Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Nazaruddin Malik: Islam Berkemajuan Itu Bukan Slogan, Tapi Cara Hidup

Iklan Landscape Smamda
Prof. Nazaruddin Malik: Islam Berkemajuan Itu Bukan Slogan, Tapi Cara Hidup
Prof. Nazaruddin Malik. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Islam berkemajuan itu tidak cukup berhenti pada slogan. Ia harus hadir sebagai perilaku sehari-hari, sebagai perpaduan antara iman yang kokoh dan amal saleh yang nyata.

Pesan itu disampaikan Prof. Nazaruddin Malik, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dalam sebuah tausiyah yang dilansir di kanal Youtube LPCRPM PDM Kota Probolinggo.

Nazaruddin mengawali tausiyahnya dengan refleksi tentang sejarah perjuangan Muhammadiyah yang penuh tantangan.

Dia menegaskan, semangat Islam berkemajuan bukanlah barang baru, melainkan warisan yang telah diperjuangkan oleh para tokoh pendiri Muhammadiyah.

“Kita ini hanya melanjutkan estafet perjuangan. Kunci utamanya adalah kesungguhan, konsistensi, dan keikhlasan,” ucap rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Untuk menggambarkan spirit Islam berkemajuan, Nazaruddin menyinggung perkembangan UMM. Dia mengingatkan, UMM yang sekarang berdiri megah dengan ribuan mahasiswa, dulu hanyalah kawasan yang dianggap tidak bergengsi.

“Dulu, kawasan UMM dikenal sebagai barongan, tempat jin buang anak. Tapi para tokoh Muhammadiyah tidak menyerah. Dengan doa, ikhtiar, dan semangat berkemajuan, mereka membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap mustahil bisa berubah menjadi kenyataan,” katanya.

Bagi Nazaruddin, kisah itu menjadi teladan nyata bahwa Islam berkemajuan selalu menghadirkan optimisme, keberanian, dan kerja kolektif.

Nazaruddin kemudian menguraikan tiga pilar penting dalam mewujudkan Islam berkemajuan. Pertama, memperkokoh Iman dan tauhid. Menurutnya, keimanan adalah fondasi yang tidak boleh goyah meski diterpa cobaan.

Dia mengutip ayat Al-Qur’an tentang sabar dan syukur sebagai kunci menghadapi kehidupan. “Iman yang kokoh membuat kita tidak mudah goyah oleh fitnah, godaan, atau musibah. Iman itu daya tahan kita,” tegasnya.

Kedua, sebut Nazaruddin, ,enggali ilmu pengetahuan. Dia menegaskan pentingnya tradisi belajar sepanjang hayat.

Nazaruddin menyebut, kemajuan peradaban Islam dulu lahir karena umat tidak berhenti menuntut ilmu.

“Umat Islam dulu punya Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun. Mereka belajar, meneliti, dan menghasilkan karya yang hingga kini masih menjadi rujukan. Semangat itu harus kita hidupkan kembali,” jelasnya.

Ketiga, menumbuhkan empati dan kemanusiaan. “Pilar terakhir adalah kepedulian sosial. Seorang Muhammadiyah itu peka. Kalau ada tetangga kesulitan, dia membantu. Kalau ada masyarakat miskin, dia tergerak. Kalau ada bangsa yang sakit, dia ikut mencari obat. Empati inilah ruh Muhammadiyah sejak berdiri,” ucapnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Nazaruddin mengaitkan tiga pilar itu dengan visi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin. Menurutnya, Islam yang sejati adalah Islam yang menghadirkan kesejukan, memberi solusi, dan menjadi teladan.

“Rahmat itu tidak sekadar ucapan. Rahmat itu hadir dalam perilaku: tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyakiti tetangga, menjaga masjid, mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Hal-hal kecil itu jika dilakukan berjamaah akan membentuk budaya besar yang bermanfaat bagi umat manusia,” ujarnya.

Dia mengingatkan jamaah bahwa Islam tidak boleh hanya dipahami dalam kerangka ritual. Ibadah memang penting, tetapi tujuan akhirnya adalah lahirnya akhlak mulia dan perilaku yang menebar manfaat.

Nazaruddin juga menyinggung konsep ihsan. Ihsan, menurutnya, bukan sekadar berbuat baik, tetapi berbuat seakan-akan selalu diawasi Allah.

“Ihsan itu kalau kita kerja, ya kerja sungguh-sungguh, profesional, tidak asal-asalan. Kalau jadi pengusaha, ya tidak menipu. Kalau jadi pengurus persyarikatan, ya amanah. Itu makna ihsan yang harus kita jalani,” jelasnya.

Salah satu pokok penting dalam tausiyah Nazaruddin adalah jihad ekonomi. Dia mengingatkan bahwa sejak Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015, jihad ekonomi menjadi pilar ketiga Muhammadiyah, setelah dakwah dan tajdid.

“Jihad ekonomi itu artinya kita melahirkan wirausahawan Muhammadiyah dengan semangat social entrepreneur. Usaha yang kita jalankan bukan hanya untuk keuntungan pribadi, tetapi juga untuk jamaah dan masyarakat luas,” katanya.

Nazaruddin mencontohkan banyaknya perguruan tinggi Muhammadiyah yang kesulitan finansial, bahkan hampir tutup. Namun berkat semangat jihad ekonomi dan ta’awun, banyak yang bisa bangkit kembali.

“Itulah bukti bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi juga organisasi yang menggerakkan roda ekonomi umat,” tegasnya.

Nazaruddin mengajak jamaah Muhammadiyah untuk membawa semangat Islam berkemajuan ke semua lini kehidupan.

“Kalau iman diperkuat, ilmu digali, dan empati diasah, InsyaAllah Islam berkemajuan itu nyata. Tidak hanya terasa di masjid, tapi juga di rumah, di kampus, di pasar, bahkan di ruang-ruang publik. Itulah makna Islam sebagai rahmat bagi semesta alam,” katanya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu