Di hari-hari biasa, kita sering kali menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama sejawat. Tidak ada yang salah dengan aktivitas mengobrol sebagai bentuk keakraban dan interaksi sosial. Namun, jika terlalu asyik mengobrol, lama-lama kita bisa mengarah ke aktivitas lain yang bisa saja berpotensi negatif, misalnya menggibah, bahkan menggunjing.
Obrolan yang awalnya terasa ringan dan seru bisa menghanyutkan pada topik-topik yang tanpa disadari berpotensi dosa. Hal ini juga kerap terjadi dalam aktivitas kita di media sosial atau platform digital lainnya. Entah itu di Instagram, TikTok, Facebook, atau di grup WA.
Menahan mulut untuk tidak membicarakan orang lain mungkin relatif mudah. Sebagaimana Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk menjaga lisan dari kegiatan tidak perlu, sia-sia, dan berpotensi mengandung dosa atau berbagai kemaksiatan.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Lisan memang bisa lebih tajam daripada pedang. Luka akibat sayatan benda tajam bisa sembuh dengan lekas jika diobati. Namun, sakit hati karena “sayatan” lisan, bisa begitu mendalam, traumatis, bahkan hingga menjadi dendam seumur hidup.
Sebab itulah, kualitas ucapan lisan menjadi cerminan akhlak seorang Muslim. Dua hal ini pulalah yang menjadi ciri kita telah menjadi Muslim yang beriman dan bertakwa.
Dalam hadis tersebut kita diperintahkan dua hal. Pertama, berkata baik, yang dapat mencakup konten perkataannya yang baik-baik sekaligus cara menyampaikannya dengan baik.
Kedua, diam, sebagai konsekuensi ketika dirasa kita tidak atau belum mampu melakukan perintah pertama tadi. Diam itu emas tatkala ia dilakukan di waktu yang tepat.
Dari Lisan ke Jempol
Bukan hanya lisan, tantangan yang terjadi saat ini, kita juga harus menjaga jempol kita. Jika lidah yang tak bertulang saja bisa amat berbahaya akibatnya. Bagaimana dengan jari kita yang kadang bergerak seperti mesin autopilot? Ia bisa mengetik apa saja di layar gawai kita.
Ya, di era sekarang, berkata-kata bukan hanya menjadi pekerjaan lisan. Jempol dengan fasilitas perangkat gawai dan jejaring internet bisa menjadi penyambung lidah kita di ruang publik. Oleh karenanya, hal ini perlu kita perhatikan.
Keberadaan media sosial saat ini sama halnya seperti kerumunan warga. Tidak saling kenal, tapi banyak nimbrung berbagai obrolan. Jika setiap kata yang kita bubuhkan di sana viral, kemudian melukai seseorang, bayangkan apa yang terjadi. Tidak hanya merugikan orang lain, di sana juga bisa terjadi selisih paham yang berujung pertikaian.
Ibadah puasa sejatinya menempa kita untuk bisa menahan diri, bukan hanya dari rasa lapar, haus, dan nafsu syahwat. Ibadah puasa mendidik kita untuk “puasa” melakukan segala hal yang tidak perlu, sia-sia, dan berpotensi dosa.
Tentu, meninggalkan kebiasaan yang sudah seperti kewajaran sangat berat rasanya. Namun, jika kita mau memulai, insya Allah akan dimudahkan.
Sebab itulah, kita punya waktu sebulan penuh selama berpuasa. Jadikan ini sebagai ajang latihan menahan diri dari berbagai hal yang negatif. Termasuk melatih jempol kita untuk tidak menaruh komentar-komentar atau berkata-kata yang tidak perlu.
Daripada energinya digunakan untuk hal-hal negatif, bukankah lebih baik kita gunakan untuk membuat hal yang mungkin ada manfaatnya. Misalnya, catatan harian, mencatat poin-poin penting pengajian dan maklumat yang disampaikan khotib saat Tarawih, menulis menu makan sahur, atau hal positif lainnya.
Mari puasakan diri kita dari perbuatan berkata-kata yang tidak perlu.
2 Ramadan 1447 Hijriyah






0 Tanggapan
Empty Comments