Umat Islam yang baik harus memiliki iman dan sosial yang kuat. Jangan dianggap Islam hanya ritual dan spiritual saja. Hal itulah yang menjadi pesan utama dalam Pengajian Keluarga Sakinah pada Ahad (1/2/2026).
Agenda bulanan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan itu kali ini bertempat di Masjid At Taqwa, jalan Alun-alun Selatan Dupak Bangunsari 7-9, Surabaya.
Mubalig Abdul Basith, Lc., M.Pd.I. mengawali penjelasan tersebut dengan memaparkan sebuah realita. Saat ini masyarakat sedang mengalami krisis multidimensi. Krisis yang dimaksud adalah lemahnya finansial, moral, dan kepedulian sosial. Menghadapi dinamika tersebut, umat Islam harus mampu mentransformasikan ibadah ritual menjadi ibadah sosial agar Islam tidak dipandang sebelah mata yang hanya fokus spiritual saja.
Rasulullah SAW pernah menghadapi ujian yang sangat berat berturut-turut. Cobaan itu adalah wafatnya Khadijah, meninggalnya Abu Thalib, ditolaknya secara keras dakwahnya di Thaif, dan kuatnya tekanan dari Quraisy. Hal itu membuktikan bahwa iman akan diuji dalam realitas sosial, bukan verbal saja. Iman juga menjadi sumber kekuatan di tengah krisis.
Allah berfirman dalam surah Al Ankabut ayat ke-2 yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?”
Usai mendapat ujian itu, Rasulullah mengalami peristiwa isra miraj. Dalam peristiwa itu, Allah memerintahkan salat secara langsung. Ibadah itu merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung, bukan melalui malaikat yang menyampaikan wahyu.
Allah berfirman dalam surah Al Ankabut ayat ke-45 yang artinya Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa salat merupakan ibadah pembentuk sosial dan kesadaran moral. Salat juga merupakan ibadah yang dapat meningkatkan kepekaan sosial dan mencegah ketidakadilan sehingga umat Islam bisa bermanfaat bagi sesama. Rasulullah bersabda yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
Selain salat, ibadah pembentuk karakter sosial adalah puasa. Melalui puasa, umat Islam akan memiliki rasa empati dan kepedulian sosial. Hal itu dikarenakan puasa membuat orang turut merasakan lapar dan dahaga yang dialami kaum lemah sehingga lahirlah aksi sosial.
Salah satu tujuan dari berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa. Takwa yang baik tidak hanya kepada Allah saja, melainkan peduli dengan kaum lemah. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat ke-134 yang menjelaskan ciri orang bertakwa.
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”
Puasa dapat meningkatkan pengendalian diri. Rasulullah bersabda yang artinya puasa adalah perisai. Puasa juga mampu mendorong aksi sosial.
Rasulullah bersabda yang artinya barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.
Dalam hal aksi sosial, para sahabat Rasulullah pun tidak diragukan lagi. Kisah Abu Bakar yang menginfakkan seluruh hartanya tentu telah diketahui umat Islam. Kisah Umar yang memikul gandum dan berkeliling mengecek warga juga demikian.
Jelang akhir kajian, Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur itu menegaskan sejumlah hal. Pertama, di wilayah yang rapuh sosial dan finansial, hal yang diperlukan adalah aksi sosial, bukan tabligh akbar di atas mimbar apalagi dalil penguat iman.
Kedua, kalau aksi sosial lemah, posisi umat Islam akan semakin tergerus. Ketiga, dengan adanya aksi sosial, masyarakat akan tertarik. Keempat, termasuk golongan pendusta agama orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Hal itu sesuai surah Al Maun.
Kelima, ibadah tanpa kepedulian adalah kosong. Terakhir, iman sejati harus hadir dalam realitas sosial untuk membangun masyarakat yang adil, beradab, dan berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments