Sempat tertunda selama satu bulan akibat duka erupsi Gunung Semeru, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang akhirnya sukses menggelar Puncak Peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah pada Minggu (21/12/2025).
Acara yang berpusat di Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan Brantas, ini menjadi momentum “obat rindu” bagi sekitar 1.500 warga persyarikatan yang hadir.
Meski lokasi berpindah dari rencana awal di Pendopo Kabupaten, suasana tetap berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur.
Solidaritas di Atas Seremonial
Sejatinya, acara ini terjadwal pada Rabu (19/11/2025) lalu. Namun, PDM Lumajang mengambil keputusan besar untuk menunda perhelatan tersebut sebagai bentuk empati terhadap korban erupsi Semeru.
“Kami tidak nyaman menggelar pesta sementara saudara-saudara kami di lereng Semeru berduka karena rumah dan kampung mereka tertimbun material erupsi” ungkap Sekretaris PDM Lumajang, Zainal Abidin SPd.
Keputusan ini pun menuai apresiasi luas sebagai cerminan nyata prinsip solidaritas Muhammadiyah.
Apresiasi dari Pemerintah Daerah
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan rasa bangganya terhadap sinergi Muhammadiyah dengan pemerintah.
Ia secara khusus menyoroti peran MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) yang dinilai sangat cepat dan tepat dalam merespons bencana.
“Saya apresiasi tinggi. Keterlibatan Muhammadiyah sangat luar biasa dalam menanggapi bencana. Mudah-mudahan ke depan semakin maju” puji Bupati Indah.
Selain itu, prestasi gemilang juga turut diumumkan, di antaranya penghargaan untuk MDMC dari Bupati serta gelar Tata Kelola Terbaik untuk Lazismu Lumajang dalam ajang Lazismu Award Jatim 2025.
Empat Pilar “Islam Berkemajuan”
Puncak acara terisi dengan tausiyah mendalam dari Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof Hilman Latief MA PhD. Ia memaparkan empat esensi Islam Berkemajuan yang harus dipegang teguh oleh kader:
- Gerakan Dakwah: Setiap langkah organisasi harus bermuara pada misi dakwah.
- Gerakan Tajdid (Pembaruan): Terus berinovasi, termasuk dalam mengembangkan fiqh kebencanaan.
- Gerakan Ilmu: Gigih menuntut ilmu dan meningkatkan minat baca di tengah gempuran gawai.
- Gerakan Amal: Memperbanyak aksi sosial nyata melalui amal usaha.
“Generasi pendahulu telah membangun persyarikatan ini dengan segala keterbatasan. Tugas kita sekarang adalah meneruskan dan memajukan” tegas Prof Hilman.


0 Tanggapan
Empty Comments