Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengadakan Kajian Matahari Bersinar Vol. 5 pada Sabtu (14/02/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan ideologi dan spiritualitas kader dengan menghadirkan Dr. Ridwan Joharmawan, M.Si., Ketua KORPRI Universitas Negeri Malang sekaligus dosen Departemen Kimia UM sebagai pemateri.
Kajian yang berlangsung di Masjid Imam Bukhari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang tersebut dihadiri jajaran PRM UM, FOKAL (Forum Keluarga Alumni) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UM, serta kader IMM UM. Suasana berlangsung khidmat dan penuh semangat dalam rangka menyambut Ramadan 1447 Hijriah.
Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 187 dan Dimensi Puasa
Dalam pembukaan tausiyahnya, Dr. Ridwan membacakan QS Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan kebolehan bagi suami istri untuk berhubungan pada malam hari Ramadan setelah berbuka hingga sebelum terbit fajar. Ia menerangkan bahwa ayat tersebut turun sebagai bentuk kemudahan dan keringanan bagi umat Islam. Pada awal pensyariatan puasa, ketentuannya lebih ketat, kemudian Allah SWT memberikan kelonggaran sebagai wujud kasih sayang-Nya.
Ia juga menjelaskan kesinambungan makna antara QS Al-Baqarah ayat 183 dan 187. Ayat 183 menekankan pembentukan ketakwaan secara personal, sedangkan ayat 187 menunjukkan dimensi sosial dan keluarga dalam ibadah puasa. Ramadan, menurutnya, tidak hanya membangun kesalehan individu, tetapi juga kesalehan sosial dan rumah tangga.
Dalam pemaparannya, Dr. Ridwan menyebut Ramadan sebagai hadiah istimewa bagi umat Islam. Bulan ini menjadi sarana pembinaan ruhani dan sosial untuk mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Ia menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna karena seluruh aspek kehidupan manusia telah diatur, mulai dari urusan pribadi hingga sosial, sejak lahir hingga kembali kepada Allah SWT.
Dr. Ridwan juga menyinggung peran Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam memutuskan persoalan yang masih menjadi ikhtilaf di masyarakat, termasuk pelaksanaan salat tarawih.
Di Muhammadiyah, pola yang utama adalah 4-4-3, namun diperbolehkan pula dengan pola 2-2-2-2-2-1 karena masing-masing memiliki dasar dalil. Ia mengingatkan pentingnya sikap sami’na wa atha’na terhadap keputusan organisasi yang telah melalui ijtihad kolektif.
Terkait Tarhib Ramadan, ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 M. Ia juga menyinggung fenomena gerhana matahari pada 17 Februari 2026 sebagai peristiwa astronomis yang menarik untuk dikaji. Penetapan kalender Islam di Muhammadiyah, jelasnya, didasarkan pada metode hisab yang ilmiah dan sistematis.
Keutamaan Ramadan dan Ajakan Memaksimalkan Ibadah
Ia mengingatkan keutamaan Ramadan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yakni pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, serta ampunan Allah SWT terbuka luas bagi yang bersungguh-sungguh beristigfar.
Jamaah juga diingatkan agar tidak melewatkan Lailatul Qadar, khususnya pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil dengan memperbanyak ibadah dan i’tikaf. Ia mengajak membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni, yang berarti, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Menutup kajian, ia mengajak jamaah mempersiapkan zakat, infak, dan sedekah. Fungsi zakat, menurutnya, ialah menyucikan harta sekaligus menumbuhkannya. Ia menegaskan agar tidak takut berkurang karena harta yang dikeluarkan di jalan Allah SWT akan dilipatgandakan.
Melalui Kajian Matahari Bersinar Vol. 5 ini, jamaah diharapkan menyambut Ramadan dengan kesiapan ilmu, iman, dan amal sehingga bulan suci menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa serta berkontribusi bagi umat dan bangsa.






0 Tanggapan
Empty Comments