Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) kembali memperlihatkan komitmennya dalam membentuk generasi Islam berkemajuan melalui program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat dan arus informasi yang tidak terbendung, kampus merasa perlu menghadirkan ruang pembinaan spiritual yang kuat agar mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh.
Program BTQ menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Di era digital saat ini, mahasiswa dituntut untuk mampu mengakses teknologi, memahami perkembangan artificial intelligence, dan menghadapi dinamika dunia industri yang serba cepat. Namun, di balik kecanggihan tersebut, tantangan moral juga ikut meningkat.
Banyak mahasiswa yang larut dalam media sosial, game online, hiburan daring, dan budaya instan sehingga tak jarang melupakan nilai-nilai dasar yang menjadi landasan hidup. Maka dari itulah, BTQ hadir sebagai pengingat sekaligus penopang agar mahasiswa tetap terkoneksi dengan Al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan.
Program BTQ tahun ini diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) UM Surabaya dan diikuti seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas, mulai dari teknik, kesehatan, ekonomi, hingga keguruan.
Meski bersifat wajib, kegiatan ini tidak hanya dipahami sebagai syarat administrasi untuk yudisium, melainkan sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan agar kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an tetap hidup di kalangan mahasiswa.
LPAIK menegaskan bahwa pembinaan Al-Qur’an bukan hal yang bisa dikerjakan secara instan atau sekadar formalitas. Kampus ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa Muhammadiyah memiliki fondasi spiritual yang cukup untuk menyikapi perkembangan zaman.
Mahasiswa yang cakap teknologi tetapi jauh dari nilai Qur’ani dikhawatirkan kehilangan arah dan mudah terjebak dalam arus negatif digital. Maka dari itu, BTQ dianggap sebagai bagian penting dari usaha menjaga identitas mahasiswa Muhammadiyah sebagai generasi yang unggul namun tetap rendah hati dan berakhlak mulia.
Selain sebagai program pembinaan, BTQ juga menjadi sarana memperkuat kultur kampus. UM Surabaya ingin menanamkan bahwa literasi Al-Qur’an bukan hanya kemampuan ibadah, tetapi juga kemampuan yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan bersikap.
Mahasiswa yang rajin membaca Al-Qur’an biasanya memiliki ketenangan batin, pola pikir lebih tertata, serta lebih mudah menjaga etika dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan begitu, BTQ bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan rutin, tetapi menjadi bagian dari upaya kampus menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual yang seimbang.
UM Surabaya berharap melalui program ini, mahasiswa mampu melihat bahwa kecanggihan teknologi tanpa nilai keimanan tidak akan menghasilkan pribadi yang utuh.
Landasan Pelaksanaan
Pelaksanaan BTQ mengacu pada Surat Keputusan Rektor Nomor 0075/KEP/II.3.AU/A.1/2023 tentang Kewajiban Baca Tulis Al-Qur’an bagi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dalam SK tersebut, mahasiswa diwajibkan mengikuti proses BTQ dari awal hingga akhir sebagai syarat wajib untuk yudisium dan kelulusan.
Kepala LPAIK, Dr. Mukayat Al Amin, S.Sos., M.Sosio., menjelaskan bahwa program BTQ tahun ini dirancang lebih sistematis, terstruktur, dan terukur.
“Generasi sekarang harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap menjaga akhlak. BTQ adalah cara kami menyeimbangkan keduanya. Mahasiswa perlu literasi digital, tapi juga literasi Qur’ani,” ujarnya pada Kamis (20/11/2025).
Tahapan Pelaksanaan
Berdasarkan surat resmi LPAIK Nomor 1700/II.2.AU/LPAIK/A.1/2025, rangkaian kegiatan BTQ berlangsung dari 6 November 2025 hingga 19 Januari 2026. Adapun rangkaiannya meliputi:
1. Sosialisasi di tiap fakultas.
2. Pendaftaran dan placement test.
3. Tes penentuan tingkat kemampuan mahasiswa.
4. Mentoring BTQ bagi mahasiswa yang belum memenuhi standar.
5. Final test.
6. Pengumuman hasil akhir dan penerbitan sertifikat BTQ.
Setiap mahasiswa yang belum dinyatakan lulus pada tahap awal diwajibkan mengikuti mentoring intensif selama kurang lebih satu bulan.
Mentoring dilakukan dalam kelompok kecil sehingga mahasiswa bisa belajar dengan lebih nyaman dan mudah memahami perbaikan bacaannya.
Makna dan Manfaat Program BTQ
BTQ tidak hanya membentuk kemampuan dasar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas mahasiswa Muhammadiyah.
Nilai-nilai Qur’ani seperti kedisiplinan, kejujuran, kesabaran, dan ketelitian dianggap sangat relevan dalam kehidupan akademik maupun profesi.
