
PWMU.CO – “Kerusakan dalam rumah tangga, masyarakat, hingga negara berakar dari hilangnya kejujuran. Karena itu, kejujuran di zaman ini telah menjadi makhluk langka.”
Pernyataan tajam dan menggugah itu meluncur dari lisan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr H Thohir Luth, MA, saat menyampaikan materi dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, di Masjid An-Nur, Ahad (20/7/2025).
Sosok guru besar Fakultas Ilmu Hukum Islam Universitas Brawijaya Malang itu tampil memikat sejak awal kajian, bukan hanya karena kapasitas akademiknya, tetapi juga karena reputasinya sebagai tokoh senior Muhammadiyah. Beliau adalah Ketua PWM Jawa Timur periode 2010–2015, dan kini menjabat Wakil Ketua PWM Jatim periode 2022-2027.
Ruang utama Masjid An-Nur penuh sesak oleh ratusan jamaah dari berbagai cabang dan ranting Muhammadiyah se-Sidoarjo. Mereka datang dari beragam latar belakang profesi, mulai dari guru, karyawan, PNS, hingga pengusaha. Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat keilmuan, mereka larut dalam pesan-pesan moral Prof Thohir Luth tentang pentingnya membangkitkan kembali kejujuran sebagai fondasi utama kehidupan.
Dua nikmat terbesar
Sebagai pembuka, tokoh Muhammadiyah Jatim yang saat ini juga sedang menjabat Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur periode 2020–2025 itu mengajak untuk bersyukur dalam dua nikmat besar, yaitu nikmat sehat dan nikmat sempat (waktu.red). Kedua nikmat ini memang seringkali manusia lupakan.
“Nikmat sehat saja tidak cukup kalau tidak punya waktu. Pun sebaliknya, punya waktu tapi tidak sehat juga tidak akan bisa hadir di majelis ini. Maka, marilah kita manfaatkan dua nikmat itu untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Thohir Luth menyampaikan tema “Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran di Era Modern”. Beliau mengaku terinspirasi dari kasus hukum yang sedang menjerat seorang tokoh publik bernama Tom Lembong yang tervonis penjara 4,5 tahun.
“Judul ini saya ambil karena kejujuran saat ini betul-betul jadi barang mahal. Kalau ini dikaji di kampus, butuh 360 semester pun belum tentu selesai,” seloroh beliau, yang kemudian mendapatkan sambutan tawa dari jamaah.
Alquran menjanjikan keuntungan besar
Dalam ulasannya, Prof Thohir Luth menukil dua ayat penting dari Al-Quran terkait pentingnya kejujuran. YAitu QS Al-Ahzab ayat 70–71 dan QS At-Taubah ayat 119.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Maka Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar” (QS Al-Ahzab ayat 70–71).
Menurutnya, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa kejujuran bukan hanya ajaran moral, tetapi bagian dari jalan menuju kemenangan spiritual.
“Dengan berkata jujur, amal kita diperbaiki, dosa kita diampuni. Ini saham spiritual yang nilainya tak bisa ditukar dengan saham-saham duniawi,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Thohir Luth menyoroti maraknya krisis kejujuran di berbagai sektor kehidupan. Dari rumah tangga, dunia usaha, birokrasi, hingga lembaga penegak hukum.
“Polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat justru diplesetkan menjadi ‘putar otak lihat situasi’. Jaksa yang mestinya menuntut keadilan dicurigai dengan ungkapan: ‘jika ada kasus, sediakan amplop’. Bahkan hakim yang seharusnya netral pun jadi bahan guyonan: ‘Hubungi Aku Kalau Ingin Menang’,” ungkapnya dengan nada miris.
Karena itu, beliau menyatakan bahwa plesetan-plesetan itu meski terkesan candaan, harus menjadi refleksi berkaitan dengan krisis kepercayaan publik akibat ketidakjujuran yang merajalela.
“Saya tidak mendapatkan istilah-istilah itu dari Mbah Google, tapi dari perenungan atas realitas kehidupan kita saat ini,” tambahnya.
Simpanan abadi
Mengakhiri kajian, Prof Thohir Luth mengajak jamaah untuk selalu menanam dan menjaga kejujuran sebagai harta yang paling mahal dan abadi.
“Kita boleh miskin harta, tapi jangan sampai miskin integritas. Karena orang jujur adalah orang paling kaya secara spiritual. Itulah simpanan yang akan menemani kita fi dunya wal akhirah,” pesannya.
Beliau menggarisbawahi bahwa kejujuran dan takwa adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan.
“Kalau ada orang bertakwa tapi tidak jujur, berarti ada sesuatu yang salah. Ada something wrong,” pungkasnya sambil tersenyum.***
Penulis Zulkifli, Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments