Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Khozin: Muhammadiyah Harus Hidup dalam Setiap Aktivitas

Iklan Landscape Smamda
Prof Khozin: Muhammadiyah Harus Hidup dalam Setiap Aktivitas
pwmu.co -
Prof Khozin MSi saat menyampaikan materi pada Baitul Arqom AUM PCM Lowokwaru (Ahmad Afwan Yazid/pwmu.co)

PWMU.CO – Rangkaian kegiatan Baitul Arqam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lowokwaru, Kota Malang ditutup dengan menghadirkan pemateri inspiratif, Jumat-Sabtu (11-12/4/2025). Kali ini hadir Prof Khozin MSi, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, yang menyampaikan materi bertema Muhammadiyah sebagai Nilai: Menempatkan Muhammadiyah dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dalam rangka penguatan ideologi dan karakter pendidikan, acara ini menjadi refleksi penting bagi seluruh pendidik dan kader Muhammadiyah untuk menjadikan nilai-nilai gerakan sebagai ruh dalam kehidupan pribadi, sosial, dan profesional.

Dalam penyampaian materinya, Prof Khozin menekankan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi sebuah sistem nilai yang harus hidup dalam perilaku, keputusan, dan aktivitas sehari-hari warganya, khususnya para pendidik dan karyawan di lingkungan AUM.

Beliau menguraikan lima karakter Islam berkemajuan yang menjadi fondasi nilai-nilai Muhammadiyah dalam membentuk kepribadian dan budaya kerja:

  1. Dibangun di atas landasan tauhid. Tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan dasar dari etika, tata kelola, dan layanan. Tauhid menjadikan setiap tindakan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, termasuk dalam dunia pendidikan, manajemen, dan pelayanan masyarakat dalam amal usaha Muhammadiyah.
  2. Berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Gerakan Muhammadiyah menjadikan al-Quran dan Sunnah sebagai sumber utama pijakan berpikir dan beramal. Nilai-nilai dari kedua sumber ini harus hidup dalam keputusan, kebijakan, hingga hal terkecil dalam kehidupan sehari-hari. Segala aktivitas harus memiliki rujukan tekstual yang kuat sebagai landasan amal yang sah dan berkah.
  3. Menghidupkan ijtihad dan tajdid. Prof Khozin menekankan pentingnya menjadikan sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai rumah pemikiran yang hidup, progresif, dan inovatif. Semangat tajdid (pembaruan) harus membentuk karakter guru dan siswa yang adaptif terhadap perubahan zaman. Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan. Maka, pemikiran kritis dan inovatif menjadi karakter sekolah-sekolah Muhammadiyah agar terus relevan dengan zaman.
  4. Mengembangkan sikap moderat (tawassuth). Dalam menghadapi perbedaan dan keberagaman, warga Muhammadiyah diajak untuk menjaga keseimbangan, tidak ekstrem dalam berpikir maupun bertindak. Sikap seimbang, adil, dan tidak ekstrem menjadi wajah Muhammadiyah yang inklusif. Dalam konteks pendidikan, moderasi penting agar tercipta lingkungan yang toleran, terbuka, dan harmonis.
  5. Menebarkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Muhammadiyah harus menjadi rahmat bagi semua: umat, bangsa, dan semesta, melalui pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Muhammadiyah hadir untuk memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia. Etos pelayanan yang membawa rahmat dan maslahat harus menjadi bagian dari keseharian guru, siswa, dan pengelola amal usaha.

“Nilai-nilai ini tidak boleh hanya berhenti pada teori, tapi harus diwujudkan dalam cara kita bekerja, melayani, dan mendidik. Karena itu, warga Muhammadiyah harus terus menjadi pelaku perubahan yang berakhlak dan visioner. Nilai Muhammadiyah harus kita internalisasi, tidak hanya untuk diceramahkan, tetapi juga menjadi napas dalam pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam keluarga,” tutur Prof Khozin.

Kegiatan ini menjadi pemantik semangat bagi para peserta untuk menjadikan Muhammadiyah tidak hanya sebagai identitas formal, tetapi sebagai ruh dalam bekerja dan berinteraksi.

Penulis Ahmad Afwan Yazid Editor Zahra Putri Pratiwig

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu