Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, menegaskan pentingnya penulisan sejarah Muhammadiyah yang objektif, jujur, dan berbasis data.
Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Riset Buku Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur dan Konsolidasi Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jatim, yang digelar di At-Taawun Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (13/12/2025).
Menurut Sukadiono, sejarah kerap mengalami perubahan karena kepentingan politik maupun kepentingan kelompok tertentu. Namun, dia optimistis sejarah Muhammadiyah dapat ditulis secara objektif karena didukung oleh data dan bukti yang kuat.
“Banyak tulisan sejarah berubah karena kepentingan politik. Insya Allah sejarah Muhammadiyah ditulis sangat objektif, dengan data yang juga sangat objektif,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sukadiono menyampaikan tiga pesan utama mengenai pentingnya mempelajari sejarah. Pesan pertama, sejarah harus dijadikan sarana belajar, baik dari keberhasilan maupun kegagalan yang pernah dialami Muhammadiyah.
Dia menekankan bahwa melihat sejarah tidak cukup hanya menonjolkan kelebihan, tetapi juga berani mengakui kekurangan agar menjadi pelajaran berharga, terutama dalam pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Dari sejarah, kita bisa belajar bagaimana mengelola amal usaha Muhammadiyah, baik yang berhasil maupun yang tidak berjalan optimal,” ujar pria yang juga menjabat Deputi Bidang Kesehtan Kemenko PMK ini.
Sebagai contoh, dia menyebut rumah KH Mas Mansur di Jalan Kalimas Udik, Surabaya, serta keberadaan RS PKU Muhammadiyah sebagai bukti sejarah yang nyata.
Sukadiono juga menyinggung kawasan Jalan Genteng Muhammadiyah, yang dahulu menjadi lokasi SD Muhammadiyah 1 Surabaya.
“Dulu di Jalan Genteng Muhammadiyah ada SD Muhammadiyah 1. Sekarang sudah tidak ada. Ini bukti fisik dan sekaligus pelajaran dari sisi tata kelola yang perlu kita pahami,” jelasnya.
Sukadiono juga mengulas perjalanan RS PKU Muhammadiyah Surabaya. Dia menyebut bahwa sebelum Al-Irsyad berkembang pesat, PKU Muhammadiyah sempat berada pada posisi yang lebih maju, namun kemudian mengalami kecenderungan kurang berkembang.
“Hal-hal seperti ini tidak boleh dinafikan dalam penulisan sejarah,” tandasnya.
Dia turut mengingatkan peran tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pernah memimpin RS PKU Muhammadiyah Surabaya, seperti dr. Soetomo sebagai direktur pertama dan dr. Soewandi sebagai direktur kedua.
“Kedua nama itu kini diabadikan menjadi rumah sakit di Surabaya. Mereka semua adalah kader Muhammadiyah,” ungkapnya, lalu disambut tepuk tangan hadirin.
Menghargai Para Pendahulu
Pesan penting lain yang disampaikan Sukadiono adalah pentingnya menghargai perjuangan para pendahulu. Dia menyebut sejumlah nama tokoh Muhammadiyah yang diabadikan menjadi nama gedung, baik di Sidoarjo maupun Surabaya.
“Di Sidoarjo ada Gedung Syafiq A. Mughni dan Achmad Jainuri. Di Surabaya ada gedung dengan nama dr. Suherman, Noto Adam, hingga Zainuddin Maliki,” paparnya.
Menurutnya, di balik setiap kesuksesan Muhammadiyah hari ini, terdapat perjuangan panjang para tokoh terdahulu yang sering kali luput dari perhatian.
“Di balik kesuksesan, selalu ada pendahulu yang berjuang. Tanpa KH Ahmad Dahlan, tidak akan ada Muhammadiyah,” ujarnya penuh penekanan.
Pesan kedua, lanjut Sukadiono, mempelajari sejarah sangat penting untuk memperkuat identitas Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang memiliki kontribusi besar di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Dia menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam dengan aset dan amal usaha yang sangat kuat, yang bertumpu pada tiga pilar utama.
“Tiga pilar Muhammadiyah adalah kesehatan, pendidikan, dan sosial. Inilah identitas kita yang harus terus dijaga dan diperkuat,” jelasnya.
Dengan memahami sejarah, kader Muhammadiyah diharapkan semakin memiliki rasa memiliki terhadap organisasi dan mampu menjaga nilai-nilai dasar yang telah dirintis sejak awal.
Beradaptasi di Masa Depan
Pesan ketiga, sejarah menurut Sukadiono, bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga bekal penting untuk menghadapi masa depan. Ia menekankan bahwa dari sejarah, Muhammadiyah dapat belajar beradaptasi, berjuang, dan pantang menyerah menghadapi tantangan zaman.
Ia mencontohkan proses pendirian Universitas Muhammadiyah di Malaysia yang penuh dengan rintangan. Upaya pendirian kampus tersebut, menurutnya, tidak mudah dan sempat mengalami penolakan di beberapa wilayah.
“Dulu di Johor ditolak, di Kuala Lumpur juga sulit. Tapi timnya pantang menyerah,” kisahnya.
Hingga akhirnya, perjuangan tersebut membuahkan hasil ketika mendapatkan jalan keluar dengan dipinjamkannya tempat oleh Raja Muda Perlis.
“Dari situ kita belajar semangat, ketekunan, dan daya juang. Sejarah harus menjadi inspirasi untuk melangkah ke depan,” tandas Sukadiono.
Dia menuturkan, kegiatan FGD inidiharapkan menjadi langkah awal yang kuat dalam merumuskan penulisan sejarah Muhammadiyah Jawa Timur yang komprehensif, objektif, dan mampu menjadi rujukan bagi generasi Muhammadiyah di masa kini dan masa mendatang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments