Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Profil Anwar Abbas: Putra Lima Puluh Kota yang Menduduki Kursi Wakil Ketua Umum MUI Tiga Periode

Iklan Landscape Smamda
Profil Anwar Abbas: Putra Lima Puluh Kota yang Menduduki Kursi Wakil Ketua Umum MUI Tiga Periode
Anwar Abbas (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Lahir di Jorong Balai Mansiro, Nagari Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota pada 15 Februari 1955, Anwar Abbas mewarisi karakter lugas dan kritis khas cendekiawan Minangkabau. Awal kariernya dimulai dengan merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan tinggi, di mana ia memulai pengabdiannya sebagai dosen tetap PNS di UIN Syarif Hidayatullah.

Sebagaimana filosofi merantau orang Minang untuk membawa manfaat bagi kampung halaman dan bangsa, ia merangkak dari posisi akademisi di UHAMKA hingga menjadi Direktur SDM di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, sembari terus mendalami ilmu ekonomi Islam hingga meraih gelar Doktor pada tahun 2008.

Titik balik yang mengukuhkan namanya sebagai tokoh nasional terjadi saat kepiawaiannya dalam berorganisasi dan ketajaman analisis ekonominya membawa beliau ke pucuk pimpinan Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sebagai representasi intelektual dari Ranah Minang, ia dikenal memiliki keberanian luar biasa dalam menyampaikan kritik konstruktif kepada pemerintah jika menyangkut ketidakadilan ekonomi.

Pimpinan MUI Tiga Periode Berturut-turut

Kepercayaan umat kepadanya sangat fenomenal, yang dibuktikan dengan mandat sebagai pimpinan tinggi MUI selama tiga periode berturut-turut—sebuah pencapaian langka yang menunjukkan betapa kuatnya integritas beliau di mata publik.

Kepopuleran Anwar Abbas bukan hanya karena posisinya di MUI, tetapi juga karena kiprahnya di tingkat internasional. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional (IICL), di mana ia membawa nilai-nilai keadilan ekonomi universal.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di setiap forum, beliau tetap membawa identitasnya sebagai orang Minang yang egaliter; berani berdebat dengan argumen data yang kuat namun tetap berlandaskan moralitas agama yang inklusif. Baginya, ekonomi syariah bukan sekadar teori, melainkan alat untuk memutus rantai kemiskinan masyarakat kecil secara nyata.

Meski kini telah pensiun dari tugas kedosenan sejak 2020, semangat “Ulama-Intelektual” ini tetap menyala. Di balik sosoknya yang tampak tanpa kompromi jika bicara soal kebenaran, ia adalah seorang ayah yang bersahaja bagi ketiga anaknya dan suami yang setia bagi Nurlaili. Ia menjadi inspirasi bagi banyak pemuda Minang bahwa dari sebuah nagari kecil di Sumatera Barat, seseorang bisa menjadi kompas moral dan ekonomi bagi bangsa sebesar Indonesia.

Kisah Anwar Abbas memberikan pelajaran bahwa identitas daerah dan kedalaman ilmu adalah perpaduan yang hebat untuk membangun bangsa. Beliau membuktikan bahwa prinsip hidup orang Minang yang gigih dan berani bersuara adalah aset berharga dalam menjaga marwah umat dan keadilan sosial. Hingga hari ini, di tahun 2026, suaranya tetap menjadi salah satu yang paling dinanti dalam setiap diskursus ekonomi syariah nasional. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu