Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Puasa Sebagai Ibadah Rahasia: Melatih Ikhlas dan Jujur dalam Hidup Sehari-hari

Iklan Landscape Smamda
Puasa Sebagai Ibadah Rahasia: Melatih Ikhlas dan Jujur dalam Hidup Sehari-hari
Dr. Syamsuddin Wakil Ketua PWM Jatim
Oleh : Oleh: Dr. Syamsuddin Wakil Ketua PWM Jatim
pwmu.co -

Ibadah puasa relatif berbeda dengan ibadah lainnya. Ia dikenal sebagai ibadah rahasia atau sirriah. Disebut demikian karena yang mengetahui seseorang berpuasa hanyalah yang bersangkutan dan Allah SWT.

Kita hidup di era di mana hampir setiap orang memegang HP dengan kamera canggih. Sehingga momen-momen penting dalam hidup bisa diabadikan lewat kamera HP. Bahkan peristiwa-peristiwa yang seharusnya tidak perlu diabadikan, kerap dijepret. Orang yang menunaikan ibadah umroh bisa selfie (pamer), tadarus, i’tikaf, bahkan shalat malam pun tidak lepas dari selfie, yang kemudian di-share di media sosial.

Namun lain halnya dengan puasa. Seseorang tidak bisa selfie puasanya, atau memamerkannya di media sosial. Dengan demikian, ibadah puasa adalah media yang melatih seseorang untuk berlaku ikhlas dan jujur. Dalam keadaan apapun, orang yang berpuasa tidak akan makan dan minum, dilihat orang atau tidak, karena ia yakin hanya Allah yang mengetahui ibadahnya. Orang yang berpuasa sejatinya sedang dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Jika keyakinan ini dijaga terus menerus, sangat mungkin “madrasah Ramadhan” akan membentuk manusia yang ikhlas dan jujur, jauh dari riya’ dan sum’ah. Jika nilai kejujuran ini sudah terbentuk dalam jiwa, maka penyimpangan moral dalam tata pergaulan sosial, politik, dan ekonomi dapat diminimalkan.

Riya’ dan Sum’ah dalam Konsep Akhlak Islam

Dalam konsep akhlak Islam, riya’ dan sum’ah diidentifikasi sebagai perbuatan buruk. Keduanya termasuk penyakit hati yang merusak amal kebaikan seseorang:

  • Riya’ berasal dari kata ru’yah yang berarti penglihatan. Dalam ilmu akhlak, riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian orang agar mereka memuji dan menyanjung diri pelaku.
  • Sum’ah adalah melakukan kebaikan agar terdengar orang lain, sehingga pelaku tersohor sebagai orang saleh.

Antara riya’ dan sum’ah tidak jauh berbeda. Bedanya, riya’ berkaitan dengan indra penglihatan, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra pendengaran.

Nabi Muhammad SAW dan Peringatan tentang Riya’

Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa setelah agama Islam kuat dan banyak pengikutnya, beliau tidak khawatir umatnya kembali kepada syirik besar. Namun beliau khawatir umatnya terjebak dalam syirik kecil, yaitu riya’. Disebut syirik kecil karena menduakan Allah dalam tujuan ibadah. Orang yang riya’ tidak memurnikan niat semata-mata untuk Allah, melainkan menjadikan manusia sebagai tujuan ibadahnya, baik sebagian atau seluruhnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Dari Mahmud bin Labid berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ia adalah riya’ (HR. Ahmad, nomor 22528).

Riya’ sering kali halus, sehingga disebut juga sebagai syirik khafi (tersembunyi). Ia terjadi dalam hati dan sulit dideteksi, bahkan digambarkan lebih samar daripada jejak semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam. Disebut “kecil” karena tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam atau menjadi kafir, berbeda dengan syirik besar. Namun demikian, riya’ tetap berbahaya karena berpotensi menghancurkan nilai ibadah, menjadikannya sia-sia, dan mendatangkan murka Allah.

Tanda-Tanda Riya’ Menurut Ali bin Abi Thalib

Amirul Mukmini Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan terdapat tiga tanda orang yang riya’ dalam amalnya:

  1. Apabila sendirian, ia malas beramal, namun di tengah khalayak ramai semangatnya menggebu.
  2. Apabila mendapat sanjungan, amal kebaikannya bertambah banyak.
  3. Apabila tidak ada sanjungan, amal kebaikannya berkurang.

(Syarah Ihya’, VIII/266)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