Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesantren sebagai Sekolah Kehidupan dan Miniatur Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Pesantren sebagai Sekolah Kehidupan dan Miniatur Masyarakat
pwmu.co -
Rozaq Akbar, Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong. (Istimewa/PWMU.CO)
Rozaq Akbar, Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong. (Istimewa/PWMU.CO)

Oleh Rozaq Akbar, Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong

PWMU.CO – Dalam diskursus pendidikan nasional, sering kali kita terjebak pada perdebatan teknis: siapa lebih unggul dalam kurikulum, siapa lebih modern fasilitasnya, atau siapa yang lebih banyak mencetak juara. Namun ada satu entitas pendidikan yang sering luput dari perbincangan pesantren. Bukan karena tidak berprestasi, tapi karena keberadaannya tidak selalu mengedepankan sorotan. Padahal, disinilah proses pendidikan berjalan menyeluruh: membentuk manusia secara utuh, bukan sekadar mendidik.

Pesantren modern bukan hanya tempat belajar ilmu agama. Di dalamnya, dikaji fikih, dipelajari bahasa Arab dan Inggris, dilatihkan keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan, hingga ditumbuhkan semangat seni dan olahraga. Namun pesantren modern tidak terjebak pada satu label dan diferensiasi. Ia bukan pesantren fikih, bukan pesantren bahasa, bukan pula pesantren bisnis. Karena memang hakikatnya, ia menyeluruh, segalanya

Fungsi utama pesantren modern adalah membentuk karakter. Santri bukan hanya diminta cerdas, tapi juga kuat. Bukan sekedar pandai, tapi berakhlak. Mereka bangun dini hari untuk shalat atas dasar pembiasaan. Mereka disiplin bukan karena takut dihukum, tapi dibentuk agar merasa bertanggung jawab.

Kehidupan di pesantren memang tidak selalu nyaman. Namun justru dari sinilah pelajaran hidup yang sesungguhnya dimulai. Pesantren adalah sekolah kehidupan, tempat latihan kesabaran, pengendalian diri, dan kekuatan niat. Karena hidup di luar pesantren jauh lebih keras, maka ketangguhan perlu dibentuk sejak dini.

Pesantren Modern

Di sini, santri belajar mengambil peran. Mereka dilatih menjadi pemimpin sejak muda. Mereka belajar mengelola waktu, menyelesaikan masalah, menghadapi konflik, dan tetap taat pada aturan. Mungkin mereka tidak selalu menonjol dalam ajang formal. Tapi mereka memiliki bekal kepemimpinan yang tumbuh dari kepercayaan dan proses.

Pesantren modern juga tidak menutup potensi personal. Santri yang suka tilawah diberi panggung, yang jago pidato diminta tampil, yang suka bisnis dilatih membuka usaha, dan yang hobi menulis diberi ruang untuk menebar ide. Karena kami percaya, mendidik bukan mencetak seragam, tapi membangkitkan keberagaman potensi.

Falsafah “تَحَرَّكْ، فَإِنَّ فِي الْحَرَكَةِ بَرَكَةٌ” (Taharrok, fa inna fil harokati barokah) merupakan salah satu prinsip hidup dan pendidikan yang sangat lekat dengan sosok KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Bergeraklah, karena sesungguhnya dalam gerak itu ada keberkahan.”

Falsafah ini bukan sekadar slogan, melainkan nafas perjuangan hidup yang diajarkan oleh KH. Imam Zarkasyi kepada para santri dan guru. Bagi beliau, gerak adalah simbol kehidupan, dinamika perjuangan, dan pintu datangnya pertolongan Allah.

Falsafah Ini Mendidik Tentang Beberapa Hal

1. Aktivitas Adalah Ibadah

KH. Imam Zarkasyi memaknai setiap bentuk gerak—fisik maupun intelektual—sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Berdiam diri adalah pemborosan umur.

2. Keberkahan Itu Datang Bukan Dari Diam, Tapi Dari Usaha

Santri diajarkan untuk tidak menunggu, tapi mencipta. Bukan pasif, tapi proaktif. Inilah semangat hidup yang mandiri, tahan banting, dan solutif.

3. Pendidikan Bukan Hanya Di Kelas, Tapi Dalam Aktivitas Sehari-hari

Maka, seluruh sistem di pesantren dibuat aktif: dari pengajaran, kepemimpinan santri, organisasi, hingga kebersihan dan ibadah. Semua adalah “harakah” yang mendidik.

4. Jiwa Inisiatif dan Ketangguhan

Falsafah ini melahirkan pribadi yang tahan terhadap kesulitan dan tidak banyak mengeluh. Karena yang terus bergerak, akan terus menemukan jalan.

5. Syiar dan Dakwah Harus Bergerak

Gerakan Muhammadiyah, seperti halnya Gontor, hidup karena bergerak. Dakwah tidak bisa hanya disampaikan di mimbar, tapi ditampilkan dalam karya, sistem, dan keteladanan.

Santri harus bergerak—belajar, bekerja, berorganisasi, berdakwah, dan berpikir—karena keberkahan datang saat kita menapakkan kaki, bukan saat kita berhenti di tempat.

Sebagaimana beliau sering menasehatkan, “Orang yang bergerak, meski sedikit, lebih baik daripada yang diam meski punya rencana besar.”

Di tengah dunia yang makin kompleks, pendidikan berbasis nilai sangat dibutuhkan. Ketika sebagian sekolah sibuk memburu ranking, pesantren diam-diam menyiapkan generasi pemimpin yang kuat, berani, dan berjiwa melayani.

Kami sadar, pesantren mungkin tak sepopuler sekolah internasional. Tapi di sinilah nilai itu ditanam. Di sinilah kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab menjadi napas harian. Dan di sinilah kami meyakini, al Quran dan karakter adalah bekal terbaik menembus zaman.

Karena itu, biarkanlah pesantren tak selalu ada di panggung utama. Biarkan ia bekerja dalam senyap. Karena tujuannya bukan mencetak lulusan hebat semata, tapi melahirkan insan yang membawa manfaat.

Pesantren modern bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah tempat menjadi. The School of Life. The School of Leadership. (*)

Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu