Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PP Aisyiyah Kukuhkan PWA Papua Pegunungan, Hadirkan Kisah Mualaf Inspiratif Mama Siti Nekwek dari Yalimo

Iklan Landscape Smamda
PP Aisyiyah Kukuhkan PWA Papua Pegunungan, Hadirkan Kisah Mualaf Inspiratif Mama Siti Nekwek dari Yalimo
Mama Siti Mariab Tun Qibtiyah Nekwek, satu-satunya Orang Asli Papua Muslim dari Kabupaten Yalimo. foto: Istimewa
pwmu.co -

Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah resmi mengukuhkan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Papua Pegunungan, Jumat (8/11/2025), menandai bertambahnya jumlah PWA menjadi 38 di seluruh Indonesia.

Di antara sosok yang dikukuhkan, hadir kisah inspiratif dari Mama Siti Mariab Tun Qibtiyah Nekwek, satu-satunya Orang Asli Papua (OAP) Muslim dari Kabupaten Yalimo yang memilih Islam dengan penuh keteguhan, meski sempat ditentang keluarganya sendiri.

Dalam pengukuhan itu terdapat salah satu anggota PWA Papua Pegunungan yang merupakan Orang Asli Papua (OAP). Bahkan dirinya merupakan satu-satunya OAP yang beragama Islam dari Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan.

Anggota Aisyiyah itu Bernama Siti Mariab Tun Qibtiyah Nekwek,  dia lebih senang dipanggil Mama Siti Nekwek atau Ibu Siti. Perempuan asal Yalimo ini merupakan mualaf, dan menjadi satu-satunya OAP dari Kabupaten Yalimo yang memeluk Agama Islam.

Kabupaten Yalimo merupakan salah satu kabupaten yang saat ini masuk administrasi Provinsi Papua Pegunungan. Mama Siti menceritakan, jarak antara Kabupaten Yalimo dengan Kota Wamena sekitar 130 km dengan waktu tempuh 3 jam lebih dengan sepeda motor.

“Jadi orang yang satu-satunya yang beragama muslim dari Kabupaten Yalimo itu satu-satunya saya saja yaitu Namanya Siti Mariab Tun Qibtiyah Nekwek. Yang asli orang Papua dari Kabupaten Yalimo yang muslim satu-satunya,” ungkapnya.

Mama Siti Nekwek dikenalkan Agama Islam oleh Hamka Yalipele – yang sekarang menjadi suaminya. Hal itu dia sampaikan Ketika diwawancara reporter Muhammadiyah.or.id di sela acara Baitul Arqam (BA) PWM dan PWA Papua Pegunungan.

Meski perjumpaannya dengan Islam dimediasi sang suami, namun Mama Siti menyampaikan, alasannya masuk Islam bukan karena pernikahan. Melainkan dorongan dari hatinya, serta harapan masa depan anak-anaknya terjamin.

“Saya memilih agama Islam tidak ada paksaan dari suami saya, dan siapapun. Dan saya menikah juga tidak ada paksaan dari siapapun termasuk Pak Ustaz. Tapi saya sendiri memilih Agama Islam,” ungkapnya.

Bukan tanpa tantangan, Mama Siti Nekwek memilih beragama Islam pada awalnya ditentang keras oleh keluarganya – bukan hanya orang tua, tapi hampir seluruh fam atau marganya.

“Memang awalnya dong kan sudah larang, mereka kasih marah ke saya dan suami saya. Kenapa harus menikah menikah dengan orang beragama Islam?,” tutur Mama Siti Nekwek menirukan ucapan orang tuanya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tak berhenti di situ, setelah dia memeluk Agama Islam cobaan kembali datang. Mama Siti Nekwek tiba-tiba lumpuh – tubuh bagian bawahnya tidak bisa bergerak. Dia menyebut ini ujian keteguhan hati untuk menguji kekuatan imannya.

Di saat sakit itu dia merasa keimanannya semakin tebal, sebab meski sakit dia tetap berpuasa dan menjalankan salat semakin lengkap lima waktu.

Islam dan Jaminan Masa Depan Anak-anaknya

Demi menjamin masa depan anak-anaknya, khususnya untuk pendidikan dan kesehatan, Mama Siti Nekwek semakin mantab beragama Islam dan bergabung dengan ‘Aisyiyah, serta ikut dikukuhkan menjadi Anggota PWA Papua Pegunungan oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah.

Mama Siti Nekwek menceritakan, saat ini dia memiliki dua anak – sebenarnya memiliki tiga. Dia menjelaskan, saat kelahiran pertamanya dia dikaruniai dua anak kembar, namun yang satu sudah meninggal. Sementara anak pertamanya yang selamat sedang dititipkan untuk belajar di Pesantren di Jawa.

“Karena kita suami dengan istrinya dalam satu agama, maka kita dapat urus anak-anak. Jangan sampai anak-anak bingung dong mau ikut ibunya atau bapaknya,” katanya.

Keterbatasan akses kesehatan dan minimnya pengetahuan menjadi petaka baginya, sehingga salah satu dari dua anak kembarnya yang masih balita meninggal dunia. Dari kejadian itu dia berkomitmen untuk membuka pengetahuan demi masa depan anak yang lebih baik dengan bergabung ke ‘Aisyiyah.

Dia berharap dengan bergabung ‘Aisyiyah dapat membuka pengetahuannya tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Termasuk juga mendalami Islam maupun belajar pengetahuan umum lainnya.

“Karena jadi ibu ‘Aisyiyah itu harus membangun pikirannya satu-satu, untuk dijalani supaya masa depannya itu sukses,” tutup Mama Qibtiyah Nekwek. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu