Mewarnai Karakter Hewan

Kegiatan berlanjut ke suasana yang lebih tenang. Mewarnai karakter hewan menjadi wahana mengekspresikan imajinasi. Satu per satu anak memilih warna, berdiskusi dengan teman, dan larut dalam dunia yang hanya dimengerti oleh kertas, krayon, dan hati mereka yang jernih.
Saat hasil mewarnai ditunjukkan, setiap karya disambut tepuk tangan dan apresiasi. Ada yang bangga, ada yang malu-malu, tapi semua merasa dihargai.
Sebelum pulang, wali kelas menutup hari itu dengan doa bersama. Lalu, dengan penuh kasih, guru pendamping memasukkan hasil kegiatan ke dalam tas kecil mereka—lembar mewarnai, cerita hari ini, dan tentu saja… seekor nila kecil hasil tangkapan sendiri, kini dalam kantong plastik berisi air, berenang pelan menanti rumah barunya.
Ketua Panitia MPLS SD Mumtaz, Prasidhi Sunusurya Widiarsa SSos MPd menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang dengan pendekatan yang menyentuh rasa dan imajinasi anak.
“Kami ingin mengenalkan sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar formal, tetapi juga sebagai ruang bermain, bertumbuh, dan berbahagia. MPLS PESONA ini kami siapkan agar anak merasa nyaman, percaya diri, dan siap menjalani proses pendidikan dengan hati gembira,” ucapnya.
Hari itu, bukan hanya anak-anak yang belajar. Tetapi para guru, wali kelas, dan siapa pun yang menyaksikan turut belajar tentang bagaimana sekolah bisa menjadi rumah kedua yang menyenangkan, hangat, dan penuh makna.
Karena di SD Mumtaz, orientasi bukan soal perkenalan, tetapi tentang membentuk rasa: bahwa belajar itu indah, sekolah itu menyenangkan, dan setiap anak adalah pesona yang layak disambut dengan cinta.
Penulis Heni Dwi Utami Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments