
PWMU.CO – Dalam sambutannya, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Wonokromo Surabaya, Muhammad Ali Fuad SPd menyampaikan keprihatinannya terhadap program pengentasan anak nakal Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat pada Selasa (23/6/2026).
Sambutan tersebut disampaikan di kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) guru kelas semua fase yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di Kecamatan Wonokromo.
Kegiatan ini ditekankan pada pendekatan Pembelajaran Deep Learning: Penerapan dalam Pembelajaran bagi guru kelas untuk menyongsong Tahun Pelajaran 2025/2026.
Sebelum sesi penyampaian materi, kegiatan diawali dengan Opening Ceremony.
Pengawas Kecamatan Wonokromo sebelumnya, Bunda Budiarti, telah memasuki masa purna tugas. Kini, posisinya digantikan oleh Abah Abdul Khoir MPd.
“Bunda itu maknanya kasih sayang, sedangkan Abah itu maknanya pelindung,” ungkap Muhammad Ali Fuad, yang disambut tepuk tangan para peserta KKG.
Selanjutnya, dalam sambutannya ia menyitir Q.S. Ibrahim 37
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menunjukkan rasa cintanya kepada keluarga dan masyarakat umatnya. Nabi Ibrahim berdoa di gurun pasir yang tidak ada kehidupan, agar Allah melimpahkan rezeki kepada penduduk yang ada di gurun pasir itu.
Karena keikhlasan dan kecintaannya terhadap masyarakat dan keluarganya, Allah mengabulkan doanya. Allah menjadikan gurun pasir itu sebagai tempat yang penuh berkah dan menjadi tujuan masyarakat dari berbagai penjuru.
“Bagi Bapak-Ibu guru yang pernah ke Tanah Suci, apa yang tidak ada di sana? Semua hasil alam dari Indonesia ada di sana,” ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, kita sebagai guru yang dicintai murid, harus lebih mencintai mereka melebihi cinta mereka kepada kita.
“Jangan buru-buru pulang sebelum muridnya pulang,” candanya.
Dia juga menyinggung program KDM, Gubernur Jawa Barat, yang mengumpulkan dan mengirimkan anak-anak nakal ke barak militer, seolah-olah peran guru diabaikan.
“Seharusnya kita malu sebagai guru. Anak-anak hebat itu adalah tanggung jawab kita,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa seharusnya program KDM itu kita lawan dengan tindakan nyata, masa seolah-olah yang pintar itu cuma tentara.
Fuad, panggilan akrab Muhammad Ali Fuad, menceritakan bahwa di Surabaya tidak ada anak nakal. Terbukti, ketika ia diminta oleh Pak Camat untuk mendata anak-anak nakal melalui Google Form, tidak satu pun yang ditemukan.
“Mengapa tidak ditemukan? Karena tidak ada yang mengisi Google Form yang saya kirimkan,” ujarnya sambil bercanda, mengakhiri sambutannya yang disambut gelak tawa para peserta KKG.
Agenda dilanjutkan dengan penyampaian materi Pendekatan Pembelajaran Deep Learning: Penerapan dalam Pembelajaran, yang dipandu oleh pengawas sekolah, Abdul Khoir yang akrab disapa Abah Coi. (*)
Penulis Basirun Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments