Philips Nicolas Gunawidjaja, Ph.D., Educator and Consultant in Bilingual and International Curriculum Development dari Marshall Cavendish Education Singapore, menjadi salah satu narasumber dalam School Leaders Conference 2025 yang digelar di Aula Mas Mansur PWM Jawa Timur pada Sabtu (15/11/2025).
Dalam materinya bertajuk Meaningful Education: From PISA to Learning that Inspires, ia menyoroti rendahnya capaian Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.
Dalam pemaparannya, Philips menyampaikan bahwa skor PISA Indonesia sejak pertama kali mengikuti asesmen tersebut pada tahun 2000 tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, baik dari sisi skor maupun peringkat.
“Dua dekade lebih kita ikut PISA, tapi posisi kita belum juga bergerak naik,” ujarnya.
PISA merupakan studi penilaian internasional yang diselenggarakan oleh OECD untuk mengevaluasi kualitas pendidikan di berbagai negara. Asesmen ini mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun—usia yang dipilih karena sebagian besar negara menetapkan batas pendidikan wajib hingga umur tersebut.
Penilaian ini digelar setiap tiga tahun dan bertujuan memberikan gambaran objektif bagi negara peserta untuk memperbaiki kualitas pendidikannya melalui data yang dapat dibandingkan secara global.
Philips menegaskan bahwa hasil PISA 2022 menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Pada bidang matematika, Indonesia mencatat skor 366, masih jauh di bawah rata-rata dunia yang berada di angka 472. Tidak hanya itu, level kompetensi siswa Indonesia juga masih bertahan di Level 1. Pada tingkat ini, siswa baru mampu menyelesaikan rumus dan perhitungan dasar.
“Untuk mencapai Level 2 saja, Indonesia membutuhkan tambahan waktu belajar sekitar satu tahun,” jelasnya.
Di Level 2, siswa tidak hanya dituntut mampu menghitung, tetapi juga menerapkan konsep matematika dalam konteks kehidupan nyata. Menurut Philips, inilah tantangan terbesar pendidikan Indonesia: mengubah pembelajaran dari sekadar menghafal rumus menjadi proses yang bermakna dan relevan bagi siswa.
Ia berharap pemangku kebijakan dan para pendidik dapat menjadikan data PISA sebagai bahan refleksi untuk mendorong transformasi pendidikan yang lebih inspiratif dan berdampak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments