Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak kelahirannya hingga hari ini hadir sebagai organisasi dan gerakan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan sekadar simbol atau seremonial belaka.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Probolinggo di Paiton, Sabtu (17/1/2026).
Mengawali sambutannya, Prof. Mu’ti menyampaikan terima kasih atas kesabaran dan sambutan hangat warga Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo.
“Saya menyampaikan terima kasih atas kesabaran menunggu dan kehadiran kita semua di Probolinggo. Milad ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum memperkuat peran Muhammadiyah sebagai organisasi dan gerakan yang benar-benar hadir untuk kemaslahatan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ukuran terbaik manusia, sebagaimana nilai Islam, adalah kebermanfaatan. Prinsip tersebut, menurutnya, harus ditarik secara organisatoris.
“Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat. Maka organisasi dan gerakan terbaik juga adalah yang paling bermanfaat. Bukan sekadar ‘halo-halo’ atau ‘hola-hola’, bukan omon-omon, omdo, atau nato—no action, talk only,” tegasnya.
Prof. Mu’ti juga mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam bermedia sosial. Menurutnya, dakwah dan gerakan Muhammadiyah harus membangun kesalehan personal sekaligus keadaban sosial.
“Bijaklah bermedia sosial. Muhammadiyah harus menjadi teladan dalam membangun kesalehan dan keadaban, bukan memperuncing perbedaan atau menebar kegaduhan,” pesannya.
Dalam sambutannya, Prof. Mu’ti turut menanggapi pertanyaan dari seorang simpatisan Muhammadiyah asal Filipina yang mempertanyakan bagaimana Indonesia jika tidak ada Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah hadir bahkan sebelum Indonesia merdeka dan berperan penting bersama elemen bangsa lainnya dalam membangun negeri.
“Muhammadiyah lahir tahun 1912, jauh sebelum Indonesia berdiri. Bersama tokoh-tokoh organisasi lain, Muhammadiyah ikut membangun fondasi Indonesia,” jelasnya.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan tema Milad ke-113 Muhammadiyah, yang selaras dengan amanat konstitusi, khususnya frasa dalam Pembukaan UUD 1945 tentang memajukan kesejahteraan umum.
“Sejak awal, Muhammadiyah berusaha mewujudkan amanat itu. Bahkan pada masa awal berdirinya, Muhammadiyah telah merumuskan empat bidang utama yang berkaitan langsung dengan penguatan sumber daya manusia dan pencerdasan bangsa,” paparnya.
Prof. Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan merupakan formula utama Muhammadiyah dalam membangun peradaban, sebagaimana pesan wahyu pertama dalam Surah Al-‘Alaq.
“Surat Al-‘Alaq menegaskan pentingnya ilmu. Karena itu, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai jalan dakwah dan pembangunan peradaban,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah hadir bukan untuk mencari keuntungan finansial, melainkan untuk kebermanfaatan.
“Muhammadiyah tidak hadir untuk profit, tetapi untuk manfaat. Inilah dakwah Rasulullah, karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, dan Muhammadiyah mengikuti jejak dakwah tersebut,” tegasnya.
Menurut Prof. Mu’ti, meskipun secara struktural dan sumber daya terlihat sederhana, Muhammadiyah memiliki kekuatan besar dalam amal nyata.
“Muhammadiyah boleh hidup sederhana, tetapi untuk ilmu dan pendidikan kita harus berani jor-joran. Karena dari sanalah peradaban dibangun,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Prof. Mu’ti mengingatkan pentingnya penguatan karakter anak, salah satunya melalui internalisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat sebagai fondasi membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah di Kabupaten Probolinggo ini menjadi penegasan kembali bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang terus menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.






0 Tanggapan
Empty Comments