Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesan Kiai Sholihin Fanani untuk Obat Hati dan Penolak Malas

Iklan Landscape Smamda
Pesan Kiai Sholihin Fanani untuk Obat Hati dan Penolak Malas
Dr. KH. Sholihin Fanani. Foto: Tangkapan layar youtube
pwmu.co -

Hati yang tenang dan semangat yang terjaga ternyata memiliki resep sederhana: syukur dan doa.

Dalam sebuah tausiyahnya, Dr. KH. Sholihin Fanani menegaskan bahwa memperbanyak ucapan alhamdulillah dan memohon perlindungan dari sifat malas adalah kunci hidup bahagia sekaligus jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut dia, kalimat ini tidak hanya menjadi penghias lisan, tetapi juga kunci kebahagiaan, ketenangan hati, dan jalan bertambahnya nikmat dari Allah.

“Menurut Imam Ahmad, seandainya di dunia ini tidak ada kalimat thayyibah lain, maka dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin saja sudah cukup untuk memuji kebesaran Allah,” tutur Kiai Sholihin di hadapan jamaah pengajian pimpinan Cabang Muhammadiyah Bandung Ranting Kedungwilut, Bandung Tulungagung, yang didokumentasikan di kanal Youtube PCM Besuki.

Dia menekankan, ucapan syukur hendaknya menjadi kebiasaan sehari-hari. “Ketemu teman, alhamdulillah. Dapat rezeki, alhamdulillah. Bahkan saat mengalami musibah pun, kita tetap mengucapkan alhamdulillah. Itulah tanda iman yang kuat,” lanjutnya.

Kiai Sholihin menjelaskan, puncak keimanan seseorang adalah ketika ia mampu mengucapkan alhamdulillah dalam dua keadaan: saat mendapat kebaikan maupun ketika menerima ujian.

“Contohnya ketika sakit, jika kita ikhlas dan tetap bersyukur, insyaallah Allah akan segera memberi kesembuhan dengan berbagai jalan,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan dua penyakit manusia yang sering melalaikan, yakni sifat lali (lupa) dan malas.

“Karena itu, pengajian seperti ini penting untuk saling mengingatkan. Rasulullah bahkan mengajarkan doa khusus untuk menghilangkan rasa malas dan kesedihan,” paparnya sambil membacakan doa yang masyhur:

Allahumma inni a’udzubika minal-hammi wal-hazani, wa a’udzubika minal-‘ajzi wal-kasali, wa a’udzubika minal-jubni wal-bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijal.

Atinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan kekikiran, serta dari lilitan hutang dan tekanan orang lain”. Doa ini merupakan permohonan kepada Allah untuk melindungi diri dari berbagai keburukan yang dijelaskan dalam hadis, seperti kegelisahan, kelemahan, kemalasan, sifat bakhil (kikir), terlilit hutang, dan penindasan orang.”

Kiai Sholihin juga berbagi pengalaman pribadi. Dia menceritakan ketika sepeda motornya hilang. Alih-alih putus asa, dia tetap rajin membaca doa yang diajarkan Rasulullah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tak disangka, dalam waktu singkat, ada wali murid yang memberinya rezeki untuk membeli motor baru. Tidak lama kemudian, motor yang hilang pun ditemukan kembali.

“Alhamdulillah, berkat doa itu, bukan hanya motor kembali, tetapi Allah juga memberi banyak nikmat lain. Sampai rumah dan kendaraan pun Allah cukupkan melalui jalan yang tak disangka-sangka,” ujarnya disambut takbir jamaah.

Kiai Sholihin kemudian mengaitkan tausiyahnya dengan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.  Dia menekankan bahwa sebelum menerima perintah salat, Rasulullah dibersihkan dadanya oleh Malaikat Jibril.

Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk mensucikan hati dan jiwa dari sifat-sifat buruk.

“Salat itu pada hakikatnya adalah membersihkan diri, lahir maupun batin. Wudu yang kita lakukan bukan hanya membersihkan kotoran fisik, tetapi juga secara ilmiah terbukti menenangkan jiwa dan membersihkan pikiran,” jelasnya.

Dia bahkan menyinggung kisah Neil Armstrong, astronot Amerika yang kabarnya tertarik pada Islam karena menemukan ketenangan lewat kebiasaan membasuh wajah dan sujud sebagaimana umat Islam berwudu dan salat.

Kiai  Sholihin juga mengingatkan bahaya penyakit hati, khususnya iri dan dengki. Menurutnya, sifat ini bisa merusak keimanan seseorang dan membuat hidupnya tidak tenang.

“Setiap orang punya takdir rezekinya masing-masing. Jangan iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Syukuri apa yang ada, insyaallah Allah akan menambah nikmat kita. Kalau kita merasa cukup, Allah akan lebihkan. Tapi kalau selalu merasa kurang, hidup akan selalu sempit,” tegasnya.

Kiai Sholihin berpesan agar jamaah mengamalkan syukur dalam empat bentuk: dengan ucapan (bil-lisan), dengan perbuatan baik (bil-fi’li), dengan hati yang ikhlas, dan dengan kesabaran.

“Kalau kita rajin bersyukur, rajin berwudu, dan menjaga hati dari iri serta malas, insyaallah Allah akan menjaga kita dari keburukan, melapangkan rezeki, dan memberikan ketenangan dalam hidup,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

1 Tanggapan

Search
Menu