Program ini juga membantu mahasiswa untuk rutin membaca Al-Qur’an, memahami tajwid secara lebih baik, memperbaiki tulisan Arab dasar, dan memperkuat karakter diri di tengah tantangan era digital.
Dengan demikian, BTQ tidak berdiri sendiri sebagai program keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek pembentukan mental dan moral mahasiswa.
Kaprodi Teknik Sipil, Anna Rosytha, S.T., M.T., memberikan dukungan. Ia menegaskan pentingnya BTQ bagi mahasiswa teknik sebagai bagian dari dukungan akademik.
“Mahasiswa teknik itu nanti bekerja dengan tanggung jawab besar. Mereka berkaitan dengan keselamatan banyak orang. Kalau karakter tidak kuat, maka profesionalitas juga tidak kuat. BTQ membantu menanamkan nilai-nilai itu,” tegasnya.
Anna juga menegaskan bahwa mahasiswa Teknik Sipil, meskipun sehari-hari belajar hitungan, desain struktur, dan analisis teknis, tetap membutuhkan pijakan spiritual.
Menurutnya, kemampuan berpikir jernih dan akhlak yang baik sangat dipengaruhi oleh kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an.
“BTQ ini bukan hanya tes. Ini pembiasaan. Saya ingin mahasiswa Teknik Sipil UM Surabaya punya ciri khas: pintar, terampil, tapi juga Qur’ani,” tambahnya.
Sementara itu, beberapa mahasiswa Teknik Sipil juga memberikan masukan agar BTQ menjadi lebih menarik dan efektif.
Sementara itu, beberapa mahasiswa Teknik Sipil juga memberikan masukan agar kegiatan BTQ menjadi lebih menarik dan efektif. Saran mereka antara lain:
• Mentoring dibuat dalam kelompok yang lebih kecil agar mahasiswa pemula merasa lebih percaya diri.
• Ditambah sesi pembahasan makna ayat, tidak hanya fokus pada membaca.
• Diberikan contoh penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam bidang teknik, seperti kejujuran dalam perhitungan struktur, disiplin dalam pengerjaan proyek, dan amanah terhadap keselamatan publik.
• Diadakan kelas tahsin khusus bagi pemula agar mereka tidak merasa tertinggal.
Mereka berharap BTQ tidak dipandang sebagai beban, tetapi sebagai ruang untuk memperbaiki diri secara konsisten.
Harapan dan Rencana ke Depan
LPAIK berharap, kegiatan BTQ semakin berkembang dari tahun ke tahun. Tidak hanya sebatas program wajib, tetapi benar-benar menjadi budaya kampus yang hidup di setiap sudut lingkungan akademik.
LPAIK menilai bahwa pembinaan spiritual tidak boleh hanya berlangsung saat tes atau mentoring, tetapi harus hadir dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.
Maka dari itu, UM Surabaya berencana memperkuat kerja sama dengan seluruh fakultas agar pelaksanaan mentoring lebih efektif. Fakultas Teknik, Kesehatan, Ekonomi, hingga Keguruan didorong untuk ikut menanamkan nilai Qur’ani dalam kegiatan akademik mereka.
Dengan kolaborasi ini, BTQ tidak hanya menjadi program LPAIK, melainkan menjadi komitmen bersama seluruh civitas akademika.
Tidak hanya itu, LPAIK juga mempertimbangkan untuk menghadirkan program lanjutan seperti kelas tahsin lanjutan, kajian makna ayat per jurusan, dan integrasi nilai Al-Qur’an dalam setiap mata kuliah tertentu.
Langkah ini diyakini dapat membangun suasana religius yang moderat, cerdas, dan sesuai dengan karakter Muhammadiyah.
Harapannya, nilai-nilai Qur’ani yang ditanamkan melalui BTQ mampu membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian kuat, jujur, amanah, dan berdisiplin tinggi.
Sikap-sikap ini sangat dibutuhkan di dunia kerja, terlebih bagi mahasiswa teknik yang kelak terjun dalam proyek konstruksi, perhitungan struktur, dan penjaminan keselamatan publik.
UM Surabaya menegaskan bahwa tujuan jangka panjang BTQ adalah mencetak lulusan yang mampu menyeimbangkan kemampuan intelektual, keterampilan teknologi, dan kedalaman spiritual.
Mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk pintar dalam hitungan, analisis, dan teori, tetapi juga mampu membawa nilai Qur’ani dalam setiap langkah profesinya.
Dengan adanya program BTQ, UM Surabaya memperkuat identitasnya sebagai kampus Islam berkemajuan.
Kampus ini ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa yang lulus tidak hanya membawa gelar sarjana, tetapi juga membawa karakter Qur’ani yang tertanam kuat dalam dirinya sebagai insan berilmu, berakhlak, dan berjiwa Qur’ani sesuai nilai-nilai Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments