Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Positive Mental Character Vol 4: Merajut Komunikasi Positif Orang Tua, Anak, dan Sekolah

Iklan Landscape Smamda
Positive Mental Character Vol 4: Merajut Komunikasi Positif Orang Tua, Anak, dan Sekolah
Tangis pecah di momen saling bertukar harapan dan rido melalui sepucuk surat (Foto: Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ahad pagi, (14/9/2025) suasana Gedung SMA Muhammadiyah 4 Boarding School Porong terasa berbeda dari biasanya. Wajah-wajah penuh harapan hadir memenuhi ruangan. Mereka adalah para siswa kelas VII beserta teman-teman pindahan, ditemani ayah dan bunda tercinta.

Kehadiran mereka bukan sekadar untuk mengikuti acara seremonial, melainkan sebuah pertemuan istimewa bertajuk Positive Mental Character Volume 4, forum yang dirancang khusus sebagai ruang kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan anak.

Acara ini dibuka oleh Kepala SMP Muhammadiyah 4 Porong yang menegaskan bahwa parenting session semacam ini adalah bagian tak terpisahkan dari konsep pendidikan yang bermitra.

“Kita ingin membangun pola komunikasi positif yang melibatkan tiga pihak sekaligus. Anak belajar terbuka dan mengusahakan ridha orang tua. Orang tua belajar memberi perhatian, mendengarkan, dan memahami Ananda dan sekolah hadir sebagai mitra yang mendampingi proses itu. Tujuan kita sama, menjadikan hidup sebagai ibadah, serta menata arah masa depan anak-anak kita,” ujarnya penuh semangat.

Anggukan para orang tua menjadi tanda sepakat bahwa pendidikan memang membutuhkan sinergi. Untuk memperkuat tujuan tersebut, sekolah menghadirkan dua narasumber yang sarat pengalaman, yaitu Nofan Arifianto, guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Tulangan sekaligus konsultan pendidikan, dan Andrian Wicaksono, seorang Mental dan Leadership Coach sekaligus pendiri Anima 4111.

Keduanya membawa dinamika segar, menghadirkan pengalaman yang membuat forum ini jauh dari kesan seminar formal, melainkan seperti perjalanan pembelajaran bersama yang penuh makna.

Kepala Sekolah bersama kedua pemateri menyampaikan layar belakang dan tujuan Positive Mental Character sebelum membagi kelas orang tua dan anak di tempat terpisah (Foto: Istimewa/PWMU.CO)
Kepala Sekolah bersama kedua pemateri menyampaikan layar belakang dan tujuan Positive Mental Character sebelum membagi kelas orang tua dan anak di tempat terpisah (Foto: Istimewa/PWMU.CO)

Di hadapan para wali murid, Andrian Wicaksono mengingatkan bahwa Positive Mental Character bukan titik akhir, melainkan titik berangkat.

“Ini bukan sekadar parenting seminar atau childrening session. Ini awal dari proses pendidikan berkelanjutan yang akan terus melibatkan sekolah, orang tua, dan anak. Ke depan ada project kepemimpinan, public speaking, hingga outward bound, semuanya berakar dari pondasi komunikasi positif ini. Harapannya, anak-anak tidak hanya termotivasi sesaat, tetapi benar-benar mendapat pengawalan dalam tumbuh kembangnya,” jelasnya.

Sementara itu, Nofan Arifianto berbicara langsung kepada para orang tua di sesi terpisah. Dengan bahasa sederhana namun tajam, ia mengajak orang tua memahami empat jenis kedekatan yang harus dibangun bersama anak: fisikal, emosional, finansial, dan spiritual.

Ia menegaskan bahwa keempatnya menjadi fondasi komunikasi keluarga yang sehat dan harmonis. Tak berhenti di situ, ia juga memperkenalkan konsep T.I.T.I.P — Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, Percaya — sebagai pedoman utama orang tua ketika mempercayakan pendidikan anak di pesantren.

“Harus tega, karena pesantren bukan tempat membuang anak, melainkan medan perjuangan. Harus ikhlas, yakin anak kita tidak akan dibiarkan sendirian. Tawakal, serahkan hasil kepada Allah. Ikhtiar, tetap dampingi dengan doa, komunikasi, dan perhatian. Dan percaya, bahwa sekolah sungguh-sungguh membina mereka dengan sebaik-baiknya,” ucap Nofan, yang langsung mengundang banyak anggukan setuju dari para orang tua.

Puncak acara adalah momen tak terlupakan. Para siswa menuliskan surat khusus untuk ayah bunda mereka, berisi ungkapan rasa syukur, permintaan maaf, dan cita-cita yang ingin diraih. Sebaliknya, orang tua pun menulis pesan untuk sang buah hati, berisi doa, harapan, dan dukungan tanpa syarat.

Surat-surat itu kemudian ditukar di halaman sekolah, disertai pelukan hangat yang penuh arti. Beberapa mata tak kuasa menahan air, menyadari bahwa dalam kesibukan sehari-hari sering kali yang sederhana, seperti mendengarkan, menatap mata, dan memeluk dengan tulus menjadi hal yang paling dibutuhkan anak.

Tangis pun pecah, lantaran ledakan sentuhan emosi yang membuat semua pihak sadar akan kesalahan diri dan pentingnya saling memahami.

Momen itu menjadi ruang refleksi yang jujur. Orang tua belajar menurunkan ego, anak belajar menyampaikan isi hati, dan sekolah menjadi ruang aman yang mempertemukan keduanya.

Dari sini lahirlah kesadaran baru: bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ada tanggung jawab bersama yang harus terus dirajut, antara rumah, sekolah, dan lingkungan.

Adegan penutup seakan memberi pesan sederhana, namun sangat dalam: sesekali, orang tua perlu datang mendekati anak, bukan hanya menunggu. Mendengar dengan hati, merangkul dengan kasih, dan memastikan arah hidup ditapaki bersama.

Karena sejatinya, sekolah bukanlah pengganti rumah, dan guru bukanlah pengganti orang tua. Guru hanyalah jembatan emas, dan sekolah adalah rumah kedua—tempat anak merasa aman, tumbuh, dan siap menapaki masa depan dengan penuh percaya diri.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu