Staf Ahli Kemendikdasmen RI, Prof. Dr. Biyanto MAg, memaparkan arah baru kebijakan pendidikan nasional dalam acara Silaturrahmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di City Forest Arum Sabil, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Ahad (14/9/2025).
Acara ini dihadiri pimpinan 9 PDM, yakni Kota dan Kabupaten Pasuruan, Kota dan Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, beserta PCA dan tokoh Ortom Muhammadiyah lainnya.
Dalam ceramah lebih dari satu jam, Prof. Biyanto menekankan pentingnya partisipasi semesta, konsep yang ia kutip dari Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti sebagai kunci memajukan pendidikan.
“Menangani pendidikan tidak bisa hanya diserahkan satu pihak. Harus ada partisipasi semesta,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, pendidikan Islam telah memberi teladan melalui KH Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah mengajarkan metode pembelajaran mendalam, terbukti dari kajiannya terhadap Surat Al-Ma’un hingga tiga bulan lamanya, dan Surat Al-‘Asr selama delapan bulan.
“Belajar dari KH Ahmad Dahlan, ayat-ayat al-Qur’an bisa menjadi sekolah, rumah sakit, bahkan panti asuhan. Itulah pendidikan berbasis aksi nyata,” ujarnya.
Khazanah Pesantren dan PISA
Menurutnya, khazanah pesantren juga sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman. Namun, ia menyoroti hasil survei internasional Programme for International Student Assessment (PISA) yang masih menunjukkan rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia.
Solusinya, kata Prof. Biyanto, ada pada deep learning atau pembelajaran mendalam, yakni mendorong pemahaman yang utuh meski dengan materi lebih ringkas.
Ia juga menjelaskan kurikulum baru yang memperkuat keterampilan teknologi.
“Coding dan kecerdasan artifisial harus diajarkan sejak dini. Anak-anak kita akan hidup di zaman yang jauh berbeda dengan kita,” ujarnya, sambil mengutip pesan Umar bin Khattab tentang mendidik anak sesuai zamannya.
Guru Ujung Tombak
Lebih lanjut, Prof. Biyanto menegaskan bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan. Untuk itu, Kementerian menyiapkan kebijakan baru seperti direct transfer insentif, pelatihan intensif, hingga satu hari khusus untuk pengembangan diri guru.
“Guru tidak boleh berhenti belajar. Ada satu hari di mana guru diminta tidak mengajar, tapi belajar dan membaca. Kita ingin guru menjadi pusat inovasi, bukan sekadar pengajar,” tegasnya.
Ceramahnya yang disampaikan dengan gaya bercerita membuat hadirin berulang kali mengangguk setuju dan memberikan tepuk tangan.
“Pendidikan adalah kerja bersama. Kita harus siap berubah, karena dunia terus berubah,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments