati, dendam, dan namimah atau adu domba. Obatnya adalah kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala serta melakukan tobat dan banyak berdzikir.
Menyadari bahwa kebencian akan menjadikan orang lain menaruh kebencian kepada kita. Kebencian sebagai pemicu akhlak tercela dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan dan dijauhi oleh orang lain.
Keempat, perusak pergaulan dan persaudaraan berikutnya adalah kesombongan. Kesombongan (al-kibr) berarti menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Kesombongan sangat dilarang dalam Islam, sebagaimana firman Allah:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS Luqman: 18)
Kesombongan dan keangkuhan akan membawa pada runtuhnya persaudaraan, melengkapi perilaku buruk sebelumnya seperti kedengkian dan sifat munafik.
Sebaliknya, perilaku terpuji seperti empati, saling menolong, dan memperhatikan sesama akan memperkuat persaudaraan. Maka, dalam pergaulan, Islam menjadi penopang kuat dan kokohnya persaudaraan umat Islam.
Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments