Pesawat latih Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan registrasi PK-S126 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang jatuh di kawasan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Minggu (3/8/2025), membawa duka bagi keluarga besar SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya. Pilot pesawat tersebut, Fajar Andriyanto, adalah paman dari salah satu siswa kelas 4 Al-Basith SD Musix, Khanza Refa Almira.
Pagi hari setelah insiden, Khanza, bercerita kepada teman-temannya dengan antusias dan kemudian menyapa gurunya, bertanya apakah sudah mengetahui berita kecelakaan pesawat tersebut. Ia menjelaskan bahwa pesawat yang ditumpangi dua orang, pilot dan co-pilot, jatuh di daerah Bogor. Dari dua penumpang tersebut, pilot meninggal dunia, sedangkan co-pilot mengalami luka parah.
Saat gurunya menanyakan hubungan cerita tersebut dengan keluarganya, Khanza, menjawab dengan terbata-bata, “Pilot itu Om Adri, dia paman saya, Ustadz.”
Mendengar kabar duka itu, sang guru mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,” dan menyampaikan belasungkawa serta doa agar almarhum mendapatkan husnul khotimah.
Pada hari pemakaman, orang tua Khanza turut hadir dalam prosesi pemakaman militer yang berlangsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Monyetan, Probolinggo, Jawa Timur. Setelah disemayamkan di kediamannya di Jakarta, jenazah almarhum diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Probolinggo dan disambut dengan upacara militer penuh kehormatan.
Almarhum dimakamkan di sebelah makam ayahnya, Kusindriyoto, seorang purnawirawan TNI.
Menurut sepupu almarhum, Reni Kartikasari, Fajar Andriyanto dikenal sebagai sosok yang berjiwa filantropi, rendah hati, bersahaja, murah senyum, dan berdedikasi tinggi dalam dunia penerbangan.
Khanza mengenang momen terakhir bersama pamannya dengan penuh haru.
“Selamat jalan Om Andri, semoga Om mendapat tempat di surga dan pahala yang berlimpah,” ujarnya sambil mengingat pertemuan terakhir mereka saat makan bersama di Probolinggo. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments