
PWMU.CO – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah yang beralamat di Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, menggelar agenda silaturahmi antara Pengasuh Ponpes Al-Ishlah dan Wali Santri Baru Tahun Pelajaran 2025/2026. Kegiatan ini berlangsung di Maidanul Ma’had (Lapangan Pondok) pada Sabtu (5/7/2025).
Kegiatan rutin tahunan yang diikuti oleh sekitar 800 hadirin ini merupakan salah satu agenda penting Ponpes Al-Ishlah. Selain sebagai ajang silaturahmi dalam menyambut santri baru, kegiatan ini juga menjadi media sosialisasi program dan aturan pondok kepada para wali santri baru.
Turut hadir menyambut wali santri baru antara lain Pengasuh Ponpes Al-Ishlah, Drs KH Muhammad Dawam Saleh, Wakil Pengasuh, Drs KH Agus Salim Syukran MPdI, Ketua Yayasan, H Ahmad Thohir S, Kepala Madrasah Aliyah, Muhammad Arromu Harmuzi SAg MPdI, Kepala SMPM 12 Paciran, Aminuddin MPd, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW), H Abdul Kholiq SPd, Perwakilan dari STIQSI Lamongan, Azzam Musoffa Lc MIRKH. Selain itu, hadir pula staf pengasuhan santri putra dan putri.
Kepada para wali santri baru, Pengasuh Ponpes Al-Ishlah, Drs KH Muhammad Dawam Saleh, menyampaikan ucapan selamat datang di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan sejarah dan filosofi berdirinya pondok, mulai dari awal berdiri pada tahun 1986 dengan 10 santri hingga berkembang menjadi sekitar 2.000 santri dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, Drs KH Agus Salim Syukran, lebih panjang dan gamblang memaparkan tentang sistem pesantren, keunggulan pola asuh 24 jam di pesantren, dan problematika kehidupan sehari-hari di pesantren.
Ustadz kharismatik yang akrab disapa Ustadz Salim ini juga mengungkapkan latar geografis atau asal santri baru tahun ini.
“Dari 687 santri baru Al-Ishlah, sebanyak 362 masuk SMPM 12 Paciran dan 325 masuk MA Al-Ishlah Sendangagung,” ungkap suami Hj Freti Fatmawati SE MPd ini.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa adapun santri baru jenjang SMP berasal dari berbagai daerah, antara lain Sulawesi Tenggara 1, NTT 2, Kepulauan Riau 1, Kalimantan Timur 3, Kalimantan Tengah 1, Kalimantan Selatan 1, Kalimantan Barat 2, Jawa Tengah 5, Jawa Barat 1, Jambi 1, DKI Jakarta 1, Banten 1, dan Bali 1.
“Sedangkan santri baru MA Al-Ishlah berasal dari berbagai daerah, yaitu Bali 2, DKI Jakarta 3, Jambi 1, Jawa Barat 3, Jawa Tengah 7, NTT 1, Kalimantan Timur 3, Kalimantan Tengah 1, dan Kalimantan Selatan 1,” pungkasnya.

Usai sambutan dan sosialisasi sistem pesantren, acara yang dipandu oleh Ustadz Muhammad Arromu Harmuzi SAg MPdI ditutup dengan sesi tanya jawab. Kegiatan berakhir tepat pukul 12.18 WIB.
Para wali santri kemudian membubarkan diri dengan saling berjabat tangan, dan sebagian besar dari mereka menuju depan asrama untuk bertemu anak-anak mereka dan berpamitan pulang.
Suasana tangis haru-biru sempat mewarnai sebagian wali santri saat melepas dan menitipkan anaknya di pesantren ini. Pelukan dan lambaian tangan wali santri kepada anaknya seolah mengisyaratkan pesan bahwa kemandirian anak adalah hal pokok dalam pendidikan karakter, dan lambat laun si anak diharapkan bisa menerjemahkan makna perpisahan ini. (*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments