
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan sukses menggelar kajian rutin Ahad Pagi di Masjid Besar Baiturrahman, Jl. Raya Kemantren, Tulangan, Sidoarjo pada Ahad (13/07/2025). Kajian ini menghadirkan Prof Dr H Syafiq A. Mughni MA—Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) sekaligus Pimpinan Pusat Muhammadiyah—sebagai narasumber utama dengan tema “Syiah dan Yahudi Konflik: Di Mana Posisi Ahlussunnah?”
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA), serta ortom-ortom se-Kecamatan Tulangan. Dalam sambutan pembuka, Ketua PCM Tulangan, Abdillah Adhie, menyampaikan rasa haru karena kembali bersua dengan Prof Syafiq yang dahulu menjabat Rektor UMSIDA saat dirinya masih menjadi Ketua Senat Mahasiswa.
“Atas nama seluruh warga Muhammadiyah Tulangan, kami bersyukur atas kehadiran Prof. Syafiq yang akan memberikan pencerahan yang sangat dinantikan,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Prof Syafiq membuka dengan penjelasan historis mengenai peran umat Islam dalam melindungi kaum Yahudi saat mereka mengalami penindasan, baik di masa kekuasaan Kristen Katolik di Andalusia maupun dalam kekejaman Hitler.
“Mereka justru meminta perlindungan kepada umat Islam,” terang Prof. Syafiq.
Berlanjut ke konteks kekinian, ia menyoroti Iran sebagai pusat Syiah yang kerap diposisikan sebagai musuh Sunni. Menurutnya, konflik seperti yang terjadi antara Iran dan Irak merupakan bagian dari sejarah lama yang kini tengah diupayakan untuk direkonsiliasi.
“Kondisi hubungan Sunni-Syiah hari ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu, terutama pada abad ke-10 dan 11. Konferensi Persatuan Islam Internasional di Riyadh dan Bahrain awal tahun ini adalah bentuk nyata upaya ulama dunia dalam menyatukan keduanya, agar tidak mudah diadu domba oleh Barat,” ujarnya.
Prof Syafiq juga membantah isu yang berkembang di Indonesia bahwa Syiah memiliki kitab suci dan nabi yang berbeda.
“Saat saya berkunjung ke Iran, saya melihat langsung bahwa mereka membaca mushaf Usmani, sama seperti umat Islam di Indonesia dan negara lainnya,” jelasnya.
Klasifikasi Syiah

Ia juga mengklasifikasikan Syiah dalam tiga kategori: ekstrem, moderat, dan liberal. Menurutnya, saat ini banyak pengikut Syiah yang telah berubah dan mendekati prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.
“Selama tidak menyentuh prinsip dasar seperti akidah dan tauhid, Muhammadiyah terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun, termasuk Iran,” tambahnya.
Terkait konflik terkini antara Iran dan Israel, Prof Syafiq menyatakan bahwa Iran mempertahankan martabatnya sebagai negara berdaulat dengan berani membalas serangan.
“Iran satu-satunya negara Teluk yang berani menentang Israel dan Amerika Serikat serta menyatakan siap membantu Palestina,” ungkapnya.
Menutup kajian, Prof Syafiq mengajak umat Islam untuk cerdas menyikapi konflik ini. Ia menekankan pentingnya solidaritas dan tidak terprovokasi oleh upaya Barat yang mencoba membenturkan Sunni dan Syiah.
“Semoga keberanian Iran dapat membuka mata negara-negara Teluk lainnya untuk bersatu dalam membela Palestina dan tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan asing,” pungkasnya. (*)
Penulis Sumardani Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments