Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Abdul Mu’ti: Puasa Bukan Tujuan, tapi Jalan Panjang Menuju Takwa

Iklan Landscape Smamda
Prof. Abdul Mu’ti: Puasa Bukan Tujuan, tapi Jalan Panjang Menuju Takwa
Prof. Abdul Mu’ti
pwmu.co -

Ramadan 1447 Hijriah kembali menyapa umat Islam dengan semangat baru. Menteri Pendidikan Dasar dab Menengah (Mendikdaskan)  Prof. Abdul Mu’ti mengajak umat menjadikan puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses panjang pembentukan karakter takwa yang berkelanjutan.

Mengawali ceramahnya, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menyampaikan rasa syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan suci.

Prof. Abdul Mu’ti menegaskan, meskipun umat Islam telah berkali-kali menunaikan puasa, capaian takwa tidaklah selesai dalam satu Ramadan saja.

“Puasa disyariatkan untuk membentuk manusia yang bertakwa. Tetapi menjadi manusia bertakwa itu bukan proses instan. Ia adalah perjalanan panjang yang terus diperbarui setiap tahun,” ujarnya seperti dilansir dari kanal Youtube Kemdikdasmen.

Menurut Prof. Abdul Mu’ti, puasa adalah bagian dari proses pendidikan ruhani yang berkelanjutan. Setiap Ramadan menjadi momentum evaluasi dan peningkatan kualitas diri.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana pembentukan kepribadian yang lebih mulia.

Dia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus-shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa, menurutnya, merupakan kualifikasi kemuliaan manusia, yang menentukan derajatnya baik di dunia maupun di akhirat.

Empat Dimensi Puasa

Dalam penjelasannya, Prof. Abdul Mu’ti memetakan puasa ke dalam empat dimensi penting.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pertama, dasar pelaksanaan puasa. Puasa memiliki landasan teologis yang jelas dalam Al-Qur’an. Ia bukan tradisi, melainkan perintah Allah yang bersifat wajib bagi orang-orang beriman.

Kedua, niat. Ibadah hanya bernilai jika diniatkan semata-mata karena Allah. Tanpa keikhlasan, puasa hanya menjadi aktivitas fisik tanpa makna spiritual.

Ketiga, tata cara (kaifiah). Puasa harus dilaksanakan sesuai syariat dan tuntunan Rasulullah. Ada aturan yang harus dipatuhi, mulai dari waktu hingga hal-hal yang membatalkan.

Keempat, hikmah. Puasa tidak berhenti pada pelaksanaan teknis. Setiap ibadah memiliki makna dan nilai yang harus diraih. Hikmah utama puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa.

“Puasa bukanlah tujuan. Puasa adalah sarana yang menuntun, membimbing, dan membentuk manusia menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa,” tegasnya.

Ceramah ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan yang berulang. Ia adalah ruang transformasi diri. Takwa tidak lahir dalam satu malam, tetapi melalui disiplin, keikhlasan, dan konsistensi ibadah.

Prof. Abdul Mu’ti menutup tausiyahnya dengan doa agar puasa hari pertama di Ramadan 1447 H diterima Allah SWT dan menjadi bagian dari proses panjang menuju pribadi yang lebih bertakwa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu